

Nov
08
Kalau kamu sayang sama Tuhan yang Maha Asyik, mestinya kan menjadikan dirimu sebagai eksekutor[1] kehendak Tuhan di dunia. Tuhan tidak langsung bersedekah ke orang-orang, melalui kalianlah Dia bersedekah. Bukankah kalian wakilnya? [2]
Masa sih kalau sudah gitu Tuhan tidak membalas cintamu? Tapi, Tuhan juga tidak akan membelai langsung rambutmu. Dia akan menyayangi dan mencintaimu melalui perantara “wakil”Nya juga. Semoga Tuhan berkenan untuk mempertemukan dirimu dengan orang-orang yang Dia pilihkan untukmu. Berdoalah.
Tapi jangan kebablasan! Jangan sampai rasa sayangmu pada “wakil” Tuhan itu melebihi rasa sayangmu pada Tuhan. Tuhan Maha Pencemburu[3]. Adakah dosa yang lebih besar daripada mencintai selain Tuhan?
[dari tulisan Sudjiwo Tedjo - diedit seperlunya]
-----------------------
1. Hadist Qudsi: ""Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku pun mencintainya. Bila Aku menciatainya maka jadilah Aku sebagai telinganya yang dia mendengar dengannya, mata yang dia melihat dengannya, tangan yang dia memegang sesuatu dengannya, dan kaki yang dia berjalan dengannya. (H.R. Al Bukhari)
2. "Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi”. (QS Al-Baqarah : 30) ; “Wahai Daud ! Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu sebagai seorang khalifah di bumi. Maka hukumilah manusia dengan haq. Dan janganlah memperturutkan hawa nafsu sehingga ia menyesatkan kamu dari jalan Allah”. (QS Shaad: 26)
3. "Rasulullah saw bersabda; "Wahai umat Muhammad! Demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah, melebihi kecemburuan seorang laki-laki atau wanita yang berzina. Wahai umat Muhammad! Demi Allah, seandainya kamu mengetahui apa yang saya ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis." (Shahih Muslim No.1499)
(read more ...)
Nov
08
Rasul saw berkata “Tiga hal yang dicintakan kepadaku di dunia ini dari duniamu, wanita, wewangian dan kenikmatan dalam sholat”. Beliau memulai dengan wanita dan mengakhirkan dengan sholat.
Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, maka … kecenderungan hati wanita terhadap pria adalah karena wanita tercipta dari tulang rusuknya. Ketika Hawa ‘diambil’ dari Adam, Tuhan mengisi ruang kosong itu(Adam) dengan keinginan terhadapnya(Hawa), sebab eksistensi tidak membiarkan suatu kekosongan. Ketika kekosongan itu diisi dengan 'Hawa', Adam cenderung kepada Hawa, sebagaimana ia cenderung pada dirinya sendiri, sebab Hawa adalah bagian dari dirinya, dan Hawa cenderung terhadap Adam karena Adam adalah tempat asal konfigurasinya. Maka, cinta Hawa adalah cinta akan asalnya, sementara cinta Adam adalah cinta pada dirinya sendiri.
Ketika Allah berfirman “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya” (QS. As Shaad [38]: 72), Tuhan menerangkan, Diri-Nya memiliki kerinduan seperti kerinduan Adam kepada Hawa. Kenapa demikian? Karena ada ruh Allah yang bersemayam dalam tubuh manusia. (Dalam sebuah riwayat, Allah berfirman kepada Daud "Daud, seandainya manusia tahu betapa Aku merindukan mereka untuk kembali, dan betapa Aku bahagia saat mereka bertobat, mereka pasti beramai-ramai mendatangi-Ku dengan perasaan cinta. Daud, ini adalah rindu-Ku terhadap orang-orang yang mau berpikir saja, lantas bagaimana cinta-Ku kepada mereka yang datang menghadap-Ku?")
Jadi, kita memiliki 3 bagian yang tersusun, Allah, pria dan wanita. Manusia(ruh yang Allah tiupkan) rindu kepada Tuhannya yang merupakan asal mulanya, sebagaimana wanita rindu pada pria. Pahamilah.
------------------------------------------------
Ketika Rasul saw bersabda “Tiga hal yang dicintakan kepadaku di dunia ini dari duniamu, wanita, wewangian dan kenikmatan dalam sholat”. Beliau mengatakan “dicintakan” bukan “aku cinta”, ini terjadi karena cinta Rasul adalah untuk Tuhannya. Cinta seperti ini, pada gilirannya akan membuat seorang pria mencintai istrinya, karena dia mencintai istrinya melalui cinta Allah atasnya, menurut pola cara Ilahi.
Jika laki-laki mengarungi kedalaman cinta wanita, maka dia akan menyaksikan Tuhan disana. Kecintaan terhadap perempuan tidak akan menyebabkan kemunduran dan kelemahan. Namun, jika seseorang mendekati wanita hanya karena hawa nafsu, dia tidak akan mengalami dorongan alamiah yang merupakan cinta Ilahi.
Bagaimanapun, sebagaimana semesta ini tidak lain adalah berawal dariNya (seperti wanita berasal dari pria) maka pria dapat merenungkan keberadaan Allah pada wanita dan pada dirinya. Karena, pada wanita, pria dapat merenungkan penghambaan (saat menghamba kepada Allah, manusia dapat meneladani sikap seorang istri dalam melayani dan mematuhi perintah suami) sekaligus penguasaan(saat menguasai, hendaknya manusia mampu meneladani Tuhan dalam mengelola alam semesta). Rasul bersabda “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku).”
Pada akhirnya, keindahan wanita dapat menjadi petunjuk inti dan terbaik untuk pria dalam mengenal jati dirinya, yang pada gilirannya untuk mengenal Tuhannya.
Rangkuman saya dari Fusus Al Hikam karya Ibnu Arabi (Hikmah Muhammad)
(read more ...)
Nov
08
Pada surat An Nisa: 34, kata rijal(laki-laki) dikaitkan dengan nisa(perempuan). Kata nisa dapat dikonotasikan sebagai feminin dan lemah lembut, sementara rijal bisa juga bermakna orang yang berjalan kaki (ya'tuka rijalan) - Al Baqarah: 239 dan Al Hajj: 27. Disini bisa ditarik kesimpulan bahwa rijal juga memiliki makna sosiologis bahwa laki - laki itu adalah manusia yang berjalan/bergerak, orang yang berusaha di ruang publik. Sedangkan perempuan adalah manusia yang tinggal di rumah.
Maka, jika ada perempuan yang lebih aktif(bergerak), maka dia menjadi rijal secara sosiologis. Sedangkan, laki-laki yang berada dirumah, maka secara sosiologis ia menjadi nisa. Pemahaman lebih lanjut, secara sosiologis siapapun yang mampu (baik laki-laki ataupun perempuan) berupaya menjadi penopang atau pengayom keluarga karena punya kelebihan, maka dia adalah rijal, meskipun secara biologis dia tetap laki-laki atau perempuan.
Di Indonesia, kita mengenal istilah "menapakkan kaki" dan "angkat kaki", maka "berjalan kaki" boleh jadi ada hubungannya dengan kemampuan memimpin, terlepas dari dia itu laki-laki atau perempuan secara biologis.
Oleh: Zaitunah Subhan - Penulis buku Perempuan dan politik dalam Islam.
Rumi mengatakan bahwa "pria" adalah seseorang yang aql dan ruh-nya mendominasi nafsnya, apapun jenis kelamin biologisnya. Sedangkan, "wanita" adalah seseorang yang aql dan ruh-nya ditaklukkan oleh dominasi negatif nafs, ketika langit telah dikuasai semena-mena oleh bumi yang "memberat"
(read more ...)
Sep
18
Dulu, saya mengira sholat Subuh adalah calon kuat dari sholat wustha (penjelasannya ada di http://jurnal.multiply.com/journal/item/290/Sholat_Wustha)
Tetapi setelah kembali membaca ayat
haafizhuu ’alaa ash-shalawaati wa ash-shalaati al-wusthaa waquumuu lillaahi qaanitiina
"Peliharalah semua shalat dan shalat wustha. Berdirilah untuk Allah dengan taat" (QS. Al Baqarah: 238)
Ayat diatas mengulang kata sholat sebanyak 2(dua) kali. Pertama, dalam bentuk jama’ (ash-sholawati) dan kedua dalam bentuk tunggal (ash-shalaati). Boleh jadi sholat wustha adalah sholat yang lain, berada diluar sholat telah kita ketahui.
Wustha secara harfiah berarti pertengahan atau berada ditengah. Ditengah apa? tengah waktu? atau ditengah diri?
Maksudnya ditengah diri? Menurut Imam Al Ghazali, manusia tersusun atas jasad, nafs dan Ruh Al Quds. Boleh jadi juga, sholat wustha adalah sholat yang dikerjakan dengan hadirnya nafs. Bukan hanya jasadnya saja yang sholat, tapi nafsnya juga.
Atau, menurut hadist Qudsi Allah berfirman “Aku telah menciptakan di dalam diri manusia sebuah "istana", di dalam istana ada "shadr", dalam shadr ada "qalb", di dalam qalb ada "fu’ad", didalam fu’ad ada "tsaqaf", di dalam tsaqab ada ..."lubb", di dalam lubb ada "sirr", dan di dalam sirr ada "AKU"."
Istana - Shadr - Qalb - Fuad - Syaghaf - Lubb - Sirr
Boleh jadi juga, sholat wustha adalah sholat yang dilakukan dengan menghadirkan fuad.
Intinya, peliharalah semua sholat dan sholat dipertengahan - (sholatnya nafs, sholatnya fuad)
wallahu alam
(read more ...)Agu
29
"Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (QS. Huud: 120) "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Qs. Yusuf: 111) Dari sekian banyak nabi yang Allah turunkan ke bumi, kenapa Al Quran hanya menceritakan sebanyak 25 orang saja? Pesan apa yang ingin Allah sampaikan kepada kita? Melalui kisah rasul Allah ini, kita dapat belajar peta perjalanan manusia dalam upayanya bertemu(liqa’) dengan Allah. Dari kisah Nabi Adam dan Idris as, kita belajar bahwa setelah manusia diciptakan, ketergelinciran-nya membuat manusia terpisah dari Tuhan. Dari kisah Nabi Nuh as, kita belajar untuk meninggalkan sifat-sifat tercela dan berlayar didunia dengan masuk kedalam bahtera syariat Dari kisah Nabi Ibrahim as dan Ismail as, kita belajar bahwa pencarian akan Tuhan tidaklah mudah dan membutuhkan pengorbanan. Berkorban dengan sesuatu yang paling kita cintai. Dari kisah Nabi Yusuf as, kita belajar mengenal keterpenjaraan nafs(diri) dalam penjara hawa nafsu dan syahwat Dari kisah Nabi Ayyub as, kita belajar bahwa keterpenjaraan ini membuat nafs kita menjadi sakit. Diperlukan upaya untuk membuatnya kembali sehat. Dari kisah Nabi Musa as dan Harun as, kita belajar bahwa setelah nafs menjadi sehat dan bebas dari perbudakan hawa nafsu dan syahwat, perjalanan kita dimulai lagi. Setelah tersesat di Mesir, kita bertolak menuju tanah yang dijanjikan (membebaskan nafs dari hawa nafsu dan syahwat menuju qalbun salim), pembebasan ini membutuhkan kebersamaan, berjamaah. Dari kisah Nabi Daus as dan Sulaiman as, kita belajar bahwa setelah berada ditanah perjanjian (qalb yang telah disucikan), kita diharuskan membangun(menghidupkan) kuil yang digunakan untuk beribadah pada Tuhan. Dari kisah Nabi Ilyas as dan Yunus as, kita belajar bahwa setelah kuil dibangun dengan peribadatan yang benar, maka kita akan mendapat limpahan cahaya Tuhan yang membuat kita tersadar bahwa ada ruh yang bersemayam dalam diri ini. Dari kisah Nabi Yahya as dan Isa as, kita belajar untuk mempersiapkan dan menyalakan ruh ini, setelah menyala, barulah kita dapat memahami misi hidup kita yang sebenarnya. Untuk kemudian berjalan menurut misi hidup itu, berada di atas Shirath al Mustaqim dan menjadi hamba yang didekatkan (Al Muqarrabun) seperti dikisahkan Nabi Muhammad saw *dari berbagai sumber
Dikutip dari buku "Cinta Bagai Anggur" - Syaikh Muzaffer Ozak Suatu hari, iblis melihat seekor domba jantan yang diikat pada sebuah pasak. Iblis kemudian menggoyang pasak itu, hal ini membuat domba menanduk-nanduk sehingga pasaknya tercabut dari tanah. Domba itu berlari masuk dalam rumah pemiliknya, dan di dinding ruang masuk ada sebuah cermin antik yang indah. Domba itu melihat bayangannya sendiri di kaca sehingga ia merunduk, mengambil ancang-ancang dan berlari menyeruduk. Cermin itu pun pecah berantakan, berkeping-keping. Mendengar ini nyonya rumah segera berlari ke asal suara dan menemukan cermin indahnya telah hancur. Cermin itu merupakan warisan keluarga, dan telah ada dirumah itu sejak bertahun-tahun lamanya. Ia berteriak ke para pelayan, “Potong leher domba itu! Sembelih!” Para pelayan pun segera memotong leher domba jantan itu(domba kesayangan suaminya). Ketika suaminya menemukan bahwa domba kesayangannya tidak lagi berkepala. Ia murka. “Siapa yang membunuh dombaku? Siapa yang berani melakukan perbuatan sesadis ini?” Istrinya balas membentak, “Aku yang menyembelihnya. Kubunuh karena dia menghancurkan cermin antik warisan orangtuaku.” Mendengar hal ini suaminya membalas, “Kalau begitu, sekarang kau kuceraikan!” Kejadian ini membuat tetangga mulai bergunjing, dari gunjingan inilah kakak si istri mendapat informasi bahwa adiknya diceraikan hanya gara-gara “potong kambing”. Tidak terima dengan keadaan ini, kakak dan adik si istri mengumpulkan seluruh sanak saudara untuk memburu si suami, lengkap dengan senapan, pistol, dan parang. Mendengar kabar ini, keluarga besar si suami lantas membela kerabatnya. Dua keluarga kemudian bertarung, banyak korban terbunuh, rumah-rumah juga banyak yang hancur. Iblis kemudian berkata “Kau lihat? Aku hanya menggoyang pasak."
Agu
12
Oleh: Alfathri Adlin *) dengan editan seperlunya
Pepatah Latin berbunyi: “non scuola sed vitae discimus”, kita belajar bukan untuk sekolah (ujian, nilai, keahlian, kepintaran, ijazah, kemudahan mendapat pekerjaan), tetapi pertama-tama untuk hidup.
Apa kiranya yang terbayangkan saat kita disodori kata “waktu senggang”? Pergi berlibur? Jalan-jalan sambil belanja di mall dan factory outlet? Pergi menonton ke bioskop? Bertamasya? Silahkan bayangkan sendiri kegiatan “waktu senggang” lainnya yang lazim bagi Anda. Namun, perhatikan lebih seksama, saat ini terlihat bahwa bayangan kita tentang waktu senggang lebih terkait dengan rekreasi. Rasanya nyaris tidak pernah “waktu senggang” dikaitkan lagi dengan reflektivitas dan kontemplasi. Sebagaimana disinyalir Bambang Sugiharto, di waktu senggang manusia kontemporer kini cenderung “pergi, ke luar dari diri menuju perangkap-perangkap eksterior”, bepergian ke tempat-tempat yang disebutkan di atas.
Adalah Josef Pieper, pemikir Jerman, yang mengamati hilangnya pemaknaan manusia kontemporer akan waktu senggang. Waktu senggang merupakan saat bagi manusia untuk “kembali kepada diri”, menikmati hidupnya sebagai manusia. Karenanya, waktu senggang di sini tidak dipahami sebagai saat untuk bermalas-malasan, karena justru merupakan waktu paling produktif. Sebagaimana dikemukakan Anton Subianto: “Aristoteles dan Thomas Aquinas berpendapat bahwa waktu senggang adalah saat di mana manusia hidup secara paling penuh. Itulah saat di mana manusia bereksistensi sesuai dengan esensinya sebagai manusia. Maka, pelenyapan waktu senggang dari kehidupan manusia merupakan penghapusan visi kemanusiaan tersebut. Padahal Aristoteles pernah berkata bahwa kita bekerja agar dapat menikmati waktu senggang.”
Sekolah dan Waktu Senggang
Skole dalam bahasa Yunani bermakna waktu senggang. Sementara dalam bahasa Latin adalah scola atau otium, yang berarti “luang” atau “rileks”. Kata skole inilah yang diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi school dan leisure. Karenanya, sekolah sebagai tempat pendidikan dan pengajaran semula memiliki konotasi “waktu senggang”.
Pada masa Yunani kuno, masyarakat polisnya terbagi menjadi dua lapisan, yaitu orang bebas dan para budak. Para budak adalah orang-orang yang tenggelam dalam aktivitas fisik berbentuk kerja kasar, di ranah praktis. Perbudakan membuat mereka tak bisa mengelaborasi waktu senggangnya seperti orang bebas. Sementara orang bebas yang mempunyai banyak waktu senggang, mempunyai kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai dimensi kehidupan manusia hingga tingkatan yang mendalam dan mendasar.
Pada zaman Helenik dan Helenistik, juga Abad Pertengahan, dikenal istilah artes liberales (keterampilan bagi orang bebas), yang mengandung pengertian bahwa suatu aktivitas dihargai dengan kehormatan. Konsep ini dipertentangkan dengan artes serviles (keterampilan bagi budak), yang mengandung pengertian bahwa suatu aktivitas dihargai dengan upah material. Artes liberales ini biasanya hanya diperuntukkan bagi kaum aristokrat dan klerik, karena merekalah yang memiliki banyak waktu senggang.
Namun, di dunia pendidikan kita saat ini, pengertian pendidikan sebagai “waktu senggang”, yaitu untuk kembali ke diri, telah lenyap.
Pendidikan lebih dipandang sebagai investasi untuk memperoleh “upah material” yang besar di kemudian hari. Bahkan, dalam salah satu pidatonya, Presiden SBY menghimbau agar para pendidik bisa mengarahkan dan menyiapkan para peserta didiknya untuk membuka lapangan kerja. Seolah pendidikan berfungsi agar menjadikan orang kaya raya. Padahal, konon 9 dari 10 pengusaha sukses bukanlah sarjana. Bahkan, banyak pedagang, baik kaki lima maupun toko kecil pinggir jalan, yang sukses mendulang untung hingga jutaan rupiah per harinya. Kasarnya, untuk sukses berdagang seperti itu, tidak lulus SD pun bukan masalah. Kini, kondisi pendidikan pun semakin diperparah dengan adanya merkantilisme, yaitu, komersialisasi pengetahuan dan informasi di era kapitalisme global.
Hal ironis lainnya ditemukan dalam salah satu liputan suplemen Kampus yang meliput tentang kebiasaan para mahasiswa di Bandung menghabiskan “waktu senggang” sesudah kuliah untuk clubbing atau nongkrong di mal dan restoran fast food. Alasan yang mereka kemukakan umumnya adalah “untuk melepaskan penat dan stress setelah kuliah seharian”. Ini sebenarnya mengherankan. Permasalahannya, mayoritas mahasiswa di Indonesia tidak dikenal sebagai pembaca buku, memiliki gairah keilmuan yang besar, atau sering mengunjungi perpustakaan. Banyak dari mereka bahkan bisa lulus menjadi sarjana tanpa pernah menamatkan satu buku keilmuan yang menjadi pilihan kuliahnya, dan skripsi yang asal jadi. Sepertinya berlebihan apabila belajar seharian di bangku kuliah telah membuat mereka sumpek dan stress.
Permasalahannya, di kalangan pendidik seringkali mengakar kuat keyakinan bahwa pendidikan bisa mencetak seseorang menjadi apa pun. Ini menyebabkan orang tidak dapat menemukan energi minimalnya. Energi minimal merupakan semacam bayangan jati diri individu. Itu merupakan kemampuan utama yang dimiliki seseorang yang mengalir mudah ketika mengerjakan sesuatu.
Karena itu, sudah seharusnya pendidikan dikembalikan kepada semangat “waktu senggang”, yaitu dalam pengertian “kembali kepada diri”. Sehingga, peserta didik mampu mengenal dirinya sendiri, mengetahui potensi diri dan hidup sesuai dengan potensi(fitrah) yang memang sudah Allah tetapkan. Tidak lagi sibuk menjadikan diri seperti tokoh idola, tokoh komik atau sesuatu diluar diri. Bukankah Allah menyuruh kita untuk bisa menemukan dan menjadi diri sendiri?
Agu
10
Bayangkan, ketika keluarga Imran yang memiliki reputasi keagamaan kuat berjanji untuk mempersembahkan anak mereka untuk Tuhan. Masa dimana hanya laki-laki yang diperbolehkan memasuki kuil Sulaiman dan menjadi pendeta. Ternyata istri Imran melahirkan anak perempuan. Sebuah ’kutukan’ telah ditetapkan kepada keluarga taat ini, masyarakat telah mengira bahwa Tuhan telah meninggalkan keluarga ini.
Bayangkan, ketika Nabi Zakaria as berjuang melawan beberapa pendeta hanya untuk membawa masuk Siti Maryam(anak yang dipercayakan keluarga Imran kepada Nabi Zakaria as) ke dalam kuil Sulaiman, kuil yang tidak pernah sekali pun disentuh perempuan.
Bayangkan, ketika masyarakat membicarakan soal keturunan Nabi Zakaria as, seorang dengan segala sikapnya yang cenderung melawan ’kearifan’ yang saat itu tengah berkembang, tidak mempunyai penerus. Sepertinya Tuhan telah meninggalkan beliau, benarkah?
Bayangkan, bagaimana sulitnya Nabi Zakaria as memberitakan kepada para pendeta bahwa Siti Maryam telah mendengar wahyu dari Tuhan secara langsung, masa disaat agama sangat didominasi oleh kaum laki-laki. Masa dimana para pendeta percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah berbicara dengan perempuan. TIDAK AKAN PERNAH!!!
Bayangkan, ketika Siti Maryam, perempuan yang menimbulkan kegemparan di kuil Sulaiman tiba-tiba mengandung? Pendeta perempuan yang tidak menikah...HAMIL.
Lihatlah bagaimana Tuhan bertindak sekehendakNya, jauh dari nalar, tidak bisa dibayangkan.
Isa al-Masih berkata: "Bukan sebagaimana yang kuinginkan, melainkan sebagaimana yang KAU inginkan. Bukan sebagaimana yang kuharapkan, melainkan sebagaimana yang KAU harapkan."
Nabi yang datang untuk mengajarkan Kebenaran Tuhan itu banyak, dan mereka hanya mengajar tentang Satu Tuhan dan perintah-Nya. Tetapi orang-orang memandang tingkat kearifan para nabi, mulai memuja pemisahan, dan menciptakan perbedaan agama disebabkan oleh pemisahan ini. Ada perbedaan renungan dan perbedaan dalam doa. Perlombaan yang dibagi menjadi banyak ras, Satu Tuhan dibuat menjadi banyak tuhan, satu-satunya kebenaran menjadi terlupakan dan terbagi menjadi banyak dusta, dan semua ini mereka yakini dengan ketaatan.
Kebenaran dari satu tuhan dan satu keluarga berubah, dan banyak puluhan juta agama, puluhan juta ras, banyak puluhan juta tulisan suci, puluhan juta jenis ibadah, puluhan juta jenis doa, puluhan jutaan mukjizat macam dimulai. (Bawa Muhaiyaddeen)
Kesadaran Nabi Ibrahim as akan Tuhan terbentuk ketika beliau melihat semesta. Laa ilaaha illa huwa - Tidak ada Tuhan selain Dia. Disaat kita hidup dan berhadapan dengan segala problematikanya, dzikr inilah yang sebaiknya ditanamkan dalam hati, bahwa Tuhan ada dimana-mana, Dia-lah yang mengatur segala keadaan ini, semua terjadi atas perkenanNya.
Nabi Musa as bertemu dengan Tuhan ketika beliau melihat api diatas bukit, disanalah Allah menyapanya. Laa ilaaha illa anta - Tidak ada Tuhan selain Engkau. Disaat kita sholat, dzikr inilah yang sebaiknya ditanamkan dalam hati, bahwa Tuhan ada tepat dihadapan kita, dan kita sedang bercakap-cakap denganNya, sama seperti saat Musa as bertemu di bukit itu.
Dan, ketika Nabi Isa as berkata "Aku adalah hamba Allah dan kalimahNya". Beliau sampai pada kesadaran bahwa Allah juga berada dalam dirinya. Laa ilaaha illa ana - Tidak ada Tuhan selain Aku. Ini terjadi jika kita telah terserap sepenuhnya kedalam asmaNya, maka segalanya akan hilang. Yang ada hanyalah Allah. DIA Maha meliputi segala sesuatu, tetapi tiada satupun yang menyerupai DIA. Ketika kita merasa sendiri, tidak ada satu pun yang dapat membantu kita dalam menghadapi permasalahan yang tengah kita hadapi, dzikr inilah yang sebaiknya ditanamkan, bahwa Tuhan selalu menemani kita, selalu ada dihati kita, mengetahui segala sesuatu yang ada dalam diri kita, bahwa Dia lebih dekat daripada urat leher.
Sampai datangnya Nabi Muhammad saw dengan kesadaran penutup bahwa Dia adalah Allah(Allah memperkenalkan diriNya). Laa ilaaha illa Allah - Tidak ada Tuhan selain Allah. Setelah kita mengalami semua kejadian diatas, kita akan semakin mengenalNya ... sebatas Dia memperkenalkan diriNya kepada kita. Bahwa Dia-lah Allah Ta’ala.
“... dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali—kali menceritakan hal ini kepada seorangpun”. (QS. Al Kahfi: 19)
“... janganlah kamu ceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaramu, karena mereka akan menganiaya dirimu..." (QS. Yusuf: 5)
“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui perihalmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu (mencaci maki) atau memaksamu kembali kepada millah mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung untuk selama-lamanya”. (QS. Al Kahfi: 20)
Abu Hurairah berkata "Aku menyimpan ilmu dari Rasulullah saw pada dua wadah. Yang satu aku sebarkan dan sampaikan, yang satu lagi sekiranya aku sampaikan maka akan terputuslah tenggorokan ini" HR. Bukhari no. 117
Syech Abdul Qodir Jaelani berkata "Jangan merasa senang dengan ciptaan, jangan menyenanginya, dan jangan menceritakan hal ihwalmu kepada siapa pun. Cintamu harus kau tujukan hanya kepada-Nya, merasa senanglah dengan-Nya dan mengeluhlah hanya kepada-Nya.
Tetapi, jangan menghalangi ilmu (untuk dibicarakan) dengan ahlinya, karena Anda bisa berdosa. Dan jangan pula membicarakannya dengan orang yang bukan ahlinya, karena Anda bisa berdosa (pula). (Asy-Sya’bi)
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Baqarah: 159-160)
(read more ...)Jul
31
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu shiyaam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu tattaquun," (QS. AL Baqarah : 183)
Al Quran menjelaskan bahwa tujuan shiyaam adalah supaya kita menjadi tattaquun. Tattaqun berasal dari ittaqa yang berarti “menjaga sesuatu dari apa yang membahayakan dan melukai” atau “menjaga diri dari apa yang dikhawatirkan akan berakibat buruk pada dirinya(baik didunia maupun akhirat).”
Shiyaam sendiri bermakna menahan, dan orang yang menahan diri disebut Shaim
Shiyaam(puasa) membuat kita tidak lagi menuruti keinginan jiwa dan raga. "Diri ini" untuk sementara menahan keinginan jiwa dan raga selama beberapa waktu.
Rasul bersabda, ”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528,Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi).
Selama kita berpuasa, jiwa dan raga kita tidak lagi mendominasi, yang tersisa hanyalah "diri". Diri yang sudah terlepas dari pengaruh jiwa dan raga.
Imam an-Nifari berkata, bahwa Allah berseru pada hamba-Nya,
“Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu!. Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!
Engkau melihat kepada amal perbuatanmu, walau baik sekalipun, tak layak bagi-KU untuk memandangnya. Maka janganlah engkau masuk kepada-KU besertanya!
Sesungguhnya, jika engkau mendatangi-KU berbekal amal perbuatanmu, maka akan AKU sambut dengan penagihan dan perhitungan. Jika engkau mendatangi-KU berbekal ilmu, maka akan AKU sambut dengan tuntutan! Dan jika engkau mendatangi-KU dengan ma’rifat, maka sambutan-KU adalah hujjah, padahal hujjah-KU pastilah tak terkalahkan.
Hendaklah engkau singkirkan ikhtiar (ikut mengatur dan menentukan kehendak-Nya untuk dirimu), pasti akan AKU singkirkan darimu tuntutan. Hendaklah engkau tanggalkan ilmumu, amalmu, ma’rifat-mu, sifatmu dan asma (nama) mu dan segala yang ada (ketika mendatangi-KU), supaya engkau bertemu dengan AKU seorang diri.
Bila engkau menemui-KU, dan masih ada diantara AKU dan engkau salah satu dari hal-hal itu, —padahal AKU-lah yang menciptakan semua itu, dan telah AKU singkirkan semua itu darimu karena cinta-KU untuk mendekat kepadamu, sehingga janganlah membawa semua itu ketika mendatangi-KU—, jika masih saja engkau demikian, maka tiada lagi kebaikanmu yang tersisa darimu.
Kalau saja engkau mengetahui, ketika engkau memasuki-KU, pastilah engkau bahkan akan memisahkan diri dari para malaikat, sekalipun mereka semua saling bahu-membahu untuk membantumu, karena keraguanmu itu (bahwa ada penolongmu dihadapan-Nya selain-Nya), maka hendaklah jangan ada lagi penolong selain AKU.
Jangan pernah engkau melangkah ke luar rumah tanpa mengharap keridhaan-KU, sebab AKU-lah yang menunggumu (di luar rumah) untuk menjadi penuntunmu.
Temuilah AKU dalam kesendirianmu, sekali atau dua kali setelah engkau menyelesaikah shalatmu, niscaya akan AKU jaga engkau di siang dan malam harimu, akan AKU jaga pula hatimu, akan AKU jaga pula urusanmu, dan juga keteguhan kehendakmu.
Tahukah engkau bagaimana caranya engkau datang menemui-KU seorang diri? Hendaknya engkau menyaksikan bahwa sampainya hidayah-KU kepadamu adalah karena kepemurahan-KU. Bukan amalmu yang menyebabkan engkau menerima ampunan-KU, bukan pula ilmumu.
Kembalikan pada-KU buku-buku ilmu pengetahuanmu, pulangkan pada-KU catatan-catatan amalmu, niscaya akan AKU buka dengan kedua tangan-KU, Kubuat ia berbuah dengan pemberkatan-KU, dan akan kulebihkan semuanya itu karena kepemurahan-KU.”
Kondisi pelepasan diri dari pengaruh jiwa dan raganya adalah ’kondisi kematian’. Inilah waktu dimana ’budak hawa nafsu’ melahirkan ’majikan sebenarnya’. Waktu ketika jiwa dan raga mengalami sa’ah (kiamat), sehingga diri mampu berkomunikasi dengan Rabbnya.
Rasulullah saw ditanya oleh Jibril tentang tanda-tanda sa’ah, lalu beliau menjawab, "(ketika)Seorang budak melahirkan majikannya..." (HR Muslim)
* dari berbagai sumber
Jul
29
Imam Ali k.w. pernah ditanya: Wahai Amirul Mu’minin, apakah Anda mengingat hari alastu birabbikum? Ia menjawab: "Ya, aku masih mengingatnya, dan aku mengingat siapa yang berada di samping kanan dan samping kiriku"!.
Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?
Dari apakah Allah menciptakannya?
Dari nutfah(nutfah laki-laki dan nutfah perempuan), Allah menciptakannya lalu menentukannya
Kemudian Dia memudahkan "jalannya" (sabila)
kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,
kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
(tetapi)Sekali-kali jangan; (karena)manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya
(QS. Abasa: 18 - 23)
Apa yang Allah perintahkan? Ingatkah kita kalau Allah memberi kita perintah? Kapan?
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?"(QS. Al A’raf: 172)
Masihkah kita menjadi sibuk dengan apa yang ada diluar diri ini?
Bahkan kita sendiri belum mengetahui tujuan penciptaan kita.
Tugas khusus yang dibebankan, yang sesuai dengan kelebihan dan kekurangan kita.
Mau menegakkan Negara Islam?
Mendirikan khilafah?
Mengejar harta?
Membahas keburukan orang lain?
Itukah tugas kita yang sebenarnya?
BENARKAH??? ARE YOU SURE??? Beneran tau apa sok tau?
Kata hati atau hawa nafsu??
Tenangkah jiwamu? Tenangkah kehidupanmu? Tidakkah capek?
Pikirkanlah dengan tenang, mendalam.
Jul
28
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus(misykaah), yang di dalamnya ada pelita besar(mishbaah). Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara(zujaajah), yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35)
Abu Ja�far ar-Razi meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab ra. Beliau (Ubay bin Ka�ab) menyebutkan pelita besar (mishbaah) adalah cahaya Ilahi, kaca(zujaajah) adalah qalb, dan lubang besar (misykaah) adalah shadr.
Tentang firman "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi", beliau mengatakan bahwa Allah adalah Dzat yang meresapkan keimanan dan makna Al Quran kedalam shadr orang mukmin.
Beliau menambahkan, "Tiap kali pelita besar masuk kedalam kaca, maka dia akan menerangi kaca dan lubang besar, sehingga mampu menerangi seluruh isi rumah"
Rangkuman kasarnya(dari saya):
Allah adalah Dzat yang meresapkan keimanan dan makna Al Quran kepada orang mukmin. Orang mukmin adalah orang yang shadr-nya telah tersinari cahaya Ilahi yang berasal dari qalb.
sumber: tafsir Ibnu Katsir
tambahan:
Shadr adalah jenis aspek hati terluar, paling dekat dgn aspek jasadiyah. Ia dipenuhi dgn berbagai macam keinginan dunia, sehingga iblis/syaitan relatif dapat mempengaruhi Shadr. Shadr juga berhubungan dgn pola pikir, memiliki kecenderungan untuk berdebat. Ketika hadir sebuah ujian, Shadr dapat menjadi sempit / lapang. Karakter Shadr seseorang dapat “dilihat” melalui “pola pandangan mata”, “pola kata” & “pola suara”
Robbisrohli sodri wa yassirli amri ... (doa Nabi Musa ketika mengetahui misi hidupnya)
Ya Rabb, lapangkanlah shadr-ku, mudahkanlah amr-ku ...
(read more ...)
dicopy dari notes Kuswandani Muhammad Yahdin
Sya’ban merupakan salah satu bulan yang mulia dan pintu menuju bulan Ramadlan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah dalam bulan tersebut, akan menuai kesuksesan di bulan Ramadlan.
Asal nama Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). kalau dari pendapat lain, Syaban berasal dari kata Syi’b,yang berarati jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang patut memperoleh perhatian dari kalangan muslimin dari penjuru dunia.
Syaban dan Pindah Qiblat
Dalam bulan Sya’ban, Qiblat berpindah dari Baitul Maqdis, Palestina ke Ka’bah, Mekah al Mukarromah. Hikayatnya, Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam menanti-nanti datangnya peristiwa ini dengan harapan yang sangat tinggi. Setiap hari Beliau tidak lupa menengadahkan wajahnya ke langit, menanti datangnya wahyu dari Rabbnya. Sampai akhirnya Allah Subhanahu Wata’ala mengabulkan penantiannya. Wahyu Allah Subhanahu Wata’ala turun. “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah; 144)
Diangkatnya Amal Manusia (hadist)
Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah diangkatnya amal-amal manusia pada bulan ini ke langit. Diriwayakan Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i).
Anjuran dan Keutamaan Puasa di Bulan Sya’ban
Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat, “Adakah puasa yang paling utama setelah Ramadlan?” Rasulullah Shollallahu alai wasallam menjawab, “Puasa bulan Syaban karena berkat keagungan bulan Ramadhan.”Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).
Sepintas dari teks Hadits di atas, puasa bulan Syaban lebih utama dari pada puasa bulan Rajab dan bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) lainnya. Padahal Abu Hurairah telah menceritakan sabda dari Rasulullah Shollallu alaihi wasallam, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan mulia (asyhurul hurum).” Menurut Imam Nawawi, hal ini terjadi karena keutamaan puasa pada bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) itu baru diketahui oleh Rasulullah di akhir hayatnya sebelum sempat beliau menjalaninya, atau pada saat itu beliau dalam keadaan udzur (tidak bisa melaksanakannya) karena bepergian atau sakit.
Sesungguhnya Rasulullah Shollallu alaihi wasallam mengkhususkan bulan Sya’ban dengan puasa itu adalah untuk mengagungkan bulan Ramadhan. Menjalankan puasa bulan Sya’ban itu tak ubahnya seperti menjalankan sholat sunat rawatib sebelum sholat maktubah. Jadi dengan demikian, puasa Sya’ban adalah sebagai media berlatih sebelum menjalankan puasa Ramadhan.
Adapun berpuasa hanya pada separuh kedua bulan Syaban itu tidak diperkenankan, kecuali:
1. Menyambungkan puasa separuh kedua bulan Sya’ban dengan separuh pertama.
2. Sudah menjadi kebiasaan.
3. Puasa qodlo.
4. Menjalankan nadzar.
5. Tidak melemahkan semangat puasa bulan Ramadhan.
Turun Ayat tentang Sholawat Nabi
Salah satu keutamaan bulan Sya’ban adalah diturunkannya ayat tentang anjuran membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Shollallu alaihi wasallam pada bulan ini, yaitu ayat: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab;56)
Sya’ban, Bulan Al Quran
Bulan Sya’ban dinamakan juga bulan Al Quran, sebagaimana disebutkan dalam beberapa atsar. Memang membaca Al Quran selalu dianjurkan di setiap saat dan di mana pun tempatnya, namun ada saat-saat tertentu pembacaan Al Quran itu lebih dianjurkan seperti di bulan Ramadhan dan Sya’ban, atau di tempat-tempat khusus seperti Mekah, Roudloh dan lain sebagainya. Syeh Ibn Rajab al Hambali meriwayatkan dari Anas, “Kaum muslimin ketika memasuki bulan Sya’ban, mereka menekuni pembacaan ayat-ayat Al Quran dan mengeluarkan zakat untuk membantu orang-orang yang lemah dan miskin agar mereka bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan”.
Malam Nisfu Syaban
Pada bulan Sya’ban terdapat malam yang mulia dan penuh berkah yaitu malam Nishfu Sya’ban. Di malam ini Allah Subhanahu wata’ala mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang minta belas kasihan, mengabulkan doa orang-orang yang berdoa, menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah, memerdekakan orang-orang dari api neraka, dan mencatat bagian rizki dan amal manusia.
Banyak Hadits yang menerangkan keistimewaan malam Nishfu Sya’ban ini, sekalipun di antaranya ada yang dlo’if (lemah), namun Al Hafidh Ibn Hibban telah menyatakan kesahihan sebagian Hadits-Hadits tersebut, di antaranya adalah: “Nabi Muhammad Shollallhu alaihi wasallam bersabda, “Allah melihat kepada semua makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban dan Dia mengampuni mereka semua kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Thabarani dan Ibnu Hibban).
Para ulama menamai malam Nishfu Syaban dengan beragam nama. Banyaknya nama-nama ini mengindikasikan kemuliaan malam tersebut.
1. Lailatul Mubarokah (malam yang penuh berkah).
2. Lailatul Qismah (malam pembagian rizki).
3. Lailatut Takfir (malam peleburan dosa).
4. Lailatul Ijabah (malam dikabulkannya doa)
5. Lailatul Hayah walailatu ‘Idil Malaikah (malam hari rayanya malaikat).
6. Lalilatus Syafa’ah (malam syafa’at)
7.Lailatul Baro’ah (malam pembebasan). Dan masih banyak nama-nama yang lain.
Pro dan Kontra Seputar Nishfu Sya’ban
Al Hafidh Ibn Rojab al Hambali dalam kitab al Lathoif mengatakan, “Kebanyakan ulama Hadits menilai bahwa Hadits-Hadits yang berbicara tentang malam Nishfu Sya’ban masuk kategori Hadits dlo’if (lemah), namun Ibn Hibban menilai sebagaian Hadits itu shohih, dan beliau memasukkannya dalam kitab shohihnya.” Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab Addurrul Mandlud mengatakan, “Para ulama Hadits, ulama Fiqh dan ulama-ulama lainnya, sebagaimana juga dikatakan oleh Imam Nawawi, bersepakat terhadap diperbolehkannya menggunakan Hadits dlo’if untuk keutamaan amal (fadlo’ilul amal), bukan untuk menentukan hukum, selama Hadits-Hadits itu tidak terlalu dlo’if (sangat lemah).”Jadi, meski Hadits-Hadits yang menerangkan keutamaan malam Nisfu Syaban disebut dlo’if (lemah), tapi tetap boleh kita jadikan dasar untuk menghidupkan amalan di malam Nishfu Sya’ban.
Kebanyakan ulama yang tidak sepakat tentang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban itu karena mereka menganggap serangkaian ibadah pada malam tersebut itu adalah bid’ah, tidak ada tuntunan dari Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam. Sedangkan pengertian bid’ah secara umum menurut syara’ adalah sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah. Jika demikian secara umum bid’ah itu adalah sesuatu yang tercela (bid’ah sayyi’ah madzmumah). Namun ungkapan bid’ah itu terkadang diartikan untuk menunjuk sesuatu yang baru dan terjadi setelah Rasulullah wafat yang terkandung pada persoalan yang umum yang secara syar’i dikategorikan baik dan terpuji (hasanah mamduhah).
Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumiddin Bab Etika Makan mengatakan, “Tidak semua hal yang baru datang setelah Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam itu dilarang. Tetapi yang dilarang adalah memperbaharui sesuatu setelah Nabi (bid’ah) yang bertentangan dengan sunnah.” Bahkan menurut beliau, memperbaharui sesuatu setelah Rasulullah (bid’ah) itu terkadang wajib dalam kondisi tertentu yang memang telah berubah latar belakangnya.”
Imam Al Hafidh Ibn Hajjar berkata dalam Fathul Barri, “Sesungguhnya bid’ah itu jika dianggap baik menurut syara’ maka ia adalah bid’ah terpuji (mustahsanah), namun bila oleh syara’ dikategorikan tercela maka ia adalah bid’ah yang tercela (mustaqbahah). Bahkan menurut beliau dan juga menurut Imam Qarafi dan Imam Izzuddin ibn Abdis Salam bahwa bid’ah itu bisa bercabang menjadi lima hukum.
Syeh Ibnu Taimiyah berkata, “Beberapa Hadits dan atsar telah diriwayatkan tentang keutamaan malam Nisyfu Sya’ban, bahwa sekelompok ulama salaf telah melakukan sholat pada malam tersebut. Jadi jika ada seseorang yang melakukan sholat pada malam itu dengan sendirian, maka mereka berarti mengikuti apa yang dilakukan oleh ulama-ulama salaf dulu, dan tentunya hal ini ada hujjah dan dasarnya. Adapun yang melakukan sholat pada malam tersebut secara jamaah itu berdasar pada kaidah ammah yaitu berkumpul untuk melakukan ketaatan dan ibadah.
Walhasil, sesungguhnya menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan serangkaian ibadah itu hukumnya sunnah (mustahab) dengan berpedoman pada Hadits-Hadits di atas. Adapun ragam ibadah pada malam itu dapat berupa sholat yang tidak ditentukan jumlah rakaatnya secara terperinci, membaca Al Quran, dzikir, berdo’a, membaca tasbih, membaca sholawat Nabi (secara sendirian atau berjamaah), membaca atau mendengarkan Hadits, dan lain-lain.
Tuntunan Nabi di Malam Nisyfi Sya’ban
Rasulullah telah memerintahkan untuk memperhatikan malam Nisyfi Sya’ban, dan bobot berkahnya beramal sholeh pada malam itu diceritakan oleh Sayyidina Ali Rodliallahu anhu, Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika tiba malam Nisyfu Sya’ban, maka bersholatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menurunkan rahmatnya pada malam itu ke langit dunia, yaitu mulai dari terbenamnya matahari. Lalu Dia berfirman, ‘Adakah orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampuni? Adakah orang meminta rizki, maka akan Aku beri rizki? Adakah orang yang tertimpa musibah, maka akan Aku selamatkan? Adakah begini atau begitu? Sampai terbitlah fajar.’” (HR. Ibnu Majah)
Malam Nishfu Syaban atau bahkan seluruh bulan Sya’ban sekalipun adalah saat yang tepat bagi seorang muslim untuk sesegera mungkin melakukan kebaikan. Malam itu adalah saat yang utama dan penuh berkah, maka selayaknya seorang muslim memperbanyak aneka ragam amal kebaikan. Doa adalah pembuka kelapangan dan kunci keberhasilan, maka sungguh tepat bila malam itu umat Islam menyibukkan dirinya dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam mengatakan, “Doa adalah senjatanya seorang mukmin, tiangnya agama dan cahayanya langit dan bumi.” (HR. Hakim). Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam juga mengatakan, “Seorang muslim yang berdoa -selama tidak berupa sesuatu yang berdosa dan memutus famili-, niscaya Allah Subhanahu wata’ala menganugrahkan salah satu dari ketiga hal, pertama, Allah akan mengabulkan doanya di dunia. Kedua, Allah baru akan mengabulkan doanya di akhirat kelak. Ketiga, Allah akan menghindarkannya dari kejelekan lain yang serupa dengan isi doanya.” (HR. Ahmad dan Barraz).
Tidak ada tuntunan langsung dari Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam tentang doa yang khusus dibaca pada malam Nishfu Sya’ban. Begitu pula tidak ada petunjuk tentang jumlah bilangan sholat pada malam itu. Siapa yang membaca Al Quran, berdoa, bersedekah dan beribadah yang lain sesuai dengan kemampuannya, maka dia termasuk orang yang telah menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan ia akan mendapatkan pahala sebagai balasannya.
Kebiasaan yang berlaku di masyarakat, yaitu membaca Surah Yasin tiga kali, dengan berbagai tujuan, yang pertama dengan tujuan memperoleh umur panjang dan diberi pertolongan dapat selalu taat kepada Allah. Kedua, bertujuan mendapat perlindungan dari mara bahaya dan memperoleh keluasaan rikzi. Dan ketiga, memperoleh khusnul khatimah (mati dalam keadaan iman), itu juga tidak ada yang melarang, meskipun ada beberapa kelompok yang memandang hal ini sebagai langkah yang salah dan batil.
Dalam hal ini yang patut mendapat perhatian kita adalah beredarnya tuntunan-tuntunan Nabi tentang sholat di malam Nishfu sya’ban yang sejatinya semua itu tidak berasal dari beliau. Tidak berdasar dan bohong belaka. Salah satunya adalah sebuah riwayat dari Sayyidina Ali, “Bahwa saya melihat Rasulullah pada malam Nishfu Sya’ban melakukan sholat empat belas rekaat, setelahnya membaca Surat Al Fatihah (14 x), Surah Al Ikhlas (14 x), Surah Al Falaq (14 x), Surah Annas (14 x), ayat Kursi (1 x), dan satu ayat terkhir Surat At Taubah (1 x). Setelahnya saya bertanya kepada Baginda Nabi tentang apa yang dikerjakannya, Beliau menjawab, “Barang siapa yang melakukan apa yang telah kamu saksikan tadi, maka dia akan mendapatkan pahala 20 kali haji mabrur, puasa 20 tahun, dan jika pada saat itu dia berpuasa, maka ia seperti berpuasa dua tahun, satu tahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Dan masih banyak lagi Hadits-Hadits palsu lainnya yang beredar di tengah-tengah kaum muslimin.
(Disarikan dari “Madza fi Sya’ban”, karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, Muhadditsul Haromain).
sumber dari : http://langitan.net, dipetik dari http://bikindesainsitus.web.id/islami/dalil-amalan-dan-keutamaan-bulan-syaban/
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 260
Allah berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang yang mati". Allah berfirman, "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku meyakininya; tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)". Allah berfirman, "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung dan cincanglah semua olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".
Ketika menafsirkan ayat tersebut, Rumi menjelaskan bahwa kita hanya hidup kembali bila kita membunuh empat ekor unggas yang mencerminkan diri kita atau ego kita. Keempat ekor unggas itu adalah bebek yang mencerminkan kerakusan, ayam jantan yang melambangkan nafsu, merak yang menggambarkan kesombongan, dan gagak yang melukiskan keinginan.
Tentang bebek, Rumi bercerita :
Bebek itu kerakusan, paruhnya selalu di tanah
Mengeruk apa saja yang terbenam, basah atau kering
Tenggorokannya tak pernah santai satu saat pun
Ia tak mendengar firman Tuhan selain “Makan, minumlah!”
Seperti penjarah yang merangsek rumah
Dan memenuhi kantongnya dengan cepat
Ia memasukkan ke dalam kanrongnya baik dan buruk
Permata atau kacang tanah tiada beda
Ia jejalkan ke kantungnya, basah dan kering
Kuatir pesaingnya akan merebutnya
Waktu mendesak, kesempatan sempit, ia takut
Dengan segera ia tumpukkan apa pun di bawah tangannya.
* dikutip dari buku “Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufisik” karangan Jalaluddin Rakhmat
Tentang ayam jantan atau nafsu, Rumi bercerita :
Ayam jantan penuh nafsu dan ketagihan nafsu
Mabuk dalam anggur tawar yang beracun
Sekiranya nafsu tidak diperlukan untuk melanjutkan penciptaan,
Wahai Sang Penuntut, Adam akan memandulkan dirinya sebab malu karenanya.
Iblis terkutuk berkata kepada Sang Penegak Keadilan,
“Kuingin jebakan perkasa kepada korbanku,”
Tuhan memperlihatkan kepadanya emas, perak, dan kawanan kuda
Seraya berkata, “Gunakan ini untuk merayu manusia.”
Iblis berteriak, “Hebat!” Tapi segera bibirnya mengering
Ia keriput dan asam seperti jeruk
Lalu Tuhan menawarkan kepada makhluk terkutuk
Emas dan mutiara dari perbendeharaannya yang tidak terhingga
Seraya berkata, “Ambillah jebakan ini, hai si terlaknat.”
Ia menjawab, “Berikan lebih dari ini, wahai Sang Maha Pembela.”
Lalu Tuahn memberikannya makanan yang berminyak dan manis.
Minuman yang mahal dan jubah sutra yang gemerlap
Iblis berkata, “Tuhanku, kuperlukan bantuan lebih dari ini.
Untuk mengikat mereka dengan tali serat kurma.
Supaya hambamu yang mabuk, yang gagah berani
Dapat melepaskan seluruh ikatan ini
Dengan jebakan ini dan ikatan hawa nafsu
Orang suci dipisahkan dari orang durhaka
Aku ingin jebakan lain, duhai penguasa ‘Arasy
Jebakan cerdik perkasa yang membuat semua manusia binasa”…
Ketika Tuhan menampakkan kepada iblis keindahan perempuan
yang menumpulkan akal dan melepaskan kendali diri laki-laki;
Iblis menjentikkan jarinya dan mulai menari, sambil melonjak berkata,
“Berikan dia kepadaku secepat mungkin: Telah kugapai keinginanku.”
Bagai Iblis, cumbu rayu hawa nafsu bagaikan ungkapan kemuliaan Ilahi yang menembus hijab yang tipis.
* dikutip dari buku “Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufisik” karangan Jalaluddin Rakhmat
Tentang burung merak atau kesombongan, Rumi bercerita :
Sekarang sampailah kita pada merak berwarna ganda
Yang memamerkan dirinya demi kemasyhuran dan nama
Cita-citanya hanya merebut perhatian manusia
Tak peduli baik buruk, hasil dan manfaatnya
Ia menangkap mangsanya dengan bodoh seperti jebakan
Mana mungkin jebakan mengetahui tujuan tindakan? ...
Duhai saudaraku, kau angkat kawan-kawanmu
Dengan dua ratus tanda kasih sayang, lalu kaucampakkan mereka
Inilah kegiatanmu sejak saat kelahiranmu
Menangkap orang dengan jebakan cinta
Dari upayamu mengejar orang dan memburu kemegahan
Apa manfaat yang kamu peroleh?, lihat dan renungkan!
Hari-hari hidupmu telah berlalu dan malammu telah larut
Dan kau masih juga sibuk mengejar manusia
Ayo buru orang dan lepaskan yang lain dari jebakan
Lalu kau kejar yang lain seperti makhluk yang hina
Lalu kau lepaskan yang ini dan kau cari yang itu
Ini permainan anak kecil yang tanpa arti
Sebetulnya kamu hanya menangkap dirimu dalam jebakan
Karena kamu dipenjarakan dan dikecewakan oleh keinginanmu
* dikutip dari buku “Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufisik” karangan Jalaluddin Rakhmat
Tentang gagak, Rumi bercerita :
Suara berkoak burung gagak
Meneriakkan permintaan panjang usia di dunia
Seperti iblis, gagak memohon Yang Mahasuci
Kehidupan abadi sampai hari kebangkitan
Iblis berkata, "Berikanlah aku tempo sampai hari kebangkitan"
Bukankah sepatutnya ia berkata, "Aku bertaubat, duhai Tuhanku"
Hidup tanpa taubat adalah bencana jiwa
Hilang dari Tuhan adalah kehadiran kematian
Hidup dan mati, keduanya manis disisi Ilahi
Tanpa Tuhan, air kehidupan adalah api
Hidup abadi adalah menumbuhkan ruh di dekat Ilahi
hidup gagak semata-mata untuk memakan tahi
Gagak berkata, "Berikan aku hidup lama supaya terus makan kotoran"
"Berikan aku hidup selalu karena watakku memang keburukan”
Sekiranya mulut kotor itu bukan mulut pemakan bercak
Ia akan berkata, "Selamatkan daku dari watak burung gagak".
* dikutip dari buku “Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufisik” karangan Jalaluddin Rakhmat
(read more ...)Jul
06
Perumpamaan Alloh dan Lauh Mahfudzh adalah seperti halnya ketika akan mengadakan sebuah event, dimana manager EO selalu punya rundown yang merekam bagaimana sebuah acara akan berjalan(mulai dari awal sampai akhir), segala hal yang berkaitan dengan perjalanan acara itu tertulis dalam rundown, dan bila dalam perjalanannya ada beberapa kejadian yang melenceng dari rundown yang telah disusun, maka panitia yang telah dibentuk oleh sang manajer akan segera meluruskan kebengkokan ini, sehingga acara dapat berlangsung sesuai dengan kehendak manager EO.
Dunia ini, layaknya sebuah mahakarya di bidang Event Organizer, "manager EO" telah menyediakan panggung kehidupan lengkap dengan segala attributnya, merencanakan segala kejadian dengan detail, dan menjalankannya dengan begitu sempurna. Begitu besar, begitu megah, begitu...LUAR BIASA. Jadi...maka jadilah.
(read more ...)
Muhammad saw termasuk perintis paling awal dari demokrasi agama. Beliau menghindari perantaraan dalam bentuk apapun antara manusia dengan Tuhan, tidak mengakui kependetaan dan menegaskan kemungkinan dialog langsung antara manusia dengan Tuhan dalam doa(1).
Ketika membicarakan tentang para nabi dan guru di masa lalu, Hazrat Inayat Khan mengatakan bahwa tugas ini dilanjutkan secara estafet dan berakhir pada Nabi Muhammad saw, Khatim al-Mursalin, utusan terakhir yang membawa kearifan Ilahi dan penutup para nabi, yang pada gilirannya memberikan pernyataan final bahwa hanya Alloh sajalah yang ada(2).
Kini, setelah seluruh dunia telah menerima risalah melalui seorang manusia yang mempunyai keterbatasan dan kekurangan(3), dimasa mendatang, risalah itu akan diberikan tanpa perantara(4).
catatan kaki:
(1) dan sholat adalah kumpulan dari banyak doa
(2)" ... maka kemana pun kamu menghadap disitulah wajah Alloh" (QS. Al-Baqarah: 115)
(3)“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsamu sendiri, yang dia merasa berat adanya sesuatu yang menyusahkan kamu, serta ingin untuk menyelamatkan kamu, dan pengasih penyayang kepada kaum yang beriman”. (QS. At-Taubah: 128).
(4)"...Alloh yang memberi petunjuk siapa yang dikehendakiNya" (QS. Al- Baqarah: 272),
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya" (QS. Yunus: 9),
"dan barang siapa yang beriman kepada Alloh, niscaya DIA akan memberi petunjuk kepada hatinya" (QS. At Taghabuun: 11)
(read more ...)Siang dan malam kau berjuang memperbaiki akhlak pasanganmu dan menyucikan dirinya. Sebenarnya akan jauh lebih baik bila kau sucikan dirimu sendiri melalui dia, daripada mencoba memperbaiki dirinya lewat dirimu. (Jalaluddin Rumi - Fihi Ma Fihi) ... Beneran, kita akan lelah berharap org lain berubah ... kitanya aja yg berubah. Insya Allah, semua yg di sekitar kita akan turut berubah ke arah yang diharapkan. Aamiiin (copas dari status Ibu Lysandri Susanto)
tambahan:
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yaasiin:36)
Apa yang anda pikirkan ketika membaca ayat ini? Siapa pasangan yang dimaksud? Istrikah? Suamikah?
Alloh menciptakan pasangan dari semua. Dari semua. Tidak hanya terbatas pada pasangan hidup.
Jadi, jika anda mempunyai cinta yang begitu besar. Janganlah kaget bila nanti dipertemukan dengan seseorang yang kasar dan berperilaku buruk. Itulah pasangan anda. Keberadaannya akan membuat anda bisa mengekspresikan cinta anda.
Jika anda mempunyai kelebihan harta. Janganlah heran bila nanti dipertemukan dengan seseorang yang selalu "ngrepoti" harta anda.
Teruslah melihat "ke dalam" dan "ke luar". Temukan alasannya, kenapa anda berada ditempat yang sekarang menjadi rumah anda, kantor anda, sekolah anda. Kenapa anda bertemu dan berteman dengan orang yang sekarang menjadi teman anda, bos anda, ustadz anda.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150160105031337
(read more ...)Jun
30
- Fatwa mengharuskan adanya proses pengajuan permohonan akan fatwa oleh pemohon secara personal maupun badan hukum kepada juru atau lembaga fatwa.
- Fatwa tidak memiliki kekuatan mengikat. Beberapa beranggapan bahwa fatwa hanya mengikat si pemohon fatwa, tidak seluruh umat
- Fatwa dari bahasa Arab yang dapat diartikan sebagai sebuah keputusan atau nasihat resmi yang diambil oleh sebuah dewan mufti atau ulama.
- Fatwa bisa berkembang seiring perkembangan masa, perubahan letak geografis, peralihan kondisi, dan pergeseran niat
Jadi, kalau ada fatwa bahwa golput haram, rokok haram, beli BBM bersubsidi haram, atau "merek" penyedap rasa tertentu haram. Silahkan dipelajari lagi dengan lebih mendalam.
“Ya Wabishah, tanyakan hatimu (tiga kali)! Kebaikan adalah perkara yang membuat jiwamu tenang dan dosa adalah perkara yang membuat ragu dalam jiwa dan meresahkan dada, meskipun manusia berulang kali memberimu fatwa.” (HR. Imam Ahmad)
dari berbagai sumber
(read more ...)Jun
18
Every master must find his path to inner peace.
Some meditate for 50 years in a cave, without a try to taste the food or water.
Po, the day you was chosen to be Dragon Warrior.
By far. Nothing else came close. It was the most paintful, mind destroyed, horrible moment.
But once I realized the problem was not you, but within me.
I found inner peace, I was able to honest full of the universe.
(Master Shifu - Kungfu Panda 2)
Jun
15
Konon, ada sebuah negeri yang tidak mempunyai seorang raja, orang suci disana menyatakan bahwa suatu hari akan ada orang yang datang ke kota sambil menarik kereta lembu, dialah yang nantinya akan menjadi raja mereka. Orang tersebut adalah Gordius, yang begitu diangkat sebagai raja, untuk menunjukkan rasa syukurnya, dia mempersembahkan sebuah gerobak berikut sapinya yang diikat dengan sebuah simpul khusus, yang kemudian dikenal dengan nama Ikatan Gordion. Waktupun berlalu, legenda tentang simpul inipun tersiar ke segala penjuru negeri, banyak yang menyatakan bahwa siapa saja yang bisa melepaskan ikatan simpul itu akan mampu menjadi penguasa dunia. Selama 400 tahun, simpul Gordian itu tetap menjadi puzzle yang tidak terpecahkan. Sampai suatu ketika, berita ini sampai kepada Alexander Agung, dia-pun memutuskan untuk mencoba, setelah gagal, dia kehilangan kesabaran dan akhirnya memutuskan tali itu menggunakan pedangnya. Ikatan Gordion adalah sebuah simbol dari rutinitas hidup yang setiap hari kita jalani, dengan segala hiruk-pikuk dan keresahannya. Ikatan ini harus dilepaskan dengan sabar, dengan lembut. Jangan dipotong. Tidak ada sistem kerahiban (melepas semua kesenangan dunia fana dan beralih ke tempat ibadah, menyepi, menyendiri, dan tak bersosialisasi sama sekali) di dalam Islam.
(Diambil dari notes mbak Sari Peni Bakir yang diedit ulang oleh Alfathri Adlin untuk menyelaraskan ejaan dan salah ketiknya.)
Bulan Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan mulia, bulan haram, selain bulan Zulqaidah, Zulhijjah, dan Muharam.
Bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Rasullah saw bersabda, “Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah yang agung. Di bulan ini diharamkan berperang dengan orang-orang kafir. Adapun Sya’ban, itu adalah bulanku, sedangkan Ramadhan adalah bulan umatku. Maka barang siapa berpuasa sehari saja di bulan Rajab, ia akan mendapatkan keridhaan Allah yang sangat besar dan jauh dari kemurkaan-Nya serta tertutup baginya salah satu pintu neraka.”
Rasulullah saw bersabda, “Rajab adalah bulan pengampunan bagi umatku maka perbanyaklah beristighfar di bulan ini, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Bulan Rajab dijuluki dengan al-Ashab (pelimpahan) karena pada bulan ini rahmat Allah dilimpahkan kepada umatku. Karena itu perbanyaklah mengucapkan: ‘Astaghfirullaha wa as’aluhut-taubah’, yang artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah dan aku meminta kepada-Nya agar diterima taubatku.”
Musa bin Ja’far berkata, “Rajab adalah sungai yang berada di surga, warnanya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari saja di bulan Rajab, Allah akan menuangkan air dari sungai tersebut kepadanya,”
Sementara Imam Ja’far ash-Shadiq bertutur, “Barangsiapa puasa satu hari di akhir bulan ini, ia diringankan dari kepedihan sakratul maut dan azab kubur. Dua hari di akhir bulan ini, ia diperbolehkan untuk tidak melalui shirath. Tiga hari di akhir bulan ini, ia terhindar dari kesusahan Hari Akhir dan dijauhkan dari api neraka.”
Imam Ja‘far ash-Shadiq selalu memanjatkan doa-doa dalam bulan Rajab. Salah satu keindahan untaian doa beliau:
Bismillaahi Rahmani Rahim
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad
Wahai Yang kuharapkan untuk segala kebaikan dan yang menjaga kemurkaan-Nya pada segala kejahatan.
Wahai Yang Memberi ganjaran yang banyak untuk amalan yang sedikit
Wahai Yang Memberi kepada yang meminta
Wahai Yang memberi kepada yang tidak meminta kepada-Mu dan kepada yang tidak mengenal-Mu, karena kasih dan rahmat-Mu
Berilah kepadaku seluruh kebaikan dunia dan akhirat
Dan jauhkanlah aku dari segala keburukan dunia dan akhirat
Karena pemberian-Mu tidak terasa kurang
Karena aku dengan keutamaan-Mu, wahai Yang Maha Dermawan
Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
Wahai Pemilik Nikmat dan Kedermawanan
Wahai Yang Maha Menghendaki lagi Maha Tinggi
Wahai Yang Memiliki kebutuhan para peminta
Dan mengetahui isi hati orang-orang yang diam
Sedang Engkau senantiasa mendengar setiap masalah dan menjawabnya dengan kepastian
Ya Allah, demi kebenaran janji-Mu
Demi kepemurahan tangan-Mu
Dan demi rahmat-Mu yang luas
Aku memohon kepada-Mu, sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad
Dan penuhilah kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhiratku
Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu
Ya Allah, karuniakanlah aku kesabaran orang-orang yang bersyukur kepada-Mu
Amalan orang-orang yang takut kepada-Mu
Dan keyakinan orang-orang yang menghamba kepada-Mu
Ya Allah, Engkau Maha Tinggi lagi Maha Agung, dan aku adalah hamba-Mu yang rendah dan papa
Engkau Maha Kaya dan Maha Terpuji, dan aku adalah hamba-Mu yang hina
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad
Kasihanilah aku dengan kekayaaan-Mu atas kefakiranku
Dengan kesabaran-Mu atas kebodohanku
Dengan kekuatan-Mu atas kelemahanku
Wahai Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad
Penuhilah keperluan-keperluanku dari urusan di dunia dan akhirat
Wahai yang Paling Penyayang dan Yang Menyayangi
Jun
03
Perjalanan ini dimulai oleh seorang biksu muda yang rendah hati, penyabar, dan bijaksana. Dia ditugaskan pergi ke Barat untuk mengambil kitab suci. Dalam perjalanannya, biksu ini bertemu dengan beberapa teman seperjalanan yang kemudian menjadi muridnya. Mereka adalah:
- Sun Wu Kong, siluman kera yang terlahir dari sebongkah batu besar, kera ini tidak bisa diam, nakal, emosional, dan kuat. Satu-satunya cara untuk bisa menghentikan sepak terjangnya hanyalah dengan membaca mantra yang membuat cincin mahkota diatas kepalanya mengecil.
- Ti Pat Kai, siluman babi yang selalu bikin masalah karena terlalu sering menuruti nafsu, hal ini sering kali membuat sang biksu terkena getahnya.
- Wu Ching, manusia lugu yang selalu menurut bila disuruh melakukan sesuatu, sangat loyal dan jujur
- Dan yang terakhir adalah kuda putih yang senantiasa membawa sang biksu, kemanapun sang biksu menuntun. Hanya terkadang, bila sang biksu lengah, kuda ini berjalan semaunya sendiri sehingga membuatnya tersesat.
Tulisan di internet menyebutkan bahwa cerita ini ditulis oleh seorang Taois terkemuka, yaitu Chiu Chu Chi, murid dari Wang Chung Yang. Sumber lainnya menyebutkan Wu Ch’eng-en, seorang pembuat novel dan penyair dari Tiongkok-lah yang telah menulis novel ini.
Terlepas dari siapa penulis aslinya, cerita ini mempunyai hikmah cukup mendalam tentang pencarian jati diri.
(read more ...)Jun
03
Pikiran kita, saya ibaratkan dengan ’monkey mind’ yang selalu melompat tanpa henti. ’Monkey mind’ selalu ingin mengerjakan sesuatu, tapi yang selalu dia lakukan adalah membuat masalah.
Ibaratnya, dalam satu perusahaan ada bos. Tapi si Bos ini agak gila, kalau bosnya agak gila, maka satu perusahaan jadi gila. Jika Presiden atau Perdana Mentri suatu negara agak gila, maka seluruh negeri akan gila.
Saat ini, siapa bos kita? Pikiran kita. Jadi meditasi adalah tentang menuntun diri sendiri, mengarahkan diri sendiri. Bagaimana melakukannya? Dengan menjinakkan si Monyet, tidak bisa dengan kekuatan. Mengikat tangan dan kakinya, memukulinya dengan tongkat. Tidak akan berhasil, kita harus berteman dengannya.
Apa yang disukai si Monyet? Pekerjaan. Monyet suka pekerjaan, ingin melakukan sesuatu, tanpa henti. Jadi, berikan pekerjaan pada monyet itu. Jika kita bisa memberinya pekerjaan, monyet akan senang, dan kita akan menjadi bahagia, karena kita adalah bosnya, bukan si monyet pikiran itu tadi. Win - win solution.(Youngey Mingyur Rinpoche)
Pekerjaannya? Suruh si monyet pikiran mengenali diri kita. Diri kita yang sebenarnya.
Di Jogja, ada cerita...apabila seseorang berhasil berjalan melewati pohon beringin kembar yang tumbuh di alun-alun utara dalam jarak tertentu dengan mata tertutup maka segala yang diinginkannya akan terkabul. Terlepas dari benar tidaknya cerita ini, saya nyobain tantangan ini.
Saya pergi ke salah satu Bapak yang menyewakan penutup mata, setelah bertanya singkat, saya mendapatkan sebuah tutup mata dan 3(tiga) kali kesempatan berjalan menuju pohon beringin dengan mata tertutup, Bapak penyewa penutup mata ini akan berteriak memberhentikan saya jika nanti pada saat berjalan, arah saya jauh melenceng dari titik tujuan. Percobaan pertama gagal, temen-temen dan pengunjung pada ketawa, karena saya ternyata berjalan berbalik arah - 90 derajat. Percobaan kedua, sukses besar, saya berhasil berjalan melewati pohon beringin itu dan diberi ucapan selamat sama Bapak yang menyewakan penutup mata. :)
Di percobaan pertama, saya memang agak sombong, saya merasa bisa melakukan ini dengan mudah, dan hasilnya? Nol besar, jalan yang saya tempuh ternyata berputar 90 derajat. Pada percobaan kedua, saya berusaha menenangkan hati dan pikiran, menyerah pada Alloh, saya sempat berdoa supaya Dia menuntun saya untuk sampai di tujuan. Alhamdulillah berhasil.
Pelajaran yang saya ambil dari kejadian ini: Seperti halnya hidup, saya saat ini betul-betul buta arah, saya tidak tahu bagaimana hari esok, tujuan saya hanyalah meninggal dengan khusnul khatimah dan dapat bertemu denganNya dalam keadaan baik. Caranya? ya...dengan menjalankan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya. Tapi...tidak boleh sombong, meskipun sudah tahu jalan dan arah, saya tetap saja masih �buta�.
Satu hal lagi, sebaiknya pasang �telinga� baik-baik, karena...akan selalu ada �teriakan� jika kita ternyata salah �melangkah�.
(read more ...)Mei
18
Syaikh ibn �Atha�ilah as- Sakandari
"Terlambat datangnya pemberian (Alloh), mesti sudah dimohonkan berulang ulang, janganlah membuatmu patah harapan. Karena dia telah menjamin untuk mengabulkan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut keinginan engkau sendiri. Juga dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan."
Penjelasan:
Tidak sepatutnya sang hamba berburuk sangka kepada Alloh akibat doa doanya belum dikabulkan olehNya. Dan sebaiknya bagi hamba, yang tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya esok hari, segera melakukan introspeksi diri. Karena Alloh sendiri sudah mengatakan dalam firman- Nya, "Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali kali tidak ada hak bagi mereka untuk memilih" al- Qashash: 68 Dan hendaknya kita senantiasa mengingat firman Alloh Ta�ala berikut ini: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Alloh Mahamengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" al- Baqarah:216
Sang guru juga mengingatkan, "Tidak terlaksananya sesuatu yang dijanjikan oleh Alloh, janganlah sampai membuatmu ragu terhadap janji Alloh itu. Ini agar tidak mengaburkan bashirahmu (pandangan mata bathin) dan memadamkan nur (cahaya) hatimu."
Penjelasan:
Sebagai hamba, manusia tidak mengetahui kapan persisnya Alloh akan menurunkan karunia dan rahmat-Nya. Sehingga apabila seseorang melihat tanda-tanda tertentu, maka ia akan menduga bahwa itulah saat yang dijanjikan oleh Alloh. Sementara dari sisi Alloh, sebetulnya masih ada persyaratan yang Dia kehendaki atas diri hamba itu yang belum terpenuhi. Jadi, jangan sampai menuduh Alloh melanggar janji- janjinya.
Alloh Ta�ala berfirman, "Ingatlah, bahwa sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat" al- Baqarah:214 Dalam firman Alloh yang lain digambarkan, bahwa manusia itu memiliki sifat cenderung tergesa gesa, "Dan adalah manusia itu bersifat tergesa- gesa" al-Israa�:11
dicopy dari http://ekamaya.wen.ru/alhikam/alhikam-6.html
"...janganlah kamu mendahului Alloh dan Rasulnya dan bertaqwalah pada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Hujurat: 1)
Belajarlah untuk memelankan suara dari ego dan nafsumu, sehingga...engkau mampu mendengar suaraNya bergema dihatimu.
Wallahu alam
note ini saya copas dari note @ Alfathri Adlin
Penutup
Pada saat ini pengertian cinta telah mengalami distorsi dan perendahan makna. Cinta sebatas dipahami sebagai sebuah ungkapan pemanis bibir, ekpresi dari rayuan seorang lelaki kepada seorang wanita. Yang dalam kehidupan barat berujung pada seksualitas rendah. Cinta bahkan tidak jarang menjadi sebuah awal malapetaka, ditinggalkan sang kekasih, frustasi dan kemudian bunuh diri.
Dalam khazanah tasawuf, kita akan menemukan pemahaman tentang cinta yang dapat memberikan kepada kita sebuah eksistensi yang sejati. Cinta menjadi energi untuk hidup, spirit, dan kekuatan yang melampaui apa yang dapat diperkirakan oleh akal pikiran. Bagi para sufi objek cinta sejati adalah hanya ada pada diri Tuhan. Perjalanan menuju Tuhan yang didasarkan akan cinta kepada-Nya membuat seorang sufi tidak akan merasa lelah atau letih. Melainkan ia tidak akan berhenti sebelum mencapai apa yang ia tuju.
Bagi Ibn `Arabi, selaras dengan para sufi yang lain, objek cinta adalah hanyalah Tuhan, kita dapat saja mengatakan bahwa kita mencintai suatu yan eksis di dunia ini selain Tuhan, tetapi pada dasarnya cinta kita adalah pada Tuhan. Karena tiada wujud selain wujud Tuhan sendiri, eksistensi alam semesta merupakan limpahan wujud-Nya. Sebagai satu-satu-Nya wujud hakiki, Ia cinta untuk dikenal, maka Ia kemudian menciptakan makhluk. Makhluk pada dasarnya adalah tiada dalam hubungan dengan Tuhan sendiri, namun karena cinta-Nya Ia memakaikan pakaian wujud-Nya kepada yang tiada, maka yang tiada pun menjadi ada dengan pakaian wujud-Nya.
Makhluk sebagai lokus dari tajalli Tuhan juga mempunyai sifat cinta, dan objek cinta mereka adalah “diri” Tuhan. Namun Tuhan menjadi noneksis dalam hubungannya dengan mereka. Mereka tidak dapat mencapai diri sejati Tuhan. karena yang mengetahui diri sejati Tuhan hanyalah diri Tuhan sendiri, wujud sejati hanya diketahui dalam pengetahuan wujud itu sendiri tentang dirinya. Bagi Ibn `Arabi, pecinta mencintai bukanlah demi kepentingan cinta itu sendiri, melainkan sebuah pencapaian terhadap sesuatu yang tidak dimilikinya dari sang kekasih. Demikian pula makhluk mencintai Tuhan adalah agar Ia sebagai wujud sejati terus menerus melimpahkan wujud-Nya kepada mereka. Namun demikian makhluk tidak akan pernah mencapai tahap wujud karena hanya Dialah satu-satunya wujud hakiki. Ini pula yang menyebabkan Tuhan selalu mencintai makhluk, karena makhluk tidak akan pernah wujud, dan Dia akan selalu melimpahkan eksistensinya, karena Dia selalu ingin dikenal.
Daftar Pustaka
Erich Fromm, Modus Manusia: Menjadi dan Memiliki, LP3ES, Jakarta, 1983.
Ibn `Arabi, al-Futuhat al-Makkiyyah, 4 vol. (Kairo, 1911, dicetak ulang di Beirut: Dar al-Fikr, t.t.th.).
Ibn `Arabi, Fushusul Hikam, Kairo, 1991, dicetak ulang di Beirut: Dar al-Fikr, t.t.th.
Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1995.
Kautsar Azhari Noer, Ibn `Arabi: Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan, Jakarta: Paramadina, 1995.
K. Berteens, Filsafat Barat Abad XX (Jerman-Inggris), Gramedia, Jakarta,
Muhammad Atiyah Khamis, Rabi`ah al-Adawiyah, terj. Aliuddin Mahjuddin dari Rabi`ah El Adawiyah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993).
Mathias Haryadi, Membina Hubungan Antar Pribadi: Relasi Manusia dalam Filsafat Gabriel Marcel, Kanisius, Yogyakarta.
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn `Arabi`s Metaphysics of Imagination, New York: State of University of New York Press, 1989.
William C. Chittick, The Sufi Path of Love: The Spiritual Teaching of Rumi, (New York: State University of New York Press, 1983).
William C. Chittick, The Divine Roots of Human Love, dalam Journal of the Muhyiddin Ibn `Arabi Society, vol XVII, Oxford: Muhyiddin Ibn `Arabi Society, 1995
note ini saya copas dari note @ Alfathri Adlin
Bagi Ibn `Arabi, Tuhan adalah satu-satunya wujud dan segala sesuatu selain Tuhan adalah bukan wujud. Tuhan adalah sumber segala sesuatu yang ada termasuk pula cinta itu sendiri. Oleh karena hanya Tuhanlah yang benar-benar wujud atau bahkan dapat dikatakan bahwa Tuhan itulah wujud maka pernyataan Ibn `Arabi diatas dapat dipahami bahwa objek cinta Tuhan, yaitu manusia, adalah noneksis (`adam).
Salah satu term teknis yang cukup dikenal dan sering digunakan oleh Ibn `Arabi adalah `ayn tsabita (intisari yang tetap), yaitu sesuatu di alam semesta sebagaimana yang diketahui oleh Tuhan untuk seluruh keabadian. `Ayn tsabita ini identik dengan khazanah tersembunyi, maka tatkala Tuhan ingin menciptakan makhluk Ia berfirman kepadanya jadi, maka jadilah. Syaikhul-akbar menulis :
“Kata-kata Tuhan,`Aku adalah Khazanah Tersembunyi` mengafirmasikan `ayn tsabita`…… Hal itu disebutkan dalam kata-kata-Nya,`Ucapan Kami kepada sesuatu [tatkala Kami menginginkannya, adalah dengan mengatakan “jadi” maka jadilah`] [16:40].”
`Ayn tsabita merupakan sumber dimana segala sesuatu sebelum diciptakan berada karena ia adalah khazanah tersembunyi Tuhan. Sehingga sesuatu yang berada dalam khazanah ini adalah noneksis dalam hal sesuatu itu belum menjadi entitas yang eksis dalam alam semesta. Kemudian karena Ia cinta untuk dikenal maka berdasarkan pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu Ia kemudian menciptakan makhluk. Karena hanya Tuhanlah satu-satunya wujud maka kejadian penciptaan itu merupakan pelimpahan wujud Tuhan kepada sesuatu yang noneksis dalam `ayn tsabita, yang dalam istilah Ibn `Arabi disebut sebagai `ayn maujuda (intisari yang diwujudkan). Dan yang perlu dicatat adalah wujud yang dimiliki oleh sesuatu itu adalah bukan wujudnya sendiri melainkan wujud-Nya yang dipakaikan oleh Tuhan kepadanya, karena seperti yang Ibn `Arabi ungkapkan bahwa `ayn tsabita itu `tiada pernah mencium bau eksistensi`.
Dari hadist Khazanah tersembunyi kita mengetahui bahwa cinta Tuhan kepada sesuatu yang noneksislah yang membawanya eksis. Cinta menjadi motif kreatif penciptaan Tuhan, melalui cinta-Nya makhluk kemudian tercipta, dari noneksis menjadi eksis. Namun ada hal penting yang tidak boleh luput dari pandangan kita adalah bahwa yang eksis tetap terkait pada yang noneksis dan yang noneksis ini adalah yang menjadi objek cinta Tuhan. Akan tetapi karena makhluk adalah juga “meminjam” wujud-Nya dan merupakan lokus tajallinya maka pola cinta makhluk pun mengacu pula pada pola cinta Tuhan yang mencintai yang noneksisten. Sehingga eksistensi seluruh makhluk bergantung juga pada yang noneksis untuk eksis. Karena yang noneksis itu sendiri adalah akar segala ciptaan. Ibn `Arabi menulis :
Kami mempertahankan bahwa setiap efek gerak yang noneksis terhadap sesuatu yang eksis dimiliki oleh sesuatu yang noneksis. Tujuan tertinggi adalah noneksistensi. Itulah mengapa hal ini benar bagi para pencari untuk mencarinya. Tiada seorangpun menginginkan yang eksis. Jadi tujuan efek gerak yang noneksis adalah menyatukan yang bereksistensi. Dengan kata lain, sesuatu yang noneksislah yang menyebabkan penyatuan Tuhan kepada yang eksis apapun yang Ia satukan kepada yang eksis.
Jadi wujud dengan cintanya selalu ingin mengekspresikan, mengungkapkan dan mewujudkan apa yang tersembunyi. Sehingga dapat dikatakan pula bahwa cinta adalah tendensi inheren wujud untuk memanifestasikan, untuk menyatakan realitasnya dengan menampilkan dirinya sendiri kepada semua selain dirinya. Cinta adalah limpahan tak terbatas wujud dalam seluruh kemungkinan eksistensi, namun juga bersandar pada yang noneksis dalam diri mereka sendiri. `Ayn tsabita adalah sumber dari segala yang noneksis, dan tatkala Tuhan memberikan wujud kepadanya maka yang muncul adalah representasi dari wujud-Nya pula. Tapi karena tiada wujud selain diri-Nya sendiri maka representasi itu menampilkan kurang dari diri-Nya yang infinitif. Dan karenanya berbeda dari wujud itu sendiri.
Tuhan mencintai `ayn tsabita yang noneksis, dan tujuan cintanya adalah untuk memberikan eksistensi bagi entitas. Akan tetapi entitas sendiri tidak pernah berubah, karena entitas sendiri adalah `ayn tsabita. Menyebut entitas sebagai eksis adalah untuk penyederhanaan karena entitas sendiri tidaklah eksis, disebut eksis adalah ekspresi dari situasi yang tidak sebenarnya. Kecintaan Tuhan ditujukan bagi yang noneksis, selama ada cinta maka objek cinta akan tetap noneksis, mengenai hal ini Ibn `Arabi menulis :
“Cinta Tuhan terkait pada ciptaan karena ciptaan adalah noneksis. Jadi, ciptaan adalah objek cinta Tuhan secara konstan dan selamanya. Selama ada cinta, eksistensi ciptaan tak dapat dijadikan (ada) dengannya. Karena ciptaan tiada pernah menjadi eksis. (II 113.29)”
`Ayn tsabita tetap noneksis selamanya dalam diri mereka, tetapi karena cinta-Nya Ia membawanya ke dalam eksistensi secara terus menerus dan selamanya. Alam semesta sebagai manifestasi dari wujud-Nya, oleh karena itu dapat dikatakan Tuhan mencintai diri-Nya sendiri melalui sesuatu yang Ia pinjamkan wujud-Nya. Manusia, karena mencitrakan wujud juga memiliki sifat cinta. Objek cinta mereka juga noneksis dalam hubungan dengan diri mereka. Tatkala kita mencintai sesuatu yang eksis di alam ini, kita dapat saja beranggapan bahwa kita memang menemukan objek cinta kita. Dalam kasus ini secara tidak kita sadari telah menganggap adanya paling dua realitas di alam ini, pertama objek cinta kita dan kedua Tuhan itu sendiri. Akan tetapi jika memahami bahwa alam semesta seluruhnya tiada lain adalah pengungkapan diri Tuhan, maka objek cinta manusia tiada lain adalah Tuhan itu sendiri.
Objek cinta manusia adalah – sebagaimana Tuhan – juga sesuatu yang noneksis, yaitu Tuhan. Noneksis dalam hubungannya dengan mereka. Oleh karena itu mereka selamanya tidak akan pernah mencapai Tuhan dalam diri-Nya karena pengetahuan tentang diri-Nya hanyalah diketahui oleh diri-Nya sendiri. Manusia tidak akan pernah mencapai esensi Tuhan karena esensinya hanyalah Dia saja yang mengetahuinya. Sebuah pertanyaan akan muncul dari pernyataan tadi, lalu apakah sebenarnya yang para sufi cari ? Ibn `Arabi menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa Tuhan yang dapat kita temukan dan kita raih adalah Tuhan yang Dia singkapkan diri-Nya kepada kita. Diri Tuhan yang sebenarnya hanyalah Tuhan sendiri yang mengetahuinya akan tetapi bukankah diri-Nya yang Dia singkapkan adalah merupakan diri-Nya juga. Ibn `Arabi mengekspresikan keadaaan itu dengan istilah yang paling sering sulit untuk dipahami “Dia bukan Dia” (huwa la huwa). Oleh karena Tuhan-dalam-dirinya tidak dapat dicapai maka usaha tersebut sebenarnya adalah untuk kepentingan dan kemanfaatan manusia sendiri. Kepentingan menuju Tuhan bagi para sufi adalah untuk diri mereka sendiri, mereka mengalami kesegaran dan kebahagiaan dalam mengetahui, melihat, dan menyaksikan Tuhan dalam penyingkapan-dirinya sendiri. Ibn `Arabi mengatakan :
“Yang Maha Nyata tidak dapat dicari demi diri-Nya sendiri. Sebaliknya, Dia hanya dapat dicari demi kepentingan kemanfaatan. Walaupun, keuntungan pencarian adalah untuk mencapai objek yang dicari, namun Yang Nyata tidak dapat dicapai oleh seorangpun. Tegasnya Ia tidak dapat dicari oleh seorangpun di alam raya ini.”
Selanjutnya Ibn `Arabi menulis :
“Dalam hal esensi dan wujud-Nya, tiada apapun yang tegak terhadap Yang Maha Nyata. Dia tidak dapat diinginkan atau dicari dalam esensi-Nya. Apa yang para pencari cari dan orang yang berhasrat inginkan adalah hanya pengetahuan-Nya, penyaksian-Nya, atau melihat-Nya. Semua ini adalah dari Dia. Itu semua bukanlah diri-Nya.”
Oleh karena itu para ahl Allah tidaklah berusaha mencapai Tuhan, melainkan mencari kebahagiaan mereka sendiri, yaitu melihat Tuhan yang tiada berakhir baik di dunia ini dan di dunia yang berikutnya. Para ahl Allah juga sadar bahwa mereka tiada pernah akan dapat mencapai Tuhan yang mereka cintai, karena Tuhan adalah noneksis dalam hubungannya dengan mereka. Namun bagi mereka justru inilah sumber kesegaran dan kebahagiaan yang amat besar, karena dalam usaha mereka berjalan menuju Tuhan yang mereka cintai, mereka meninggalkan noneksistensi dan masuk ke dalam eksistensi secara terus menerus dan selamanya.
note ini saya copas dari note @ Alfathri Adli
Cinta dan Pemenuhan Eksistensi Manusia
Bertentangan dengan anggapan umum yang berpandangan bahwa objek dari yang dicintai adalah eksis, ada. Ibn `Arabi mengatakan bahwa objek cinta sebenarnya noneksis, ia mengatakan :
“Beberapa kesalahan dapat terjadi dalam cinta. Antara lain adalah bahwa orang-orang membayangkan objek cinta adalah sesuatu yang eksis… Faktanya, objek cinta tetap selamanya noneksis, tetapi kebanyakan pecinta tidak menyadari hal ini, jika mereka tidak menjadi orang-orang yang mengenal realitas.”
Hal ini dapat dipahami karena objek cinta adalah sesuatu yang sepenuhnya belum kita miliki. Kita mencintai sesuatu karena sesuatu itu memiliki kualitas atau apapun yang kita sendiri tidak memilikinya. Selama objek cinta belum tercapai maka objek cinta selamanya noneksis dalam hubungannya dengan pecinta, dalam hal ini Ibn `Arabi mengatakan :
“Cinta tiada pernah menjadi terkait dengan sesuatu pun kecuali dengan noneksistensi, ialah, suatu yang tidak eksis pada saat pengkaitan dibuat. Cinta berhasrat baik kepada yang eksis atau pada keterjadian objeknya. Saya katakan, `atau keterjadian`, karena cinta dapat terkait untuk membuat sesuatu yang eksis menjadi noneksis…
Kami telah katakan cinta menginginkan eksistensi objek cinta dan hal itu, dalam realitas, objek cinta adalah noneksis. Hal ini karena bagi sang pecinta, objek cinta berhasrat untuk mencapai kesatuan dengan individual yang khusus, siapapun adanya dia. Jika seseorang yang merasa dirinya cocok untuk dipeluk, maka ia akan selalu cinta untuk dipeluk. Jika seseorang merasa dapat memiliki dengan hubungan seksual, maka ia akan selalu senang dengan hubungan seksual. Jika seseorang merasa senang duduk, maka ia akan selalu ingin berada dalam kondisi duduk.
Karena cinta dari sang pecinta terkait hanya terhadap individu yang noneksis pada satu momen. Ia membayangkan bahwa cinta terkait pada seseorang, tetapi tidaklah demikian. Bayangan inilah yang mengundangnya untuk bertemu dan melihat kekasihnya. Ia tidaklah mencintai pribadi atau eksistensi sang kekasih dalam entitas, karena sang kekasih telah memiliki kepribadian atau eksistensi, jadi tidak akan ada untungnya cinta yang dikaitkan dengan kepribadian sang kekasih.”
Bayangan akan objek cintalah yang membuat pecinta terus menerus berkeinginan untuk bertemu dan memeluk sang kekasih, dan yang terjadi disini selanjutnya adalah berubahnya objek cinta. Karena objek cinta itu adalah noneksis dalam hubungan dengan pecinta maka yang terjadi adalah objek cinta menjadi kontinuitas dari apa yang akan dicapai, bukan pencapaian itu sendiri. Kontinuitas bukanlah sesuatu yang eksis. Kebalikannya adalah merupakan kedatangan, waktu demi waktu dari objek cinta yang noneksis. Ibn `Arabi menulis :
“Tatkala engkau memeluk seseorang, dan tatkala objek cintamu telah dipeluk, atau didekatkan, atau diintimkan, engkau belum mencapai objek cintamu lewat situasi ini. Karena bagi objekmu sekarang adalah kontinuitas dan keabadian dari apa yang telah engkau capai. Kontinuitas dan keabadian adalah noneksis. Mereka belum masuk ke dalam eksistensi dan periode mereka tidak berakhir. Karena , dalam waktu penyatuan, cinta sendiri terkait hanya pada sesuatu yang noneksis, dan itulah kontinuitas penyatuan.”
note ini saya copas dari note @ Alfathri Adli
Konsep Cinta Ibn `Arabi
Dalam seluruh karyanya Ibn `Arabi selalu memfokuskan pembicaraannya pada realitas, dan realitas itu sendiri adalah wujud. Realitas yang hakiki tiada lain adalah wujudul-haq, yaitu Tuhan sendiri. Sebagai satu-satunya wujud, Tuhan kemudian memanifestasikan diri-Nya melalui makhluk, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits khazanah tersembunyi yang Ibn `Arabi kutip dalam awal bab pembicaraannya tentang cinta : `Aku adalah khazanah tersembunyi, kemudian Aku rindu dikenal. Karena itu Aku menciptakan makhluk dan Aku membuat diriku dikenal oleh mereka, sehingga mereka datang untuk mengenalku`. Tuhan sebagai wujud hakiki tidaklah dikenal dalam diri-Nya sendiri. Ia adalah khazanah tersembunyi. Namun karena Tuhan cinta untuk dikenal maka Tuhan memanifestasikan diri-Nya dalam makhluk. Ada tiga cara dasar dimana Tuhan memanifestasikan dirinya, pertama melalui alam semesta, kedua melalui ayat-ayat dalam kitab suci-Nya, dan ketiga melalui diri-diri (jiwa-jiwa) manusia itu sendiri. Manusia dalam pandangan Ibn `Arabi adalah makhluk yang paling sempurna dari seluruh makhluk yang diciptakan oleh Allah karena manusia adalah lokus yang paling sempurna dalam memanifestasikan asma-asma-Nya. Dalam istilah lain dapat dikatakan bahwa manusia adalah cermin yang paling sempurna bagi Tuhan dalam melihat diri-Nya karena hanya pada manusialah nama-nama Tuhan seluruhnya tercakup.
Namun demikian Ibn `Arabi juga menegaskan bahwa tidak semua manusia dapat menjadi lokus sempurna Tuhan, hanya Insan Kamil-lah (manusia sempurna) yang dapat menjadi cermin buat Tuhan. Walaupun semua manusia diberikan potensi untuk menjadi Insan Kamil, namun hanya sedikit saja yang berhasil mencapai martabat itu. Kunci untuk mencapai martabat itu menurut Ibn `Arabi adalah pengenalan terhadap diri (jiwa) kita sendiri, karena bukankah kita adalah juga lokus manifestasi dari Dia. Salah satu hadits Nabi Saw yang sering dikutip oleh Ibn `Arabi menerangkan tentang hal ini bahwa “barang siapa mengenal jiwanya maka ia mengenal Tuhannya”. Namun seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa Tuhan pun memanifestasikan diri-Nya dalam alam semesta dan dalam ayat-ayat di kitab-kitab suci-Nya. Oleh karena itu pengenalan terhadap diri (jiwa) akan selaras dengan sejauh mana kita mengenal Diri Tuhan dalam alam semesta dan dalam ayat-ayat-Nya.
Bagi Ibn `Arabi, al-Qur`an adalah kunci bagi orang-orang yang ingin mengenal dirinya untuk kemudian mengenal “Diri” Tuhan. Al-Qur`an pun merupakan pengungkapan “Diri” Tuhan dalam cara yang paling dekat, dan karenanya pencarian kita untuk memahami realitas adalah dengan memahami makna al-Qur`an.
Dalam al-Qur`an subjek dari kata mencintai adalah Tuhan sendiri, dan manusia adalah objek dari cinta Tuhan, baik terhadap orang yang Ia cintai maupun orang yang Ia tidak cintai. Hal ini dapat dipahami—seperti dikemukakan diatas—karena hanya manusialah yang dapat menjadi cermin sempurna Tuhan. Salah satu realitas yang paling signifikan untuk memahami sifat manusia—dan karenanya juga realitas “Diri” Tuhan—adalah cinta. Sebagaimana wujud yang tak dapat didefinisikan, maka cinta juga adalah sesuatu yang ada namun kita tidak dapat mendefinisikannya, karena cinta—menurut Ibn `Arabi—adalah termasuk sesuatu yang dapat dikenali namun tidak dapat didefinisikan. Seseorang dapat mengenal cinta hanya tatkala ia merasakannya dan mendapati bahwa saat itu cinta ada dalam dirinya, sebagaimana yang Ibn ‘Arabi katakan :
“Ketahuilah bahwa sesuatu yang dikenali dapat dibagi ke dalam dua macam. Macam pertama dapat didefinisikan, dan macam yang lain tidak dapat didefinisikan. Barang siapa mengetahui dan membicarakan cinta setuju bahwa cinta merupakan salah satu yang tak dapat didefinisikan. Seseorang mengenalinya tatkala cinta tinggal di dalam dirinya dan tatkala cinta menjadi sifat-sifatnya sendiri. Seseorang tidak mengetahui apa cinta itu tetapi ia tidak dapat menyangkal eksistensinya.”
Bahkan secara tegas Ibn `Arabi mengatakan bahwa “Orang yang mendefinisikan cinta tidaklah mengetahuinya, dan orang yang belum merasakan dengan meminumnya belumlah mengetahuinya” (II. 111). Karena—Ibn `Arabi melanjutkan—cinta adalah `pengetahuan rasa` (IV), yang hanya dapat dirasakan dan dialami tetapi sulit untuk diungkapkan dalam ekspresi apapun kepada orang lain. Cinta, sebagaimana wujud itu sendiri yang tidak dapat dikenali dalam “dirinya” hanya dapat kita kenali dalam nama dan sifatnya dan hal itupun sejauh yang wujud itu sendiri ungkapkan kepada kita. Demikian pula cinta, hanya dapat kita kenali lewat nama dan sifatnya, cinta dalam dirinya yang absolut tidak dapat dilukiskan dan digambarkan.
Dari penjelasan diatas, kita dapat menemukan secara implisit bahwa cinta identik dengan wujud dalam hal ketidaksanggupan manusia untuk mengenal cinta dalam dirinya, cinta hanya dapat dikenal melalui `pengetahuan rasa` dalam diri kita sendiri. Cinta – sebagaimana wujud itu sendiri – hanya dapat dikenali lewat nama dan sifatnya. Jadi dapat dikatakan pula bahwa cinta adalah wujud itu sendiri atau cinta adalah Tuhan itu sendiri.
note ini saya copas dari note @ Alfathri Adlin
Hubungan Cinta dan Iman
Ada tiga dimensi dalam dunia tasawuf, yang pertama adalah hukum atau syari`at (the Law), kedua adalah jalan atau thariqah (the Way) dan ketiga adalah hakikat (the Truth). Bagi para pejalan (salik) yang ingin menuju Allah Swt, ketiga dimensi ini tidak dapat dipisahkan karena ketiganya adalah merupakan sebuah rangkaian yang integral. Thariqah tidak akan dapat dilaksanakan tanpa adanya hukum, ibarat jalan tidak akan ada yang dapat melaluinya jika tidak disertai lampu dan rambu-rambu yang menginformasikan kondisi dari jalan tersebut. Demikian pula halnya dengan hukum (the Law) juga hanya akan sampai pada sisi formalitas dan kulitnya jika tanpa disertai dengan penghayatan dan pengamalan, oleh karena itu diperlukanlah jalan/thariqah.
Pada yang terakhir inilah kita dapat melihat hubungan antara iman dan cinta. Iman adalah sebuah puncak kesadaran akan kesempurnaan dan kebesaran Tuhan. Ini adalah syarat utama yang harus dipenuhui oleh seorang yang ingin menuju Allah. Iman merupakan pondasi yang menentukan perjalanan seorang salik menuju Allah. Jika imannya teguh dan kokoh maka teguh pulalah ia menjalani hambatan dan rintangan yang menghadangnya dalam perjalanan menuju Allah Swt.
Sementara cinta adalah suatu maqam (station) dalam pencapaian menuju Tuhan. Banyak sufi yang menghubungkan cinta dengan tahapan-tahapan seseorang dalam menuju Tuhannya. Pencapaian ini akan berhasil apabila pejalan (salik) berbekalkan iman yang kuat. Dia tidak akan pernah dapat melanjutkan tahapan-tahapan dalam menuju Tuhan jika ia tidak berpijak pada landasan iman yang kuat. Jadi tidak ada cinta tanpa iman yang kuat.
Objek Cinta dan Ketuhanan
Seperti cinta yang sulit untuk dilukiskan dan dijelaskan, maka objek cintapun berlabuh pada sesuatu yang sejati dan hakiki, dan ini hanya terdapat dalam “diri” Tuhan. Bagi para sufi Tuhan adalah objek cinta sejati, yang hanya dengan melalui-Nyalah kita baru akan mendapat makna kesejatian. Dalam al-Qur`an, diterangkan bahwa Tuhan pun memiliki sifat mencintai dan disisi yang lain manusia pun juga memiliki rasa mencintai ini, cinta Tuhan diarahkan bagi hamba-hambanya yang mencintai-Nya dengan melaksanakan segala perintah-Nya. Demikian pula manusia juga mencintai Tuhan agar Ia menempatkan mereka disisi-Nya dalam keabadian-Nya. Cinta kepada Tuhan agar Ia menyingkapkan tabir rahasia-Nya, dan ini bukanlah cinta demi diri mereka sendiri. Namun cinta demi Tuhan, demikian pula cinta Tuhan kepada manusia adalah untuk menaikkan manusia ke sisi-Nya agar manusia mencapai kedamaian dan keabadian.
note ini saya copas dari note @ Alfathri Adlin
Definisi Cinta
Dr. Nurcholis Madjid membagi pemahaman terhadap ajaran Islam kepada dua hal: pertama, pemahaman secara eksoterik; kedua, pemahaman secara esoterik atau batini. Karena cinta adalah menyangkut aspek dalam (inward) dari diri manusia maka pada para sufilah perbincangan tentang cinta dapat kita temukan khazanahnya yang lebih kaya.
Beberapa sufi menuangkan rasa cintanya ke dalam bait syair-syair mereka, diantaranya yang paling menonjol adalah Rabi`ah al-Adawiyah (714-801 M) dan Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273 M).
Baik Rabi`ah maupun Rumi berpendapat sama bahwa kita tidak akan dapat mendefinisikan apa itu cinta. Karena cinta merupakan semata-mata sesuatu yang harus dirasakan untuk mengetahuinya. Rabi`ah sewaktu ada orang yang menanyakan kepadanya tentang cinta menjawab :
“Sukar menjelaskan apa hakikat cinta itu. Ia hanya memperlihatkan kerinduan gambaran perasaan. Hanya orang yang merasakannya dapat mengetahui. Bagaimana mungkin engkau dapat menggambarkan sesuatu yang engkau sendiri bagai telah hilang dari hadapan-Nya, walaupun wujudmu masih ada oleh karena hatimu yang gembira telah membuat lidahmu bungkam.”
Rumi bahkan menegaskan bahwa tidaklah mungkin menjelaskan cinta. Orang bisa saja mendiskusikannya namun ia tidak akan pernah dapat memahaminya tanpa merasakannya. Dimanapun, hasilnya akan sama: cinta tidak akan pernah secara benar diekspresikan oleh kata-kata. Cinta secara fundamental merupakan sebuah pengalaman perasaan yang melampaui batas-batas pikiran. Rumi berkata :
Tak peduli apa yang aku katakan untuk menjelaskan dan menguraikan cinta, malu mengatasiku tatkala aku mendatangi cinta itu sendiri.
Cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita; cinta adalah sebuah samudra yang dalamnya tak dapat diukur.
Maukah engkau mencoba menghitung tetesan air laut? Sebelum samudra itu, tujuh lautan bukanlah apa-apa.
Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan, buku-buku dan lembaran-lembaran halaman. Apapun yang orang-orang bicarakan– itu bukanlah jalan pecinta-pecinta.
Apapun yang engkau katakan atau dengar, adalah kulitnya: intisari cinta adalah misteri yang tak dapat dibukakan.
Cukuplah! berapa lama lagi akan kau lengketkan kata-kata ini di lidahmu? cinta memiliki banyak pernyataan melampaui pembicaraan.
Diamlah! diamlah! Karena kiasan-kiasan cinta malah menjadi terkalahkan: makna-makna menjadi tersembunyi karena banyak pembicaraan.
Seseorang bertanya, “apa cinta itu?” Aku tegaskan, “jangan tanya tentang makna-makna ini. Tatkala engkau menjadi sepertiku, engkau lalu akan tahu. Tatkala Ia menyerumu, engkau akan menceritakan hikayatnya”.
Wahai engkau yang telah mendengarkan omongan tentang cinta, lihatlah cinta! Kata-kata apakah dalam telinga jika dibandingkan dengan penglihatan dalam mata?”
Cinta selalu harus dialami untuk dimengerti. Namun kita masih dapat menemukan karakteristik dari cinta sebagai sebuah realitas yang dieksiskan, selama kita sadar cinta bukanlah untuk didiskusikan. Jika para sufi menyatakannya, itu hanyalah untuk membuat pijakan hasrat cinta bagi hati orang yang mau mendengar. Rumi berkata : “Apakah cinta itu? Dahaga yang sempurna. Kemarilah, akan aku jelaskan tentang air kehidupan”.
Cinta adalah sesuatu yang sulit untuk dirumuskan karena cinta sangat terkait dengan perasaan kerinduan kepada yang dicinta. Meski demikian—sebagaimana pula Rumi—Rabi`ah telah membuat rumusan analisis melalui rangkaian kata-katanya yang sangat terkenal :
Aku mencintaimu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena Diri-Mu
Cinta karena diriku
Adalah keadaanku senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena Diri-Mu
Adalah keadaan-Mu menyingkapkan tabir hingga
Engkau kulihat
Baik untuk ini maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mulah pujian untuk kesemuanya.
Baik bagi Rumi maupun Rabi`ah, cinta adalah suatu kedekatan kepada Tuhan yang kemudian menjadi sulit untuk dilukiskan karena memerlukan kedekatan itu sendiri. Cinta mesti ditemui dan dimasuki untuk menemukan maknanya yang hakiki. Penemuan makna cinta hanyalah dapat ditemui dalam “Diri” Tuhan sebagai suatu tujuan hakiki cinta dan arah dimana cinta itu mesti ditujukan. Karena Tuhan sendirilah makna hakiki dari cinta.
note ini saya copas dari note @ Alfathri Adlin
oleh Hidayat Oceandar C. F.
“Beberapa kesalahan dapat terjadi dalam cinta. Antara lain adalah bahwa orang-orang membayangkan objek cinta adalah sesuatu yang eksis……Faktanya, objek cinta tetap selamanya noneksis, tetapi kebanyakan pecinta tidak menyadari hal ini, jika mereka tidak menjadi orang-orang yang mengenal realitas.”
(Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah, Vol. 2, hal. 337)
Adalah “cinta” sebuah kata yang begitu sering diungkapkan oleh para remaja dan pemaknaannya pun seringkali tak lebih hanya sebagai gerbang menuju “pacaran”. Atau bahkan hanya menjadi sebuah kata yang membolehkan sepasang anak manusia untuk saling “mengasihi”, membuat mereka dapat berjalan saling bergandengan, menonton bersama, bahkan tidak jarang mereka pun dapat saling bercumbu, dan entah apalagi. Ungkapan “aku cinta padamu” seakan menjadi awal bagi terbukanya sebuah dunia baru, yaitu dunia yang saling memperhatikan, kasih-mengasihi, dan tidak jarang saling memiliki dalam banyak hal.
Akan tetapi kata “cinta” pun sering menjadi sumber bencana seperti yang ditemukan pada kasus bunuh diri karena putus cinta atau pembunuhan antar remaja karena cemburu. Betulkah cinta menghasilkan pembunuhan? Bukankah cinta pada dasarnya menyimpan energi yang saling merawat saling mengasihi, dan bukan sebaliknya? Cinta dalam realitas para remaja tersebut telah menjadi sesuatu yang tidak agung lagi. Barangkali hal tersebut bersumber dari konsep cinta yang tidak benar, yaitu pada saat cinta mengalami inflasi; ia yang semula berasal dari keagungan hati nurani berubah menjadi hanya sekedar pemuas syahwat dan hawa nafsu. Karenanya tak jarang ditemukan kata cinta yang dilontarkan begitu saja untuk kemudian diingkari seketika itu juga.
Dalam khazanah tasawuf dikenal juga kata cinta atau mahabbah. Konsep ini di samping berbicara tentang cinta Tuhan juga berbicara tentang bagaimana cinta antar sesama manusia diletakkan di kehidupan dalam hubungannya dengan cinta Tuhan; karena tatkala seseorang mencintai Allah maka akan muncul rasa cinta kepada sesama. Rasa cinta ini muncul tiada lain karena ia merupakan manifestasi dari rasa cinta kepada Tuhannya. Cinta sejati menurut para sufi akan membangun moral kebaikan dan menentang setiap keburukan, karena para sufi mengetahui bahwa Tuhan sebagai tujuan mereka mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Dari gambaran di atas dapat dikemukakan asumsi bahwa konsep cinta yang profan akan mengakibatkan hilangnya eksistensi diri manusia; dan ada bentuk cinta lain yang lebih menyelamatkan yaitu cinta yang ditawarkan dunia sufi, seperti yang dikemukakan oleh Ibn `Arabi. Di sini kita akan mencoba menggunakan analisis teori Fromm tentang modus berada manusia. Erich Fromm, seorang psikoanalis sosial, mengemukakan bahwa manusia mempunyai dua modus untuk mengada dalam hidupnya. Dua modus ini akan menentukan apa yang akan diperoleh manusia, bahagia atau susah. Modus ini mendasari bagaimana manusia menanggapi realitas, menganggap diri, dan makna diri di tengah permasalahan kehidupan. Dua modus itu ialah memiliki (to have) dan menjadi (to be).
Modus memiliki (to have) terjadi jika manusia melihat “yang lain”—sesuatu di luar dirinya—sebagai miliknya dan karenanya harus dimiliki atau dikuasai. Pandangan ini berasal dari keyakinan bahwa diri manusia sebagai diri yang sempurna yang menentukan keberadaan dan kebergunaan sesuatu “yang lain”. Tanpa diri manusia sesuatu yang lain tak mempunyai nama, dan dengan demikian keberadaannya tidak diakui. Sebuah pandangan yang secara umum diyakini oleh Descartes atau Filsafat Barat secara umum.
Modus ini secara sepintas akan menghasilkan eksistensi diri yang luar biasa di mana sang diri merasa ada pada saat ia sanggup mendefinisikan yang lain, atau menghasilkan bentuk baru dari sesuatu yang semula berbentuk, atau pada saat sang diri sanggup memformulasikan suatu hal yang semula abstrak. Namun pada sisi yang lebih tajam akan terlihat bagaimana modus ini sebenarnya menyebabkan hilangnya eksistensi yang lain. Hal ini disebabkan karena diri “yang lain” tidak diizinkan merumuskan dirinya sebagaimana adanya tetapi dirumuskan sesuai dengan kepentingan diri pengamat. Pada titik inilah modus ini akan terjerembab pada pengeksploitasian “yang lain”. Atau dalam bahasa Martin Buber “yang lain” dipandang tak lebih sebagai “objek” yang harus dimiliki dan dikuasai masa depannya. Buber menamakan hubungan antara diri dan “yang lain” ini sebagai relasi I-It.
Penguasaan “yang lain” ini tidak hanya membatasi eksistensinya, tetapi juga membatasi eksistensi diri. Karena dengan meyakini bahwa sang diri bisa eksis hanya dengan menguasai suatu hal maka makna diri hanya diyakini ada pada saat menguasai yang lain saja. Keyakinan ini menghilangkan kemungkinan manusia untuk berada dengan cara yang lain, seperti dengan cara mengasihi satu sama lain.
Sedang modus menjadi (to be) terjadi jika diri manusia menganggap “yang lain” sejajar, tidak sebagai objek, dan berguna bagi pemaknaan diri sejati. Penganggapan ini akan mempengaruhi cara mendapatkan atau mendefinisikan sesuatu bagi sang diri. Sesuatu yang lain dimengerti dan didapatkan bukan karena dikuasai tetapi dengan cara digauli, dijaga dan dipelihara. Pemengertian sesuatu bukan dengan pendefinisian (pembatasan) tetapi dengan “menjadi” sesuatu tersebut.
Cara menjadi adalah mengasihi dan menjaga “yang lain”. Sehingga apa yang diinginkan “yang lain” dipenuhi dan apa yang dihindari oleh “yang lain” disingkirkan. Untuk menggambarkan perbedaan antara menjadi dan memiliki ini Fromm menggunakan amsal ketertarikan seseorang terhadap sekuntum mawar.
Pada saat seorang gadis melihat sekuntum mawar, biasanya gadis tersebut akan memetiknya dan mendekap sambil memuji keharuman serta keindahan warnanya. Dengan cara itu sang gadis merasa telah mendapatkan bunga itu secara utuh. Padahal tidak lama setelah itu, mawar tersebut akan layu dan tidak bisa dinikmati keindahan dan keharumannya karena sang mawar akan mati, dengan demikian si gadis akan kehilangan bunga itu. Inilah yang disebut dengan modus memiliki; sebuah tindakan manusia yang akan mengakibatkan kematian “yang lain” sekaligus kegelisahan karena mengalami kehilangan yang terus menerus.
Namun ada juga yang tertarik pada mawar tidak dengan memetiknya, melainkan dengan merawatnya pada sebuah wadah yang subur. Bunga itu dirawatnya, dijaga dari apa yang mungkin mengganggunya yang dengan cara ini si gadis bisa menikmati mawar itu dalam waktu yang lebih lama. Inilah yang disebut Fromm sebagai modus menjadi (to be).
Dengan cara inilah masing-masing diri (manusia dan “yang lain”) menemukan kepenuhan dirinya, yaitu masing-masing ada secara nyata, sebagaimana adanya, tanpa saling menghilangkan. Cara ini dalam kerangka filsafat Martin Buber disebut dengan hubungan I-Thou, yaitu hubungan yang melihat “yang lain” tidak sebagai objek melainkan sebagai “yang agung” dan berharga bagi pemenuhan diri yang utuh.
Kedua-duanya menjadi cara bagi manusia untuk melakukan sesuatu, termasuk dalam mencintai “yang lain”. Cinta (mahabbah) terhadap Tuhan yang baik adalah mahabbah yang didasarkan pada dasar ingin “menjadi” (to be) yang dicintai, bukan ingin “memiliki” (to have). Cara “menjadi” ini diungkapkan dengan jalan memenuhi segala apa yang diinginkan Yang Dicinta, menganggap berharga segala apa yang datang dari-Nya, serta menganggap bahwa dalam segala hal yang ditemuinya tersimpan wajah-Nya. Pada saat itulah manusia akan menemukan dirinya dalam Diri Tuhan. Sedang cara “memiliki” adalah cara memahami Tuhan dengan mengkotak-kotakkannya dalam kepentingan manusia, sehingga Tuhan hanya bermakna parsial belaka. Tentu saja dengan cara ini Tuhan akan ‘mati’ dan begitu pula manusia.
(read more ...)
Mei
10
Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.(QS. Al Baqarah: 238)
Dalam kalender Hijriyah, permulaan hari diawali sejak terbenamnya matahari, bukan saat tengah malam. Lalu, hubungan dengan sholat wustha apa? Menurut sebagian ulama, sholat wustha adalah sholat pertengahan.
Kalau mengikuti kalender Masehi, urutan sholatnya dimulai dari Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Maka sholat wustha ada pada waktu Ashar.
Tapi, kalau waktu sholat dimulai dari awal pergantian hari menurut kalender Hijriyah, maka sholat wustha berada pada waktu Subuh (Maghrib, Isya, Subuh, Dhuhur, dan Ashar)
Sedangkan, kalau merujuk pada arti tengah, bisa jadi sholat wustha adalah sholat yang dilakukan saat tengah hari atau Dhuhur.
Atau, menurut kalender Hijriyah karena pergantian hari dihitung saat Maghrib maka:
Awal hari dimulai pukul 18.00 dan berakhir pukul 18.00 hari berikutnya, dan dapat dibagi menjadi tiga waktu. Yaitu, pukul 18.00 - 02.00, dilanjutkan 02.00 - 10.00, dan berakhir pada 10.00 - 18.00. Maka waktu tengah bisa jadi antara pukul 02.00 - 10.00 yang berisikan Sholat Subuh dan beberapa sholat sunnah lain seperti Shalat Tahajjud, Witir, Istikarah, Hajat dan Dhuha.
Hanya saja, sholat Subuh...bisa jadi calon kuat sholat wustha. Karena, selain sholat Isya...sholat Subuh biasanya paling berat untuk dilakukan, terlebih diawal waktu dan berjamaah.
wallahu alam
Mei
09
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)
Saat melakukan sholat, berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikannya? Taruhlah 2 menit tiap rakaat, maka...pahala akan mengalir selama 2 menit juga(tiap rakaat)
Saat membaca Al Quran, misal 10 menit. Disamping kita mendapat beroleh 1 huruf dibalas 10 kebaikan, pahala membaca Al Quran juga mengalir selama 10 menit.
Saat berpuasa, pahala pun akan mengalir selama kita tidak membatalkan puasa tersebut. Seluruh aktifitas kita dalam keadaan puasa akan diberi pahala.
Sedangkan saat mendapat ujian, dan kita bersabar. Berapa banyak pahala yang mengalir karena kesabaran kita? bukankah tanpa batas? Selama ujian itu berlangsung, kesabaran kita dalam menghadapinya juga akan mendapat balasan. Bahkan ketika kita tertidur karena terlalu lelah memikirkan permasalahan yang tengah kita hadapi.
“Sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An Nahl: 96)
Wallahu alam
Alloh berfirman:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Alloh kepadanya. Alloh tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Alloh berikan kepadanya. Alloh kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Thalaq: 7)
“Barangsiapa memberi pinjaman kepada Alloh dengan pinjaman yang baik, maka Alloh akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al Hadid: 11)
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Alloh akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
Rasul saw bersabda:
“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; "Ya Alloh berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata; "Ya Alloh berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil)." (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558)
Ibnu Athoillah berkata:
Bila engkau menuntut imbalan atas suatu amal, pasti engkau pun akan dituntut untuk tulus dalam melakukannya. Dan bagi yang merasa belum sempurna, cukuplah bila ia telah selamat dari tuntutan.
(read more ...)Mei
04
Di suatu masa, kita telah berbicara dengan Alloh. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al A’raaf: 172) Setelah itu, kita dikirimNya ke dunia melalui perantaraan tubuh yang dibentukNya dalam rahim. Sebuah ’kendaraan’ telah dipersiapkan. "Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan" (QS. Az Zumar: 6) "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati..." (QS. As Sajdah: 9) Dan kemudian, dilahirkan sebagai seorang anak, hidup - bertumbuh, sampai pada waktu yang telah ditentukan (dengan membawa serta ’diri’ yang telah berbicara dengan Alloh) "Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu..." (QS. Al Mu’min: 67) Hingga tiba waktu kematian sang ’kendaraan’. Yang menjadi pertanyaan adalah: Kenapa kita tidak ingat pernah berbicara padaNya? Karena, yang bersaksi bukanlah tubuh yang dibentuk Alloh di rahim ibu kita. ’Kendaraan’ yang memiliki nafsu dan syahwat ini tidak berhubungan dengan kejadian itu. Sebaiknya tidak menggunakan otak untuk mengingat kejadian ini. Hanya ’diri kita’ yang mampu untuk mengingatnya. "Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (QS. Qaaf: 22) Sahabat, Alloh telah memberikan kita surat cinta dan peringatan, agar kita mampu mengingat dan kembali padaNya dengan bersih. Jangan kotori jiwamu. Pikirkanlah. Jangan sampai...tatkala ’kendaraan’ telah kembali menjadi tanah...dan semua hal menjadi teramat jelas dan ... terlambat.
True Love (Cinta Sejati)
Oleh: M. R. Bawa Muhaiyaddeen
Seorang bijak berkata kepadaku, “Anakku, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?” Merasa diri ini memang belum paham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiap hikmah yang menyemburat seperti cahaya.
Anakku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkap esensi cinta yang akan aku sampaikan. Simpan pertanyaanmu nanti, karena setiap pertanyaan itu terlahir dari akal. Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak. Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu menangkap esensi cinta.
Lihat batang bunga mawar itu. Dia punya potensi untuk mempersembahkan bunga merah dan harum yang semerbak. Namun jika batang itu tak pernah ditanam, tak akan pernah mawar itu menghiasi kebunmu. Maka, hanya dengan membuka diri untuk tumbuhnya akar dan daun lah, batang mawar itu akan melahirkan bunga mawar yang harum. Demikian juga dengan hatimu, anakku. Kau harus membukanya, agar potensi cinta yang terkandung di dalamnya bisa merekah, lalu menyinari dunia sekitarmu dengan kedamaian.
Anakku, begitu sering kau bicara cinta. Cinta kepada istri, cinta kepada anak, cinta kepada agama, cinta kepada bangsa, cinta kepada filosofi, cinta kepada rumah, cinta kepada kebenaran, cinta kepada Tuhan… Apakah isi atau esensi dari cintamu itu? Kau bilang itu cinta suci, cinta sejati, cinta yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, cinta sepenuh hati, cinta pertama, … Apakah benar begitu, anakku?
Mungkin di kampung kau punya seekor kuda. Begitu sayangnya kau pada kuda itu. Setiap hari kau beri makan, minum, kau rawat bulunya, kau bersihkan, kau ajak jalan-jalan. Seolah kuda itu telah menjadi bagian dari hidupmu, seperti saudaramu. Kau mencintai kuda itu sepenuh hati. Namun, suatu ketika datang orang yang ingin membelinya dengan harga yang fantastis. Hatimu goyah, dan kau pun menjualnya. Cintamu tidak sepenuh hati, karena kau rela menjual cinta. Kau mencintai kuda, karena kegagahannya membuatmu bangga dan selalu senang ketika menungganginya. Namun, ketika datang harta yang lebih memberikan kesenangan, kau berpaling. Kau cinta karena kau mengharapkan sesuatu dari yang kau cintai. Kau cinta kudamu, karena mengharapkan kegagahan. Cintamu berpaling kepada harta, karena kau mengharapkan kekayaan. Ketika keadaan berubah, berubah pula cintamu.
Kau sudah punya istri. Begitu besar cintamu kepadanya. Bahkan kau bilang, dia adalah pasangan sayapmu. Tak mampu kau terbang jika pasangan sayapmu sakit. Cintamu cinta sejati, sehidup semati. Namun, ketika kekasihmu sedang tak enak hati yang keseratus kali, kau enggan menghiburnya, kau biarkan dia dengan nestapanya karena sudah biasa. Ketika dia sakit yang ke lima puluh kali, perhatianmu pun berkurang, tidak seperti ketika pertama kali kau bersamanya. Ketika dia berbuat salah yang ke sepuluh kali, kau pun menjadi mudah marah dan kesal. Tidak seperti pertama kali kau melihatnya, kau begitu pemaaf. Dan kelak ketika dia sudah keriput kulitnya, akan kau cari pengganti dengan alasan dia tak mampu mendukung perjuanganmu lagi? Kalau begitu, maka cintamu cinta berpengharapan. Kau mencintainya, karena dia memberi kebahagiaan kepadamu. Kau mencintainya, karena dia mampu mendukungmu. Ketika semua berubah, berubah pula cintamu.
Kau punya sahabat. Begitu sayangnya kau kepadanya. Sejak kecil kau bermain bersamanya, dan hingga dewasa kau dan dia masih saling membantu, melebihi saudara. Kau pun menyatakan bahwa dia sahabat sejatimu. Begitu besar sayangmu kepadanya, tak bisa digantikan oleh harta. Namun suatu ketika dia mengambil jalan hidup yang berbeda dengan keyakinanmu. Setengah mati kau berusaha menahannya. Namun dia terus melangkah, karena dia yakin itulah jalannya. Akhirnya, bekal keyakinan dan imanmu menyatakan bahwa dia bukan sahabatmu, bukan saudaramu lagi. Dan perjalanan kalian sampai di situ. Kau mencintainya, karena dia mencintaimu, sejalan denganmu. Kau mendukungnya, mendoakannya, membelanya, mengunjunginya, karena dia seiman denganmu. Namun ketika dia berubah keyakinan, hilang sudah cintamu. Cintamu telah berubah.
Kau memegang teguh agamamu. Begitu besar cintamu kepada jalanmu. Kau beri makan fakir miskin, kau tolong anak yatim, tak pernah kau tinggalkan ibadahmu, dengan harapan kelak kau bisa bertemu Tuhanmu. Namun, suatu ketika orang lain menghina nabimu, dan kau pun marah dan membakar tanpa ampun. Apakah kau lupa bahwa jalanmu mengajak untuk mengutamakan cinta dan maaf? Dan jangankan orang lain yang menghina agamamu, saudaramu yang berbeda pemahaman saja engkau kafirkan, engkau jauhi, dan engkau halalkan darahnya. Bukankah Tuhanmu saja tetap cinta kepada makhlukNya yang seperti ini, meskipun mereka bersujud atau menghinaNya? Kau cinta kepada agamamu, tapi kau persepsikan cinta yang diajarkan oleh Tuhanmu dengan caramu sendiri.
Anakku, selama kau begitu kuat terikat kepada sesuatu dan memfokuskan cintamu pada sesuatu itu, selama itu pula kau tidak akan menemukan True Love. Cintamu adalah Selfish Love, cinta yang mengharapkan, cinta karena menguntungkanmu. Cinta yang akan luntur ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Dengan cinta seperti ini kau ibaratnya sedang mengaspal jalan. Kau tebarkan pasir di atas sebuah jalan untuk meninggikannya. Lalu kau keraskan dan kau lapisi atasnya dengan aspal. Pada awalnya tampak bagus, kuat, dan nyaman dilewati. Setiap hari kendaraan lewat di atasnya. Dan musim pun berubah, ketika hujan turun dengan derasnya, dan truk-truk besar melintasinya. Lapisannya mengelupas, dan lama-lama tampak lah lobang di atas jalan itu. Cinta yang bukan True Love, adalah cinta yang seperti ini, yang akan berubah ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Kau harus memahami hal ini, anakku.
Sekarang lihatlah, bagaimana Tuhanmu memberikan cintaNya. Dia mencintai setiap yang hidup, dengan cinta (rahman) yang sama, tidak membeda-bedakan. Manusia yang menyembahNya dan manusia yang menghinaNya, semua diberiNya kehidupan. KekuasaanNya ada di setiap yang hidup. Dia tidak meninggalkan makhlukNya, hanya karena si makhluk tidak lagi percaya kepadanya. Jika Dia hanya mencintai mereka yang menyembahNya saja, maka Dia namanya pilih kasih, Dia memberi cinta yang berharap, mencintai karena disembah. Dia tidak begitu, dia tetap mencintai setiap ciptaanNya. Itulah True Love. Cinta yang tak pernah berubah, walau yang dicintai berubah. Itulah cinta kepunyaan Tuhan. Anakku, kau harus menyematkan cinta sejati ini dalam dirimu. Tanam bibitnya, pupuk agar subur, dan tebarkan bunga dan buahnya ke alam di sekitarmu.
Dan kau perlu tahu, anakku. Selama kau memfokuskan cintamu pada yang kau cintai, maka selama itu pula kau tak akan pernah bisa memiliki cinta sejati, True Love. Cinta sejati hanya kau rasakan, ketika kau melihat Dia dalam titik pusat setiap yang kau cintai. Ketika kau mencintai istrimu, bukan kecantikan dan kebaikan istrimu itu yang kau lihat, tapi yang kau lihat “Ya Allah! Ini ciptaanMu, sungguh cantiknya. Ini kebaikanMu yang kau sematkan dalam dirinya.” Ketika kau lihat saudaramu entah yang sejalan maupun yang berseberangan, kau lihat pancaran CahayaNya dalam diri mereka, yang tersembunyi dalam misteri jiwanya. Kau harus bisa melihat Dia, dalam setiap yang kau cintai, setiap yang kau lihat. Ketika kau melihat makanan, kau bilang “Ya Allah, ini makanan dariMu. Sungguh luar biasa!” Ketika kau melihat seekor kucing yang buruk rupa, kau melihat kehidupanNya yang mewujud dalam diri kucing itu. Ketika kau mengikuti sebuah ajaran, kau lihat Dia yang berada dibalik ajaran itu, bukan ajaran itu yang berubah jadi berhalamu. Ketika kau melihat keyakinan lain, kau lihat Dia yang menciptakan keyakinan itu, dengan segala rahasia dan maksud yang kau belum mengerti.
Ketika kau bisa melihat Dia, kemanapun wajahmu memandang, saat itulah kau akan memancarkan cinta sejati kepada alam semesta. Cintamu tidak terikat dan terfokus pada yang kau pegang. Cintamu tak tertipu oleh baju filosofi, agama, istri, dan harta benda yang kau cintai. Cintamu langsung melihat titik pusat dari segala filosofi, agama, istri, dan harta benda, dimana Dia berada di titik pusat itu. Cintamu langsung melihat Dia.
Dan hanya Dia yang bisa memandang Dia. Kau harus memahami ini, anakku. Maka, dalam dirimu hanya ada Dia, hanya ada pancaran cahayaNya. Dirimu harus seperti bunga mawar yang merekah. Karena hanya saat mawar merekah lah akan tampak kehindahan di dalamnya, dan tersebar bau wangi ke sekitarnya. Mawar yang tertutup, yang masih kuncup, ibarat cahaya yang masih tertutup oleh lapisan-lapisan jiwa. Apalagi mawar yang masih berupa batang, semakin jauh dari terpancarnya cahaya. Bukalah hatimu, mekarkan mawarmu.
Anakku, hanya jiwa yang telah berserah diri saja lah yang akan memancarkan cahayaNya. Sedangkan jiwa yang masih terlalu erat memegang segala yang dicintainya, akan menutup cahaya itu dengan berhala filosofi, agama, istri, dan harta benda. Lihat kembali, anakku, akan pengakuanmu bahwa kau telah berserah diri. Lihat baik-baik, teliti dengan seksama, apakah pengakuan itu hanya pengakuan sepihak darimu? Apakah Dia membernarkan pengakuanmu? Ketika kau bilang “Allahu Akbar,” apakah kau benar-benar sudah bisa melihat keakbaran Dia dalam setiap yang kau lihat? Jika kau masih erat mencintai berhala-berhalamu, maka sesungguhnya jalanmu menuju keberserahdirian masih panjang. Jalanmu menuju keber-Islam-an masih di depan. Kau masih harus membuka kebun bunga mawar yang terkunci rapat dalam hatimu. Dan hanya Dia-lah yang memegang kunci kebun itu. Mintalah kepadaNya untuk membukanya. Lalu, masuklah ke dalam taman mawarmu. Bersihkan rumput-rumput liar di sana, gemburkan tanah, sirami batang mawar, halau jauh-jauh ulat yang memakan daunnya. Kemudian, bersabarlah, bersyukurlah, dan bertawakkallah. InsyaAllah, suatu saat, jika kau melakukan ini semua, mawar itu akan berbunga, lalu merekah menyebarkan bau harum ke penjuru istana.
Semoga Allah membimbingmu, anakku.
*********
:: Artikel diambil dari http://surrender2god.wordpress.com/2007/03/28/true-love/
(read more ...)Apr
24
Ketika semua jalan yang kulalui terasa membawaku kepadamu
Ketika setiap pertanda terasa mengarah kepadamu
Semakin membuatku khawatir bahwa kamu telah menemukan seseorang
Ketika Tuhan mengijinkanku merasakan cinta, aku ingin membuatNya juga mengijinkanku mengerti akan cintaNya. Melalui rasa cinta ini, aku memohon supaya Tuhan juga semakin mendekatkan diriku padaNya. Dapat merasakan cintaNya dan mengerti tentang cinta yang sesungguhnya, dan mampu mengaplikasikan cintaNya pada sesama.
Dengan mencintai, aku menjadi mampu merasakan kebesaran cintaNya
Dengan mencintai, aku menjadi mampu merasakan pemberianNya
(dengan sadar)Aku menemukan bahwa Tuhan menjadi sangat penting dalam hidupku, setiap hari, setiap waktu, DIA senantiasa memanggilku, untuk menemukan cintaNya(yang seringkali luput dari pengamatanku).
Aku mencintaimu...bukanlah kata-kata yang mudah untuk dipertanggungjawabkan. Ketika telah terucap, kata ini menuntut pembuktian. Sama halnya ketika Tuhan mengatakan "AKU mencintaimu" "RahmatKu mendahului murkaKU", ini bukan perkara sepele, bukan kata yang setelah terucap dapat direvisi sekehendak hati.
Pada akhirnya,
ketika kamu menanyakan kenapa aku bisa begitu yakin....jawabku, "aku tidak tahu"
dan ketika orang menanyakan apakah itu cinta...jawabku, "Alloh, lihatlah bagaimana Alloh mencintai...itulah cinta"
(read more ...)Apr
23
The 99 adalah superhero baru yang dibuat oleh Naif Al-Mutawa, The 99 ini menawarkan konsep superhero yang membawa tradisi dari masing-masing wilayah di seluruh penjuru dunia. Perbedaan latar belakang dan kekuatan yang ada dalam The 99 merefleksikan nilai dan tradisi universal yang dimiliki manusia.
Selama ini anak-anak muslim kekurangan figur superhero positif baru untuk dikagumi dan diteladani. Superman misalnya, tokoh Clark Kent ini terlihat sangat mirip dengan Isa Al Masih versi Alkitab, dikirim dari bintang yang jauh oleh orang tuanya untuk menyelamatkan dunia.
“Even though you’ve been raised as a human being, you’re not one of them. They can be a great people, Kal-El. They wish to be. They only lack the light to show the way. For this reason above all - their capacity for good - I have sent them you, my only son”- Jor-El on Kal-El (Superman or Savior?)
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)
Al-Mutawa berharap, superhero ini dapat digunakan sebagai model orisinal Islam yang akan mengubah posisi Islam dalam perspektif yang benar(bagaimana Islam melihat Barat dan bagaimana Barat melihat Islam).
Salah satu pahlawan dari The 99 ada yang berasal dari Indonesia, namanya Toro Ridwan alias Fatah. Pahlawan yang lahir di Padang, Sumatera Barat. Fatah atau Sang Pembuka memiliki kekuatan membuat dan memanipulasi celah antara dua tempat yang menjadikannya bisa muncul dan menghilang di manapun. Ia bisa menembus waktu dan berpindah tempat kapanpun ia mau untuk melawan musuh-musuhnya.
website: www.the99.org
(read more ...)
Alkisah ada seekor lipan yang sangat pandai menari dengan seratus kakinya. Setiap kali lipan itu menari, semua hewan di hutan berkumpul untuk melihatnya. Mereka sangat terkesan dan kagum pada tariannya yang indah. Tapi ada satu hewan yang tidak senang melihat lipan menari; yaitu kura-kura.
"Bagaimana aku bisa membuat lipan itu berhenti menari?" pikir kura-kura itu. Tentu ia tidak boleh mengatakan begitu saja bahwa ia tidak menyukai tarian lipan. Bahkan ia pun tidak mungkin mengatakan bahwa ia sendiri dapat menari lebih baik, karena itu jelas tidak benar. Akhirnya kura-kura menemukan sebuah rencana jahat.
Kura-kura duduk dan menulis surat kepada lipan.
"Wahai lipan yang tiada tara, aku adalah seorang pengagum tarianmu yang sangat indah. Aku ingin mengetahui bagaimana kamu melakukannya tarianmu. Apakah kamu mengangkat kaki kirimu nomor 28, kemudian kaki kananmu nomor 39? Atau apakah kamu mulai mengangkat kaki kananmu nomor 17 sebelum kamu angkat kaki kirimu nomor 44? Aku menanti jawabanmu dengan penuh harap. Hormat saya, Kura-kura."
Ketika lipan itu membaca suratnya, segera saja dia mulai memikirkan tentang apa yang sebenarnya dia lakukan ketika sedang menari. Kaki mana yang diangkatnya lebih dulu? Dan sesudah itu kaki mana lagi? Aah, betapa rumitnya memikirkan hal itu. Akhirnya, malah lipan itu tidak pernah bisa menari dengan baik lagi!
Salah satu hikmah yang dapat diambil dari kisah diatas adalah bahwa keindahan adalah sesuatu untuk dirasakan dan dileburkan dalam diri bukan untuk dipikirkan apalagi dihitung-hitung di atas kertas teori. (taken from Sophie’s World - Jostein Gaarder)
(read more ...)Ketika mencintai, kita tidak melakukannya demi kebaikan atau untuk menolong dan melindungi seseorang. Cinta tidak ada hubungannya dengan itu semua.
Cinta yang dilakukan demi kebaikan, menolong, dan melindungi seseorang hanya akan menjadikan orang lain objek serta membuat kita menganggap diri kita orang yang bijaksana dan murah hati. Ini tidak ada kaitannya dengan cinta.
Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai, dan menemukan percikan Tuhan dalam dirinya.
Tidak ada penderitaan dalam cinta, yang ada hanyalah benih pertumbuhan diri. Semakin kita mencintai, semakin kita dekat dengan pengalaman spiritual. Mereka yang benar-benar dicerahkan dan diterangi cinta akan sanggup mengatasi setiap rintangan dan prasangka zamannya.
Cinta adalah masalah hati, hatilah yang memutuskan, dan apa yang diputuskannya, itulah yang paling berarti. (Paulo Coelho)
Apr
19
Ibnu Sina lahir pada tahun 908 di Bukhara, sejak berumur 5 tahun Ibnu Sina telah mempelajari banyak hal dari beberapa guru terkemuka. Pekerjaan ayah Ibnu Sina di pemerintahan yang saat itu sedang berkuasa menyebabkan Ibnu Sina berkesempatan memeroleh pendidikan yang layak. Beberapa disiplin ilmu yang beliau pelajari adalah dasar agama (ushuluddin), tata bahasa Arab (nahwu-sharaf), logika(manthiq), gaya bahasa(bayan), matematika, kedokteran, filsafat, dan tentu saja hafal Al Quran.
Suatu hari, ibunya jatuh sakit, beberapa dokter ternama di kota Bukhara telah mencoba mengobati tetapi tidak juga sembuh. Hingga suatu hari, Abu Ali ibnu Sina memutuskan untuk mengobati sendiri ibunya, hal ini ditentang oleh sang ayah, karena melihat usia Ibnu Sina yang masih kecil(belasan tahun). Setelah berbicara sebentar, ayahnya mengijinkan Ibnu Sina mempraktekkan ilmu yang selama ini dia pelajari...dan berhasil, ibunya sembuh. Berawal dari kejadian ini banyak tetangga yang lebih berminat meminta bantuannya ketimbang bantuan para dokter di Bukhara.
Keahliannya dalam bidang kedokteran semakin banyak diketahui orang ketika beliau mampu mendiagnosa dan menyembukan penyakit raja yang saat itu sedang berkuasa. Sebagai imbalan atas jasanya, raja berniat memberikan harta yang berlimpah. Tetapi dengan kerendahan hati Ibnu Sina menjawab "Ganjaran terbesar bagi seorang dokter adalah kesembuhan pasien", mendengar jawaban ini raja tidak senang, dia terus memaksa Ibnu Sina untuk mengajukan permintaan yang pada akhirnya membuat Ibnu Sina meminta izin masuk kedalam perpustakaan kerajaan.
Setelah kejadian ini, Ibnu Sina diangkat menjadi dokter pribadi raja selama 3 tahun(karena pada tahun ke-3 raja mati terbunuh di medan perang). Sepanjang waktu itu Abu Ali menghabiskan sebagian besar waktu di perpustakaan. Disana, beliau memperdalam ilmu fikih, sastra, musik, astronomi dan berbagai disiplin ilmu lainnya. (bersambung)
diringkas dari: novel biografi Ibnu Sina - Tawanan benteng lapis tujuh, karya Husayn Fattahi
Apr
16
disaat ingin menggambar sebuah lingkaran kita berpikir mengenai bentuknya sejurus kemudian tangan mengambil pena dan mulai mencitrakan lingkaran pikiran kita penciptaan...sesederhana itu Tuhan berkehendak, lalu jadilah ibaratnya sebuah tokoh didalam novel yang tercipta dari imaji penulis tiap kata dan gerakan takkan lepas dari pengamatan’nya’ tiap benda, tak lebih dari sekedar imaji berhargakah? sepele saja Ketika tersadar, saya bertanya Siapa saya? Apa peran saya di panggung ini? Tiba-tiba saja Engkau memunculkan peran ’saya’ Tanpa naskah yang bisa dipelajari, tanpa arahan
Apr
15
Bayangkan, kita adalah mahkluk yang keberadaannya tidak lebih dari kehendak "sesuatu". Kita tercipta didalam kehendak-"nya", ini berarti - misalnya: bahwa Ferrari keluaran terbaru, tidaklah berharga...satu rupiah pun. Istana megah bertabur intan, tidaklah berharga...satu rupiah pun. Semua hal yang ada di semesta ini tak lebih hanyalah sebuah kehendak yang bisa saja hilang...jika yang berkehendak berhenti berkehendak. Dapatkah kita menjamin bahwa hujan akan turun? Gempa tidak akan terjadi?
Ketika telah tersadar bahwa hidup ini adalah sebuah kehendak dari "sesuatu", tindakan apa yang seharusnya kita lakukan?
Bagaimanapun, kita akan meninggalkan ini semua, jika waktunya telah tiba, kamu dan aku akan menghilang. Segala yang tengah kita bangun akan hilang, bahkan...kita tidak mampu menjamin ini tidak akan lenyap. Bukan begitu?
Dunia ini...tidak lebih berharga dari kehendak yang menyebabkan kita "ada".
Rasulullah saw bersabda "Sholat 2(dua) rakaat jauh lebih berharga dari dunia dan isinya"
Sholat adalah kehendakNya...yang dengan bebas boleh kita kerjakan atau tidak, lain halnya dengan dunia yang merupakan kehendak yang DIA adakan dan "dengan terpaksa" kita terima keadaannya.
Kun Fayakun. Se-sepele itu
(read more ...)Pernah menonton program TV "Suara Anda" di Metro TV? Program ini didesain agar pemirsa dapat memilih berita yang akan ditampilkan. Disamping itu, permirsa juga dapat memberikan tanggapan pada berita yang baru saja dia pilih. Tetapi, dalam kasus ini, pemirsa tidak benar-benar memilih secara bebas, karena pihak televisi telah menentukan berita mana saja yang akan ditampilkan.
Sama halnya dalam hidup, meskipun kita terlihat bebas dalam menentukan sikap, kita sebenarnya tidak benar-benar bebas. Semua pilihan dan kehendak kita dibatasi. Misalnya, kita memang dapat memilih makanan sekehendak kita, tetapi tetap saja area pilihan kita terbatas(makanan manusia).
Kita tidak pernah mampu dengan bebas memilih di negara mana kita ditempatkan, di keluarga mana kita terlahir, dimana kita sekolah, bekerja, kepada siapa kita mencintai dan menikah.Jadi, ketika saya terlahir di Indonesia, di Propinsi Jawa Timur, Kota Malang, di keluarga yang saat ini ada, dengan segala yang sekarang saya miliki. Alloh telah dengan jelas membatasi pilihan-pilihan saya, sesuai dengan opsi yang telah DIA tentukan sebelumnya(sungguh, setiap waktu DIA berada dalam kesibukan)
Sungguh, Alloh tidak menghendaki kesukaran dan kesulitan pada hidup kita, hanya saja, kita seringkali memilih sesuatu yang tidak untuk hal itu kita diciptakan(dan janganlah kamu meminta sesuatu yang bukan menjadi hakmu), inilah yang membuat kita menjadi tidak berbahagia, jarang bersyukur dan cenderung mempersalahkan nasib.
"...dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu..."(QS. Al Baqarah: 187)
"...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...."(QS. Al Baqarah: 185)
"...Setiap waktu Dia dalam kesibukan" (QS. Ar Rahman: 29)
Jangan memikirkan apa yang kau tinggalkan, segala sesuatu sudah ditulis di Jiwa Buana dan akan berada disana selamanya. Bila yang didapat seseorang terbuat dari bahan yang murni, ia tak akan pernah rusak.
Dengarkan hatimu. Ia tahu segala hal, karena berasal dari Jiwa Buana, dan suatu hari ia akan kembali kesana.
Dimanapun hatimu berada, disitulah akan kau temukan ’hartamu’, pahamilah hatimu, ketahui mimpi-mimpinya dan harapan-harapannya. Karena, kau tidak akan pernah mampu melarikan diri dari hatimu, kejarlah mimpimu, karena setiap detik dari pencarian itu adalah detik perjumpaan dengan Tuhan...dengan keabadian.
Jika engkau bersungguh-sungguh mencari ’hartamu’, hari-hari akan menjadi bercahaya, karena engkau tahu bahwa setiap detik adalah bagian dari mimpi yang akan kau raih, akan banyak hal yang tak pernah engkau lihat karena keberanianmu mencoba meraih mimpi-mimpi, menuju Legenda Pribadimu. Saat seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan bersatu untuk membantu orang itu.
Sebelum mimpi-mimpi itu terwujud, Jiwa Buana akan menguji semua yang telah engkau pelajari di sepanjang perjalanan, bukan karena dia jahat, tetapi supaya kita mampu menguasai dengan baik pelajaran yang kita tekuni disaat kita bergerak menuju mimpi itu. Itulah titik saat kebanyakan orang mulai menyerah. Setiap pencarian dimulai dengan kemujuran dan diakhiri dengan kemenangan...setelah melewati ujian yang berat. Bahwa masa tergelap di malam hari adalah saat fajar mulai menjelang.
(Paulo Coelho)
(read more ...)Apr
06
Dulu sekali, saya tidak percaya bahwa karma juga berlaku di dunia, pikiran ini selalu berasumsi bahwa segala tindakan kita hanya akan dibalas kelak di akhirat berupa surga dan neraka. Ketika pengadilan tertinggi mulai memperkarakan begitu banyak gugatan, disaat itulah penghukuman terjadi.
Tetapi...perjalanan hidup memberitahu bahwa segala yang kita ucapkan dan lakukan seringkali berbalik mengenai kita.
Ketika sedang mendengar seseorang membicarakan kisah hidup orang lain, saya cenderung mendengar nada menghakimi dan menyalahkan sikap orang lain. Sempat ketika sedang asyik ’ngobrolin’ orang, saya juga seringkali keceplosan mencemooh sikap dan perilaku orang yang saya anggap salah. Hingga suatu saat, saya dihadapkan pada kondisi yang sama persis dengan keadaan orang yang saya ’obrolin’. Pada saat itu, saya merasakan bahwa sikap dan perilaku yang dulu saya cemooh adalah sebuah kewajaran. Salah sih iya, tetapi...ada beberapa hal yang pada akhirnya membuat saya memaklumi pilihan yang diambilnya.
Sejak mengalami kejadian ini saya mulai belajar untuk lebih mampu mengendalikan lidah dan telinga. Hal ini tidak berlaku pada saya pribadi, dibanyak kejadian ada beberapa teman yang ternyata mengalami hal serupa. Sering saya memperhatikan ketika ada seseorang yang sedang marah atau mencemooh orang lain, suatu saat...ketika dia sedang dihadapkan pada permasalahan yang sama...dia-pun tidak mampu berbuat lebih baik.
Saya kira, Alloh menganjurkan untuk membantu meringankan beban orang lain adalah agar supaya kita mampu untuk melihat segala sesuatu dengan lebih utuh, sehingga tidak ada lagi penghakiman yang semena-mena, tidak ada lagi cemoohan, pun ketika kita dihadapkan dengan masalah yang serupa, kita mampu mengatasi dengan baik.
(read more ...)Mar
26
Dulu, ketika kakek masih hidup, beliau sering mengajak saya memancing ke beberapa sungai dan bendungan. Kegemaran beliau ini membuatnya senang mengoleksi benang dan joran pancing. Kakek saya bekerja sebagai tukang batu plus tukang kayu, meskipun sudah berumur beliau masih sering dimintai tolong untuk membuat rumah. Nah, dari pekerjaan inilah beliau membiayai hobi memancingnya. Beberapa kali saya diajak memancing, terus terang saja, saya tidak terlalu suka kegiatan ini, saya terlalu bosan jika harus disuruh duduk menunggu umpan disambar ikan. Pun demikian, ketika joran saya berhasil mendapatkan ikan, saya selalu meminta kakek untuk melepas mata kail dari mulut si ikan, saya selalu tidak tega melihat ikan kesakitan, apalagi kalau harus memasang cacing di mata kail....ehhhh, ampun dah.
Lambat laun, saya jadi menyadari bahwa kebiasaan memancing ini ternyata ada gunanya. Kok bisa? Begini, setiap hendak pergi memancing, kami selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Mulai dari kesiapan alat dan umpan yang nantinya akan kita pakai, semuanya direncanakan dengan detail. Karena, tiap ikan memiliki umpan dan teknik memancing yang berbeda.
Nah, ketrampilan ini bisa diterapkan dalam kehidupan. Mencari rejeki sama seperti ketika kita memancing ikan, keduanya tersembunyi, kita jelas-jelas tidak mengetahui dimana �mereka� bersembunyi, tugas kita hanyalah mempersiapkan umpan dan peralatan sebaik mungkin, memilih �sungai� yang tepat dan selalu bersiap-siap jika �cuaca� berubah menjadi buruk. Dibutuhkan kesabaran dan fokus penuh untuk dapat memeroleh rejeki yang cukup, kita harus waspada. Sehingga, ketika �joran� disentuh �ikan�, kita bisa dengan cepat menarik dan mendapatkan hasil.
Beberapa teknik yang paling saya ingat adalah:
- kakek selalu memasang mata kail lebih dari 3 buah disetiap joran pancing
- kakek selalu memasang lonceng kecil di setiap joran yang ada
- kakek selalu membawa lebih dari sepuluh joran pancing
- kakek selalu menancapkan joran pancing kedalam tanah dengan sudut 60 derajat
Setelah tiap joran diberi umpan, dilempar, dan ditancapkan ketanah. Beliau lantas menyalakan rokok dan menunggu bunyi lonceng. Dan, ketika lonceng berbunyi, ditariknya joran itu dan ... setidaknya ada 2 - 3 ekor ikan berhasil dipancing ^^.
Rasul saw bersabda "Undanglah rejeki kalian dengan bersedekah."
Ali bin Abi Thalib berkata "Pancinglah rejeki dengan bersedekah"
Mar
25
Pikiran adalah suara yang terdengar ketika kita berkomunikasi. Kita tahu bahwa kita memiliki pikiran, atau kata ditanamkan dalam otak kita karena getaran suara. Getaran adalah energi, dan dapat dimanipulasi. Dengan kata lain, pikiran yang ada dalam otak kita dapat dimanipulasi dan diisi melalui perantaraan energi (suara atau bentuk energi lain yang biasa disebut dengan ilham, intuisi atau wahyu). Itu juga yang menjadi latar belakang munculnya ilmu hipnotis.
Segala informasi yang saat ini telah kita dapatkan pasti membawa dampak bagi kepribadian dan cara pandang kita. Kejadian demi kejadian yang ada pasti akan mempunyai dampak berbeda tiap orang, karena kita berpikir menurut cara dan kebijakan pribadi. Dalam pikiran, kita bisa saja mengetahui semua hal, mengkoneksikan dan mempersepsikan setiap maksud dari kejadian sesuai dengan informasi yang telah kita dapatkan. Tetapi, dalam dunia nyata (realita)...WE DON’T KNOW MUCH OF ANYTHING.
Dalam Al Quran, Alloh memberitahu bahwa sebagian dari prasangka adalah dosa, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”. (QS. Al-Hujurat: 12). Pada ayat ini, Alloh memberitahukan bahwa hasil dari proses berpikir cenderung salah, sehingga kita tidak dapat seenaknya menilai sesuatu itu baik, buruk, salah dan benar hanya dengan pertimbangan logika semata. Oleh karenanya, berhati-hatilah jika sedang berpikir, terlebih saat menelaah teks dari kitab suci, selalulah minta perlindungan kepada Alloh.
Berpikirlah untuk mengerti dan menjadi sadar. Pertahankan kesadaran itu. Terkadang, lompatan pikiran perlu dibariskan secara rapi membentuk shof untuk kemudian dihadapkan kepada yang Maha Mengetahui.
When we become aware of ’this’, we reconnect to wisdom through awareness.
Mar
24
Seseorang pernah bercerita (saya tidak tahu persis detail kejadiannya) bahwa suatu saat, ketika dia harus pergi bertugas keluar kota, istrinya salah membeli tiket pesawat. Padahal, jadwal keberangkatan sudah mepet, karena tiketnya tidak dapat ditukar, dia lantas membeli tiket baru. Yang menarik dari kisah ini adalah, kesalahan pembelian tiket tidak lantas membuatnya marah. Dia lebih memilih untuk memesan tiket baru, alasannya terdengar sederhana. Dia tidak ingin hubungannya dengan istri jadi terganggu hanya karena kesalahan membeli tiket, katanya "Hubungan kami jauh lebih berharga daripada harga selembar tiket pesawat"
Kejadian sama dia ceritakan ketika sedang melakukan meditasi. Dia terbiasa melakukan meditasi setelah selesai mengerjakan sholat. Malam itu, ketika sedang khusyuk bermeditasi, anaknya merengek meminta sesuatu dan membuyarkan konsentrasi yang tengah ia bangun. Alih-alih bersikap kasar dan memarahi anaknya karena mengganggu proses ibadah, dia memilih untuk menghentikan ibadahnya, merangkul dan bercengkrama dengan buah hatinya.
Peristiwa serupa ini juga dicontohkan Rasul saw ketika beliau sholat dengan menggendong cucunya. Juga ketika seorang anak kecil buang air kecil diatas pakaian Rasul saw, melihat kejadian itu orang tua si anak segera mengambil paksa anaknya yang menyebabkan anak itu menangis. Kemudian Rasul saw menghampiri sahabatnya itu dan berkata ”Air kencing anakmu dapat dengan mudah bisa aku bersihkan, tetapi sikap kasarmu kepada anakmu tadi akan terus membekas diingatannya dan sulit untuk dihilangkan”.
Steven Covey dalam 7th Habits of Highly Effective People mengistilahkah dengan Rekening Bank Hubungan(RBH). Cara kerjanya seperti rekening bank, disetiap interaksi kita dengan orang lain, kita seperti menabung dan menarik sesuatu dari RBH kita. Tabungan kita akan bertambah jika melakukan sesuatu yang baik kepada orang lain, dan akan berkurang jika kita melakukan sesuatu yang tidak baik.
Islam sendiri juga telah memberi kita ukuran bahwa kualitas hubungan kita dengan Alloh berbanding lurus dengan kualitas hubungan kita dengan mahklukNya.
So, bagaimana kualitas hubungan kita dengan Alloh, orang tua, keluarga, orang lain, hewan dan alam?
(read more ...) Seperti halnya bersedekah, mencintai adalah proses satu arah yang tidak mengharapkan balasan dari si penerima. Keteguhan hati ’para pemberi peringatan’ dalam menjalankan tugasnya berasal dari proses mencintai yang demikian, cinta sejati yang meskipun tidak mendapat balasan, mereka tetap saja mencinta. Cinta ini bukanlah cinta buta, cinta ini adalah cinta yang dilakukan dengan sadar. Sakit hati yang diperoleh ketika pernyataan cinta tidak mendapat respon bukanlah bentuk cinta, sakit hati terjadi karena kita masih mengharapkan sesuatu dari orang lain, ini bukanlah cinta sejati. Adakalanya perasaan ini mendapatkan respon, cinta kita berbalas. Pada banyak kejadian, proses saling mencintai ini memberikan dampak yang luar biasa, dunia seakan berubah menjadi surga, semua hal menjadi terasa indah. Tetapi, ketika seorang yang membalas cinta ini pergi meninggalkan kita, kita pasti juga akan menderita layaknya ketika cinta kita ditolak, dan ada kemungkinan perasaan menderita ini berdampak jauh lebih besar. Ketika Rasul saw dimusuhi oleh orang kafir beliau bergeming saja...tetapi, ketika kakek dan istri beliau meninggal dunia...Alloh menghibur beliau dengan isra’ mi’raj. Dalam filsafat Yunani, cinta dibedakan menjadi 3 jenis, eros, philos dan agape. Eros adalah cinta yang terbentuk karena dorongan hawa nafsu, Philos adalah bentuk cinta yang terlahir karena kedekatan bathin, sedangkan Agape adalah bentuk cinta tanpa batas yang dicontohkan melalui cinta Tuhan pada ciptaanNya. Setiap dari kita pasti akan mengalami cinta eros dan philos untuk kemudian menjadi sadar dan mampu berproses menuju cinta yang agape. Cinta jenis ini (agape) akan membuat seseorang mampu bertindak dan menteladani semua sifat Ketuhanan. Dalam islam, Alloh mempunyai 99 Nama Baik...dan, menurut beberapa ulama, ada 1(satu) nama yang sengaja DIA sembunyikan. Dengan mengetahui rahasia ini, kita akan mampu melihat dunia dengan lebih baik lagi, tidak ada penderitaan dan duka cita. Al Ahqaf: 13 "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah,maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita" Selamat mencintai.
Mar
20
Sebelum benar-benar mengenali cinta, saya selalu merasa ini adalah hal paling indah yang akan membuat kita bahagia, imajinasi tentang ini terbentuk karena begitu banyak kebahagiaan yang terpapar ketika saya melihat teman sebaya sedang berpacaran atau ketika secara tidak sengaja saya menonton film percintaan.
Suatu saat, ketika Tuhan mulai membuat saya mencintai, ada semacam kondisi aneh yang membuat perasaan menjadi begitu bahagia, saya menjadi begitu bersemangat untuk membuat orang yang saya cintai menjadi bahagia, membiarkannya melakukan segala sesuatu yang dia inginkan...demi untuk melihatnya tersenyum.
Agama yang saya yakini saat ini tidak menganjurkan pemeluknya untuk berhubungan terlalu dekat dengan lawan jenis, ada beberapa batasan yang harus ditaati...meskipun itu membuat �sakit� hati. Setiap kali merasakan �kesakitan� ini, saya selalu berusaha membangun pikiran positif bahwa segala sesuatu yang Tuhan tetapkan pasti baik dan mempunyai hikmah besar. Sangat tidak mudah mempertahankan pikiran ini, kenyataan dan logika yang saya temui sangat bertolak belakang dengan �pembenaran� yang disampaikan para ulama.
Saya percaya, Tuhan menciptakan aturan(syariat) untuk membuat kita bahagia. Tetapi, melihat begitu banyak pasangan muda yang bahagia dan tertawa saat berpacaran membuat saya kembali merenung, apakah hal yang saya lakukan adalah benar perintahNya atau cuman sekedar �pembenaran� saya saja? Sampai suatu saat ...
Ketika kembali merenungi perbuatan Sang Maha Cinta dan perasaan cinta ini, saya tersadar bahwa mencintai adalah sebuah proses yang tidak mudah, penuh pengorbanan dan lebih banyak membuat kita bertemu dengan penderitaan. Ketika seseorang tidak mencintai dan meninggalkan kita, kita pasti menderita. Kita pun selalu menuntut sesuatu yang terkadang mustahil untuk sekedar membuat diri ini yakin bahwa seseorang itu mencintai kita(dengan tulus). Kalau dilihat kebelakang, sejarah kenabian selalu dikelilingi oleh penderitaan yang sangat hebat, demi untuk memperlihatkan betapa besar kasih dan cinta para pembawa peringatan yang diutus olehNya.
Mencintai membuat Nabi Nuh as harus bertahan selama 950 tahun.
Mencintai membuat Nabi Ibrahim as membawa Nabi Ismail ke altar persembahan
Mencintai membuat Nabi Isa as bertahan melawan penindasan kaumnya
Mencintai membuat Nabi Muhammad saw menolak tawaran malaikat penjaga gunung
Mencintai membuat Alloh memberi nikmat sebegitu besarnya kepada semua (saya tidak mampu menuliskan bentuk kecintaanNya pada seluruh semesta)
Ketika Alloh menumbuhkan perasaan cinta adalah tugas kita untuk mengelolanya, menyelami keadaan ini sesuai aturan yang telah DIA tetapkan, untuk kemudian membuat kita berpikir dan menjadi sadar bahwa mencintai adalah sesuatu yang membutuhkan kekuatan luar biasa besar, mencintai tidak melulu hanya tentang pemenuhan syahwat dan kesenangan yang tiada tara. Lebih daripada itu, mencintai adalah sebuah kemampuan untuk memaafkan, menerima apa-adanya, memberi tanpa pamrih, berjuang tanpa mengharap imbalan.
Cinta adalah sesuatu yang dikelilingi oleh segala penderitaan. Tetapi anehnya, hal ini malah membuat cinta menjadi semakin kuat. (Jadi, kalau penderitaan ini tidak membuat kita semakin kuat dan baik, itu bukanlah cinta, itu adalah nafsu)
Teruntuk yang telah mencintaiku (Orang tua kandung, orang tua angkat, saudara, rekan kerja dan sahabat), terima kasih. Maaf, karena baru sekarang saya mulai menyadari bahwa cinta kalian tidaklah sederhana.
Terima kasih pada Alloh swt yang telah memberi saya pengetahuan dan kesempatan untuk merasakan cinta.
(read more ...)6(enam) bulan terakhir ada pekerjaan baru buat saya yaitu membeli hardware untuk beberapa taman dan sekolah negeri di Surabaya. Karena masih baru, saya jadi agak kesulitan mencari penjual PC dengan harga murah, ditambah request pemesanan ini seringkali mendadak.
Hari ini, saya bertemu dengan seorang yang berdagang dengan cara Rasul saw. Dia dengan terang-terangan memberitahu saya harga hardware yang ada plus berapa keuntungan yang nantinya bakalan dia ambil. Mengejutkan. Harga PC dengan spesifikasi yang sama bisa terpaut sekitar Rp. 800.000/unit, bayangkan kalau pengadaannya lebih dari 10 unit...:)
Ya, begitulah. Sekali lagi, saya dipertemukan dengan seorang yang bekerja bukan lantaran mencari uang, tetapi rejeki. Alhamdulillah.
"Dan barangsiapa yang menta’ati Alloh dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, syuhada, dan shalihin. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisaa’[4]:69)
(read more ...)Komunikasi dapat membuat sebuah hubungan menjadi kuat dan dapat pula menghancurkannya, diperlukan sikap jujur dalam menjalaninya. Keadaan hati adalah sesuatu yang sangat sulit untuk ’dilihat’. Oleh karenanya, dengan terbiasa bersikap jujur, kita setidaknya telah belajar untuk memperlihatkan keadaan hati tanpa selubung kebohongan, dan membuat mereka mengetahui keinginan kita. Hal ini dapat membuat berkomunikasi menjadi semakin efektif karena jauh dari bias dan prasangka. Kebiasaan berperilaku jujur secara tidak langsung akan membuat kita menjadi lebih peka saat berkomunikasi dengan orang lain, kebohongan dan kejujuran lawan bicara-pun terkadang dengan mudah kita ’baca’, bukankah hati hanya mampu direngkuh dengan hati?
Selain kejujuran, perilaku kita dalam mendengarkan juga memiliki pengaruh besar. Kita akan mampu memahami orang lain jika kita telah ’mendengar’ menggunakan mata, hati, dan telinga dengan baik. Seperti halnya sikap Rasulullah saw ketika berbicara dengan orang lain, beliau secara sadar menjadikan dirinya sebagai pendengar yang baik dengan cara berfokus pada lawan bicaranya.
Dengan terus berlatih, kita akan makin terbiasa untuk berkomunikasi dengan baik, dan pada akhirnya akan memunculkan empati. Sehingga, kita akan dengan mudah menyelami perasaan orang lain, merasakan keadaan hatinya, memposisikan diri dengan baik, sehingga mampu memberikan sudut pandang yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Oleh karenanya, jika benar ingin merubah perilaku orang yang kita anggap salah, maka cara terbaik adalah dengan berkomunikasi secara baik dengannya (bukan dengan berbuat buruk dan anarkis yang malah membuat orang lain menjadi menjauh dan defensif), hal ini akan bisa mendekatkan kita dengan dia, membuat kita mengerti latar belakang dari tindakan buruknya dan mulai bisa mensolusikan secara tepat tanpa harus menyakitinya.
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fushshilat: 34)
Berikut ini ada kisah tentang bagaimana komunikasi bahkan mampu melampaui kata-kata.
Tersebutlah seorang saudagar memelihara burung dalam sangkar. Ketika akan berangkat ke India, tanah asal burung itu, dia menanyakan barangkali binatang itu meminta oleh-oleh dari sana. Burung itu meminta kebebasannya, tetapi ditolak. Karena itu ia minta saudagar itu pergi ke hutan di India, lalu mengabarkan tentang keadaannya yang dalam kurungan kepada burung-burung lain yang masih bebas.
Saudagar itu pun melaksanakan pesan tersebut, dan begitu ia mengucapkan kata-katanya, seekor burung serupa dengan burung piaraannya jatuh dari sebuah pohon, tak sadarkan diri di tanah.
Si Saudagar berpendapat bahwa itu tentulah saudara burung piaraannya, dan iapun merasa sedih telah menyebabkan kematiannya.
Ketika ia pulang, burungnya bertanya apakah tuannya membawa kabar gembira dari India.
“Tidak,” jawab saudagar itu, “kabar buruklah yang aku bawa. Salah seekor saudaramu tak sadar diri dan jatuh dekat kakiku ketika kusiarkan kabar tentang keadaanmu.”
Segera setelah kata-kata itu diucapkan, burung yang dalam sangkar itu pun tak sadarkan diri dan jatuh ke dasar sangkar.
“Kabar kematian saudaranya menyebabkannya mati juga,” pikir saudagar itu. Dengan sedih diambilnya burung itu dari sangkarnya, lalu diletakkannya di ambang jendela. Segera saja burung itu hidup kembali, terbang ke pohon terdekat.
“Kini kau tahu,” kata Si Burung, “bahwa yang kau kira kabar buruk itu, ternyata merupakan kabar baik bagiku. Dan pesan, yakni cara untuk membebaskan diriku, ternyata telah disampaikan kepadaku lewat kamu, yang dulu menangkapku.” Dan burung itupun terbang, bebas merdeka akhirnya.
Mar
16
Setiap momen adalah karunia tidak ternilai. Setiap pagi, waktu memberi kita 86.400 detik untuk kita manfaatkan dan menghapus sisanya, tidak ada saldo yang bisa kita sisakan. Waktu yang hilang tidak akan pernah tergantikan, kesempatan yang hilang tidak akan bisa kembali dan bisa jadi, hari ini adalah hari terakhir bagi kita.
Hidup adalah sebuah perjalanan yang tiap langkahnya harus dinikmati, apapun yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang seharusnya kita syukuri. Tetapi, kebanyakan dari kita seringkali membawa beban dari masa lalu, memikirkan sesuatu yang telah berlalu dan pergi untuk selamanya. Atau mencemaskan masa depan yang seringkali tidak sesuai dengan pikiran dan harapan kita.
Ingatkah saat kita masih kecil, kenapa kita bisa sangat bahagia? tidak ada kecemasan akan masa depan dan beban masa lalu, dimana kita nanti akan sekolah, pakaian apa yang akan kita pakai, makanan apa yang akan kita makan, pertengkaran dengan seorang temanpun seringkali selesai hanya dalam hitungan jam. Rasa terluka dan kehilangan dapat dengan cepat berlalu dan pergi.
Anak kecil bisa menjadi sedemikian ceria dan bahagia adalah karena mereka hidup untuk saat ini.
Kebahagiaan adalah proses, bukan tujuan.
Seberapa sering kita merencanakan kebahagiaan?
Kapan kita men-target-kan diri untuk hidup berbahagia?
Setelah mempunyai pekerjaan?
Setelah menikah?
setelah memiliki rumah?
Setelah mempunyai anak?
Setelah kaya?
Setelah pensiun?
Padahal, waktu hidup kita adalah saat ini, kalau sekarang saja tidak bahagia, lantas kapan?
Hiduplah untuk saat ini, nikmati segalanya, berbagilah pada orang yang kita sayangi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Mar
08
Salah satu perlengkapan standar delman adalah kacamata yang dirancang sedemikian rupa sehingga membuat kuda hanya dapat melihat lurus kedepan. Hal ini dilakukan untuk mengarahkan pandangan kuda agar tidak terganggu pemandangan disekeliling dan membuat kuda menjadi lebih mudah dikendalikan.
Bayangkanlah, kita adalah kuda delman itu. Ditugaskan pemilik delman untuk suatu tujuan, ke sebuah tempat yang telah ditentukan. Ditariknya tali kekang untuk mengendalikan kita ke berbagai arah, terkadang dicambuk, bukan untuk menyakiti, tetapi untuk mengarahkan, karena kita belum mampu melihat tujuan perjalanan ini dan menyadarkan bahwa kita mempunyai majikan yang harus diturut.
Kalau dengan memakai kacamata ini saja kita masih harus dikendalikan, bagaimana mungkin dengan melepaskannya kita akan sanggup mencapai tempat tujuan dengan selamat?
Banyak ulama mengatakan bahwa antara mata dan hati berkaitan erat. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hatipun demikian. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan jika hati telah bercahaya maka akan jelas baginya kebenaran. Sebaliknya, barangsiapa mengumbar pandangannya, maka akan keruhlah hatinya dan selanjutnya akan gelap dan tertutup baginya pintu ilmu.
Jagalah pandangan, rasakan kendali kekang dariNya. Rasa sakit, kelemahan, dan kesulitan yang ada adalah isyarat dariNya agar kita mampu mengenal diri sendiri dan kehendakNya. Berfokuslah pada apa-apa yang telah dimudahkan olehNya, yang menjadikan kita lebih mampu, abaikanlah hal-hal yang menjadikan kita tidak tenang.
Semoga Alloh merahmati kita.
Mar
04
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yaasiin:36)
Apa yang anda pikirkan ketika membaca ayat ini? Siapa pasangan yang dimaksud? Istrikah? Suamikah?
Alloh menciptakan pasangan dari semua. Dari semua. Tidak hanya terbatas pada pasangan hidup.
Jadi, jika anda mempunyai cinta yang begitu besar. Janganlah kaget bila nanti dipertemukan dengan seseorang yang kasar dan berperilaku buruk. Itulah pasangan anda. Keberadaannya akan membuat anda bisa mengekspresikan cinta anda.
Jika anda mempunyai kelebihan harta. Janganlah heran bila nanti dipertemukan dengan seseorang yang selalu "ngrepoti" harta anda.
Teruslah melihat "ke dalam" dan "ke luar". Temukan alasannya, kenapa anda berada ditempat yang sekarang menjadi rumah anda, kantor anda, sekolah anda. Kenapa anda bertemu dan berteman dengan orang yang sekarang menjadi teman anda, bos anda, ustadz anda.
Bertakwalah kepada Alloh.
(read more ...)Mar
01
Hari ini buku "Guru Goblok ketemu Murid Goblok" pinjaman dari seorang teman selesai saya baca. Buku ini berisikan tulisan yang mampu memicu kita untuk kembali merenungkan makna dari ayat yang pertama kali turun kepada Nabi saw, yaitu "Iqra Bismirabbikallazi Khalak" (Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan).
Bab pertama buku ini membuat saya merenungkan kembali makna "Iqra", bagaimana keadaan saya saat membaca alam? saat membaca kejadian sehari-hari, saat membaca perilaku orang lain, dan tentu saja bagaimana keadaan saya saat membaca kitab suci Al Quran. Apakah saya benar-benar telah belajar atau tidak?
Buku ini juga mengajarkan agar kita bisa menjadi seorang enterpreneur yang juga mampu berinvestasi. Banyak tulisan penggugah semangat yang mungkin dapat membangkitkan semangat anda untuk bangkit setelah terjatuh, tetap ngotot meski berkali-kali gagal, tetap konsisten dalam mewujudkan mimpi-mimpi besar anda. Buku ini mendidik anda untuk menjadi goblok tetapi ngotot. Goblok yang membuat anda termotivasi untuk terus belajar dan mengajar.
Banyak hal yang bisa didapat dari buku ini, penulis bisa dengan gamblang memberikan dasar logika tentang kejadian yang berkaitan dengan proses" campur tangan" Tuhan. Seperti strategi Nabi saw ketika akan berhijrah, kejadian ini tidak serta merta terjadi begitu saja. Penulis menjelaskan bahwa disetiap "campur tangan" Tuhan, DIA juga menyediakan tempat bagi manusia untuk turut serta dalam mensukseskan rencana besarNya.
Salah satu kosakata yang sering disebut buku ini adalah "Goblok" atau dalam bahasa Indonesia disebut "Bodoh". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bodoh berarti
- tidak lekas mengerti;
- tidak mudah tahu atau tidak dapat mengerjakan;
- tidak memiliki pengetahuan.
Tetapi, menurut saya, Goblok adalah
- apabila kita telah belajar dan memiliki ilmu, tetapi kita tidak bertindak menurut ilmu itu;
- jika kita terperosok kedalam lubang yang sama 2(dua) kali;
- jika kita mengetahui kebenaran sesuatu hal tetapi kita bersikap seolah-olah tidak tahu.
Itulah goblok versi saya. Sedangkan, ketidakmampuan kita untuk mengerti, ketidakmampuan kita untuk mengerjakan, dan ketidaktahuan kita akan sesuatu bukanlah kebodohan.
Bukanlah suatu kebodohan jika kita tidak mengetahui. Kebodohan adalah jika kita mengetahui sesuatu, tetapi kita bertindak tidak sesuai dengan pengetahuan yang telah kita miliki.
(read more ...)Feb
28
Pekerjaan beberapa hari ini membuat saya mengunjungi "kawasan merah" yang berada di sekitar morokrembangan, kampung ini adalah daerah dengan jumlah RT terbesar di Surabaya yakni 38 RT. Pertama kali menggelindingkan roda sepeda motor disana, saya tidak begitu mengetahui bahwa tempat ini adalah lokalisasi, karena memang suasana pada siang hari terlihat biasa saja. Hanya saja, saya sedikit bertanya-tanya, kenapa dibeberapa rumah tertempel stiker bertuliskan "Full Music", "Fasilitas hiburan: Karaoke", dan juga keberadaan tukang becak yang mangkal di sekitar rumah - padahal tidak ada toko bangunan yang berdiri. Lantas, becaknya digunakan untuk apa? bukankah ini hanya kampung biasa?
Setelah beberapa kali kunjungan, baru saya mengerti kalau tempat ini adalah Kremil. Lokalisasi prostitusi yang merupakan salah satu diantara lokalisasi yang masih eksis di Surabaya, lokalisasi yang bersegmen menengah dan bawah, karena tarifnya yang murah meriah. Menurut salah satu ketua RT disini, 80% pekerja seks melakukan ini karena alasan ekonomi, 10% korban pemerkosaan, sisanya beragam - salah satunya karena diputus pacar. Normalnya, mereka baru akan pensiun jika sudah berusia 55 tahun.
Sangat sulit membedakan pekerja seks dengan penduduk kampung biasa (tidak bisa atau memang saya tidak terbiasa), tidak semua wisma "ditandai" dengan stiker "Full Music", karena ada beberapa rumah yang terlihat biasa pada siang hari dan berubah menjadi "etalase" dimalam harinya. Bahkan, disalah satu gang saya melihat ada wisma yang buka disiang harinya.
Saya kira, tidak ada satu orang pun yang bercita-cita untuk menjadi PSK. Dan kalau memang ada kebijakan yang akan membuat lokalisasi ditutup, saya tidak bisa membayangkan kemana lagi pekerja ini akan mencari uang untuk menyambung hidupnya. Mereka bisa berpindah kemana aja. Karena barang dagangannya melekat. Mungkin beberapa yang terlihat muda akan berdandan ala gadis SMA dan berjualan dijalan umum. Pernah suatu saat Pemerintah mengintervensi dengan memberikan pelatihan menjahit dan merias, bahkan diberi bantuan berupa mesin jahit. Tetapi, begitu pelatihan selesai, mesin jahit yang ada kemudian diloak dan mereka kembali ke pekerjaan lama. Apakah ini berarti mereka menyerah? Tidak bisa disimpulkan sesederhana ini.
Kegiatan menjahit ini memerlukan energi yang besar, pun demikian hasil menjahit mereka ada kemungkinan tidak bisa dijual langsung, kenapa? Bayangkan, mereka yang baru beberapa hari dilatih diharuskan bersaing dengan pesaing(pengusaha) yang lebih senior...sebuah perjuangan yang sulit.
Keberadaan lokalisasi tentunya sangat mengganggu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kejiwaan anak kecil yang hidup disini, seberapa besar kekuatan mereka menangkis segala pengaruh buruk yang setiap hari mereka lihat, mulai dari seks, narkoba, dan minuman keras.
Satu hal yang pasti adalah bahwa jika ada supply, pasti ada demand. Jika ada demand, pasti ada supply. Yang membedakan hanyalah tingkat scarcity-nya saja. Banyak supply, tidak lagi langka, harga turun. Banyak demand, barang langka, harga naik. (Bicara soal scarcity saya jadi teringat akan kelangkaan ice cream Magnum - sengaja dibuat langka atau memang demandnya besar).
Mau menutup lokalisasi? Silahkan saja, asal para pekerja ini dibantu untuk bisa meneruskan hidupnya secara positif.
(read more ...)
Feb
16
Seusai perang Hunain, Rasulullah saw membagi-bagi harta rampasan, kepada Abu Sufyan bin Harb, tokoh penentang Islam yang baru memeluk Islam Rasul saw memberi bagian seratus ekor unta dan empat puluh uqiyah perak. Demikian pula Yazid dan Mu’awiyah, dua orang anak Abu Sofyan, mendapat bagian yang sama dengan bapaknya. Kepada tokoh-tokoh Quraisy yang lain beliau memberikan bagian seratus ekor unta. Adapula yang lain mendapatkan bagian lebih sedikit dari itu. Hampir seluruh kaum muallaf Makkah yang baru berIslam mendapatkan bagian jauh lebih besar dari para sahabat Rasulullah yang terlebih dahulu berIslam.
Melihat pembagian itu, para sahabat Anshar memandang lain. Mereka seakan-akan merasa terlupakan oleh Rasulullah saw. Akibat kebijakan Rasul saw ini muncullah gejolak di kalangan sahabat Anshar, hingga seorang di antara mereka berkata, ”Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan kepada RasulNya, karena beliau telah memberi kepada orang Quraisy dan tak memberi kepada kami, padahal pedang-pedang kami yang menitikkan darah-darah mereka”. Adapula di antara mereka yang berkata, “Rasulullah sekarang telah menemukan kembali kaum kerabatnya.”
Mendengar gejolak ini, Rasul saw kemudian mengumpulkan mereka dan berkata:
“Apakah ucapan kalian yang telah sampai kepada saya ?”
“Hai orang-orang Anshar, bukankah aku datang kepada kalian, sedang kalian dalam kesesatan, lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian dengan perantaraan aku ? Dan kalian dalam kepapaan, lalu Allah memberi kemampuan kepada kalian karena aku ? Dan dulu kalian bermusuhan, lalu Allah mempersatukan kalian karena aku ?”
“Hai kaum Anshar! Tidakkah kalian rela, bahwa orang-orang pergi dengan membawa kambing dan unta, sedangkan kalian kembali dengan membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian. Demi Dzat yang diri Muhammad berada dalam genggamanNya, jika bukan karena hijrah, tentu aku menjadi golongan Anshar !. Jika sekiranya orang-orang menempuh lembah dan tepi gunung, sedang orang Anshar menempuh lembah atau tepi gunung yang lain, niscaya aku menempuh jalan yag dilalui orang-orang Anshar !’ lanjut Rasulullah.
Lihatlah bagaimana Rasul saw memanage umat ini, beliau saw telah benar-benar mengerti bahwa sebuah idealisme dan komitmen adalah sesuatu yang tidak dapat diraih dalam waktu singkat dan mudah. Untuk mereka yang lemah iman, Rasul saw ingin menguatkan iman mereka dengan perantaraan harta dan dunia. Sedangkan untuk mereka yang kuat iman, Rasul saw menguatkan mereka dengan perantaraan cinta kasih.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipertemukan dengan begitu banyak manusia dengan berbagai latar belakang, dan bekerjasama dengan mereka dalam beberapa pekerjaan. Tidak semua orang yang kita temui memiliki idealisme dan komitmen yang sama dengan kita. Ada beberapa orang yang lebih berfokus pada harta dan dunia, beberapa lainnya lebih berfokus pada penilaian Alloh dan akhirat. Maka dari itu, seyogyanya kita tidak memberlakukan mereka dengan cara yang sama.
Bujuklah mereka yang belum mempunyai idealisme dan komitmen menggunakan harta dan dunia, ajari mereka untuk tumbuh. Bagi mereka yang sudah mempunyai idealisme dan komitmen, kuatkan mereka dengan cinta kasih, perlakukan mereka selayaknya engkau memberlakukan dirimu sendiri. Bertaqwalah kepada Alloh.
"Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Alloh telah mempersatukan hati mereka." (QS. Al Anfal: 63)
Melalui kitab suci, Alloh melarang kita untuk menggunjing, berprasangka buruk, mencemooh, dan mendoakan suatu kejelekan kepada orang lain. Seringkali saya berpikir, kenapa juga Alloh melarang kita berbuat seperti itu, meskipun terhadap musuh dan orang yang jelas-jelas mendzolimi kita.
Sekilas, ketika sebuah kejadian muncul dihadapan kita, pada saat itu pula kita berasumsi. Berpendapat dengan segala informasi yang ada, menyimpulkan, dan menilai. Keadaan ini baik, keadaan itu buruk, si A jelek, dan si B baik.
Terhadap si A, mungkin, dikarenakan sikapnya yang terlampau buruk, kita menjadi (sadar/tanpa sadar) mendoakan keburukan baginya. Terhadap kejadian buruk, kita secara sadar atau tidak, berharap ini akan berlalu secepatnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, serta pertemuan dan perpisahan dengan beberapa orang, saya menjadi mengerti kenapa Alloh mendidik kita seperti ini.
Terhadap seseorang yang berlaku dzolim terhadap kita. Saya menjadi benar-benar tahu bahwa diminta ataupun tidak, Alloh bakal membalas semua perilakunya. Oleh karenanya, doakanlah kebaikan bagi mereka yang menyakiti kita, mintalah DIA mengampuninya. Karena, balasan dari SANG MAHA bisa jadi sangat menyakitkan dimata kita. Sesungguhnya, perbuatan mereka tidaklah berbahaya bagi kita, karena bahaya sesungguhnya ada pada sikap kita, sudahkah kita bersikap dengan baik?. Karena Alloh juga bakal membalas sikap kita, sekecil apapun.
Terhadap kejadian yang menimpa orang lain. Saya menjadi benar-benar tahu bahwa baik/buruknya suatu hal tidak bisa dilihat secara sekilas. Ada banyak hal yang selalu luput dari pengelihatan kita, hal ini membuat sikap tidak menggunjing, tidak berprasangka buruk dan tidak mencemooh menjadi sesuatu yang sangat baik.
Selalu ada rahasia besar dibalik setiap kejadian. Tidak ada yang sia-sia dalam penciptaanNya. Tidak ada yang cacat dalam karyaNya. Tidak ada ketidakadilan dalam keputusanNya.
Ingatlah, ilmu dan hikmah selalu ada dalam kesabaran dalam melaksanakan segala perintahNya.
Feb
11
Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: "Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli". Kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota.(QS. Asy Syu’araa’: 52 - 53)
Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS. Asy Syu’araa’: 60 - 62)
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mu’jizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. (QS. Asy Syu’araa’: 63 - 67)
Lihatlah bagaimana kejadian demi kejadian didesain begitu detail dan rapat. Alloh memerintahkan Musa a.s pergi dari Mesir pada malam hari, dan ketika matahari telah terbit Alloh mengijinkan kedua kelompok ini saling melihat. Bayangkan, setelah kelelahan yang amat sangat karena pergi meninggalkan Mesir pada malam hari, dipagi hari mereka bertemu kembali dengan bala tentara Firaun. Bagi yang tetap yakin denganNya...iman macam apa yang ada pada diri mereka?
Setelah itu, Musa a.s diperintah untuk membelah laut, dan sekali lagi. DIA mendekatkan kedua golongan itu. Ujian keimanan kedua, semakin berat. Berhadapan dengan ganasnya laut dan tentara Firaun.
Bayangkan, jika kita berada didalam rombongan Nabi Musa, bagaimana keadaan iman kita? Akankah kita mengeluh melihat kejadian yang sangat menggoncangkan ini? Ataukah kita semakin pasrah dalam berserah kepadaNya?
tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman.
Ataukah kita berada dalam rombongan Firaun? yang tetap dengan ego kita, meski kebenaran tampak didepan mata?
Feb
07
Kenapa kita diperintah untuk bersikap sederhana, rendah hati, menolong mereka yang kesulitan, tidak bersikap berlebihan dan memamerkan harta?
Tidakkah engkau melihat orang lain yg lebih berkekurangan dari padamu?
Tidakkah engkau merasakan betapa sempitnya hati mereka saat melihatmu makan dan berjalan dengan begitu nikmatnya?
Sementara mereka...
Bagi sebagian orang, Tuhan sangat tidak adil.
Kenapa? Karena mereka melihatNya melalui kemewahanmu, kesehatanmu, anak-anakmu, rumahmu, pekerjaanmu, ketampananmu, dan kecantikanmu.
Saudaraku, maafkan aku, karena belum mampu membagi kasih karuniaNya dengan adil padamu. Doakan aku untuk mampu.
Tuhanku, bantu aku
Feb
04
Seorang anak kecil terlihat begitu sibuk dengan kertas origaminya, dia tampak serius dengan lipatan-lipatan.
Beberapa hari lagi ibunya berulang tahun, demi menyenangkan hati ibunda tercinta dia berniat untuk memberikan kado terbaik, buatan tangan sendiri. Sebuah perahu kertas.
Berbekal kertas origami dan teknik lipatan yang baru saja dia pelajari di playgroup, dia berusaha membuat perahu kertas terbaik. Prosesnya tidak mudah, berkali-kali dia salah melipat dan membuat perahunya terlihat lusuh.
Satu minggu telah berlalu, besok Ibundanya berulang tahun. Tetapi, perahu kertas istimewanya belum juga selesai, persediaan kertas origaminyapun juga telah habis. Pupus sudah harapannya untuk dapat memberikan hadiah terbaik.
Sisa hari dihabiskannya dikamar, dia meratapi ketidakmampuannya, berkali-kali dia mencoba, berkali-kali pula dia gagal, tidak ada satupun perahu buatannya yang terlihat bagus dan rapi, jauh dari sempurna.
Keesokan paginya, selesai sarapan pagi, dia pergi ke kamar, memilih perahu kertas terbaik diantara tumpukan perahu kertas yang ada. Dengan lemas dia pergi menemui ibundanya yang tengah duduk di sofa ruang keluarga.
"Selamat ulang tahun Bunda, ini hadiah dari adek. Maafin adek ya, perahunya kotor" ucapnya sambilterisak
"Adek pengen ngasih hadiah buat Bunda, perahu ini adek buat sendiri" tambahnya
Setelah menerima perahu, ibu itu langsung mengangkat anaknya dan mendudukkan dipangkuan. Sambil mengelus rambut anaknya beliau berkata,
"Bunda tahu kalau satu minggu ini adek selalu berada dikamar untuk membuat perahu. Bunda juga tahu kalau adek sengaja menyisihkan uang untuk membeli kertas origami. Tidak perduli bagaimana bentuk perahu ini. Bagi bunda, ini adalah hadiah teristimewa. Karena adek telah membuatnya dengan penuh cinta"
Dalam konteks hubungan kita dengan Alloh, mungkin ada banyak amalan yang telah kita kerjakan tetapi jauh dari sempurna, entah itu sholat, puasa, taubat, dan yang lain. Ingatlah selalu, Alloh selalu melihat dan mengetahui kesungguhan kita.
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab ra, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan)
Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Alloh dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. “ (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw bersabda: "Sungguh Alloh lebih mengasihi hamba-Nya daripada ibu terhadap anaknya." (HR. Bukhari dan Muslim)
(read more ...)Jan
28
Tahu kisah Yunus bin Matta? Seorang utusan Alloh yang berlari meninggalkan kaum yang seharusnya dibimbing untuk mengenalNya, dalam pelariannya dia kemudian ditelan seekor paus.
Selama menjalani kehidupan ini, mungkin, beberapa diantara kita pernah berlaku seperti Nabi Yunus a.s, meninggalkan tugas yang tengah di-emban (tugas yang merupakan limpahan dari orang lain ataupun tugas yang muncul dari inisiatif diri sendiri).
Beberapa orang dapat mengenali kesalahannya dengan cepat, beberapa tidak, bahkan ada yang tidak tahu kalau dia telah mencampakkan amanah. Lantas, bagaimana cara agar kita bisa mengetahuinya?
Pertama, bertanyalah pada Penciptamu.
Kedua, milikilah teman diskusi yang bijak. (Bertukar pikiran memang baik, tetapi harus dilakukan dengan bijak, tidak semua orang mampu memberi arahan dengan bijak. Saat memilih teman diskusi, gunakan ukuran milik Alloh, jangan gunakan ego. Jangan karena dia teman akrab, seumuran atau terlihat lebih tua membuatmu terpengaruh)
Setelah memutuskan, tanggung jawab ada pada diri kita. Hidup di dunia ini hanya sekali dan sebentar. Bersikaplah bijak.
Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-6 H. Rasulullah saw bersama para sahabat ra dalam perjalanan menuju Makkah untuk melakukan umroh. Berita bahwa kaum muslimin pergi menuju Makkah terdengar oleh kaum Quraisy dan berusaha menghalangi mereka memasuki Makkah. Rasulullah saw menegaskan bahwa kedatangan kaum muslimin ke Makkah bukan dalam rangka untuk berperang, akhirnya disepakatilah sebuah perjanjian yang dikenal dengan nama “ HUDAIBIYAH” yang isinya jelas-jelas merugikan kaum muslimin. Para sahabat kecewa dan murung. Diantaranya adalah Umar ibn Khaththab ra. Ia mendatangi Rasul saw dan berkata: "Wahai Rasul, bukankah kita ini berada diatas kebenaran ? dan mereka diatas kebatilan ?" "Bukankah korban yang mati diantara kita masuk surga ?, dan korban diantara mereka berada di Neraka" Rasul saw menjawab: "Ya, benar" Umar ra kembali bertanya: "Lalu mengapa kita merendahkan agama kita dan kembali, padahal Alloh Ta’ala belum lagi membuat keputusan antara kita dan mereka ?" Rasul saw menjawab: "Wahai Ibnul Khaththab, aku ini Rasulullah (Utusan Alloh) , aku tidak akan mendurhakaiNya . Dan Ia adalah Penolongku, Ia tidak akan menelantarkan aku" Hikmah dari kejadian ini adalah: Adakalanya kebenaran harus mengalah, tidak perlu memaksakan kebenaran. Alloh Maha Mengetahui, teruslah berbuat baik dengan cara yang baik.
Dalam sebuah riwayat yang cukup panjang Nabi Muhammad saw mendapat pelajaran tentang makna iman, islam, dan ihsan. Nabi menyebutkan bahwa ihsan adalah engkau beribadah kepada Alloh dengan seolah-olah engkau melihatnya. Jika tidak, yakinilah bahwa Alloh melihatmu. Jika Alloh melihat segala perilaku kita, bagaimana kira-kira keadaan kita? Bagaimana perilaku kita? Masih berbuat seenaknya? Pasti kita akan memperindah perilaku dan kondisi kita. Itulah ihsan. "Dia-lah dzat yang telah memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." (QS. As-Sajdah: 7) Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rizki yang baik-baik. (QS. Al-Ghafir: 64) Lihatlah dunia ini, bukankah Alloh sangat mampu membuat dunia ini hitam - putih. Tetapi, mengapa DIA menciptakan warna - warni yang indah dipandang mata? Kenapa DIA menciptakan kita dalam bentuk yang sebaik-baiknya? Berbuatlah dengan ihsan, kepada agamamu, kepada orang-tuamu, kepada keluargamu. Berbuatlah dengan ihsan, ketika engkau bergaul, ketika engkau menikah, ketika engkau memilih tempat tinggal, ketika engkau mendengar, berdebat. Berbuat ihsan-lah dalam hidup ini. Semoga Alloh merahmati kita
Des
31
Jiwa ini seperti tubuh, tercipta dalam kondisi lemah(anak-anak) untuk kemudian tumbuh dan berkembang(dewasa) jika dirawat dan diberi makanan. Sejak masih dalam kandungan, orang tua selalu menyediakan segala kebutuhan lahiriah kita, hingga pada suatu saat mereka akan melepas kita untuk hidup secara mandiri.
Pertanyaannya adalah, apakah kita telah memerlakukan jiwa seperti halnya tubuh?
Pernahkah kita "melihat" jauh kedalam diri sendiri? seberapa "tua" jiwa kita telah berkembang?
Menjadi dewasa adalah benar tanggung jawab individu. Tetapi, orang tua juga sangat bertanggung jawab untuk dapat menumbuhkembangkan "jiwa anak-anak" kita sehingga siap untuk dilepaskan dan mandiri.
Seseorang pernah berkata bahwa tua itu pasti tetapi menjadi dewasa adalah pilihan. Benarkah?
Jiwa ini butuh untuk dibesarkan, menjadi mulia, mengenal diri - sendiri, dan mengenal Tuhannya.
Resolusi tahun ini, adakah teman-teman mentargetkan sesuatu untuk jiwa?
(read more ...)
Lihatlah kalimat Alloh dan perkataan Rasul dibawah ini. Sungguh, dalam agama ini, ibadah dan akhlak adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Janganlah menjadi manusia yang rajin ibadah tetapi berakhlak buruk atau manusia berakhlak baik tetapi ibadahnya buruk. Jadilah rahmat bagi seluruh alam.
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya[ibadah], dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna[akhlak], dan orang-orang yang menunaikan zakat[ibadah], dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada
tercela.[akhlak]. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya[akhlak], dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya[ibadah]. (QS. Al Mukminun: 1-9)
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan[akhlak]. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka[ibadah]. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.[ibadah]. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian[akhlak]. (QS. Al Furqan: 63-67)
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat[ibadah], (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya[akhlak], dan enggan (menolong dengan) barang berguna[akhlak] (QS. Al Ma’un: 4-7)
Rasulullah Saw. bersabda, "Demi Allah, dia tidak beriman!" Itu diulanginya sampai tiga kali. Seorang sahabat Nabi bertanya, "Siapa dia (yang tidak beriman itu), ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya." (HR. Bukhari).
Nabi SAW bersabda, “Orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dijauhi manusia karena takut pada kejahatannya“ (HR. Ahmad, Al Hakim).
Diriwayatkan satu ketika beberapa orang menemui Rasulullah dan melapor “Wahai Rasulullah. Fulanah terkenal rajin mengerjakan salat, berpuasa dan berzakat. Hanya saja, ia sering menyakiti tetangganya.” Rasul menjawab, “Dia di neraka.“(HR. Muslim)
wallahu alam
(read more ...)Des
22
Output dari semua rangkaian ibadah yang kita lakukan adalah kesempurnaan akhlak. Berkenaan dengan sholat, Alloh berfirman, "Dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar". (QS. Al - Ankabut: 45). Berkenaan dengan zakat, Alloh berfirman, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan menyucikan mereka" (QS. At - Taubah: 103) Berkenaan dengan puasa, Nabi bersabda, "Jika kalian sedang berpuasa, maka jangan berbuat kotor dan membentak. Jika dimaki atau diajak berkelahi, katakanlah, ’Aku sedang berpuasa’" (HR. Muslim) Berkenaan dengan haji, Alloh berfirman, "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats(mengeluarkan perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Alloh mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. Al- Baqarah: 197)" Haji sepertinya memang telah didesain sebagai ajang pembuktian akan kesempurnaan akhlak yang telah kita latih secara "sendiri-sendiri", ketika berhaji, kita dipertemukan dengan banyak manusia dari berbagai latar belakang, berdesak-desakan disatu tempat selama kurang lebih 20 hari dengan aturan-aturan yang sangat ketat. Oleh karena itu, mabrurnya haji berbanding lurus dengan kesempurnaan akhlak. Seorang lelaki menemui Rasulullah saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia menghampiri Nabi dari sebelah kiri, “Apakah agama itu?” Dia bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik.” (al-Targhîb wa al-Tarhîb 3: 405). Itulah Islam. Akhlak yang baik, tidak ada pemaksaan, teror, sweeping, kebrutalan, penganiayaan, dan perusakan. wallahu alam
Des
22
Di dunia ini,
jika berkelebihan adalah buah dari ketaatan
mengapa para nabi justru lebih banyak merasakan kekurangan?
Jika tercerabutnya kenikmatan adalah buah dari pembangkangan,
mengapa manusia seperti Firaun justru bergelimang kenikmatan?
Musibah dan rahmat,
siapa yang berhak memutuskan?
Apakah rahmat harus selalu hal yang menyenangkan hati?
Apakah musibah harus selalu hal yang tidak menyenangkan?
Kejadian demi kejadian selalu berada dalam kuasaNya
musibah ataukah rahmat?
Benarkah?
Tahu darimana?
Jangan-jangan cuma imajinasimu saja.
Adakah DIA yang maha baik mendzolimi-mu?
Lepaskan ego-mu
lihatlah, hadapi setiap kejadian dengan caraNya, bukan caramu.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda: Akan muncul di akhir zaman nanti, suatu kaum yang terdiri dari orang-orang muda yang masih mentah fikirannya. Mereka banyak mengucapkan perkataan Khairil Bariyah (firman Allah dan hadis Rasul), tetapi iman mereka masih lemah. (HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,Bergegaslah melakukan amal (sebelum datang) enam perkara (diantaranya): Hadirnya generasi muda yang menjadikan al-Qur’an sebagai seruling, ia dijadikan tokoh bagi umat manusia meskipun ilmunya sangat sedikit (HR. Thabrani) Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, Akan keluar di akhir zaman kelompok orang yang masih muda, bodoh, mereka mengatakan sesuatu dari firman Allah. Keimanan mereka hanya sampai di tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya.(HR. Bukhari)
Sudah lama saya terusik dengan berita kekerasan yang dilakukan oleh beberapa orang yang bertindak atas nama Islam, mulai dari pembajakan pesawat, bom bunuh diri, sweeping, dan penghancuran daerah negatif. Terlepas dari benar tidaknya perbuatan yang dilakukan dan kebenaran media dalam memberitakannya. Terlebih, disaat muncul kejadian bahwa beberapa tenaga kerja indonesia yang bekerja di Arab menjadi korban tindak kekerasan. Sebuah daerah dimana Islam muncul untuk pertama kalinya.
Sangat tidak nyaman mendengar berita yang seperti ini.
Kalau memang Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, kenapa harus ada tindak kekerasan
Apakah untuk menyampaikan kebenaran harus dengan kekerasan?
Bukankah Rasulullah telah mencontohkan untuk berbuat dengan akhlak yang baik?
Lihatlah ketika perjanjian Hudaibiyah
Lihatlah ketika Islam menjadi mayoritas di Madinah
Lihatlah ketika Fathu Makkah
Lihatlah ketika Abu Sofyan berkunjung ke rumah Rasul untuk menemui putrinya
Tidakkah kita melihat bahwa Rasulullah telah mencontohkan sikap untuk memerangi kebathilan, dengan cara yang baik
Saya melihat, masih banyak orang yang berkutat dimasalah fiqih, mereka terlalu berfokus kepada penegakan syariat yang notabene hanya sebuah aturan yang bisa dilanggar. Syariat diciptakan untuk membuat kehidupan berjalan dengan baik...jika itu terlaksana dengan benar. Akan tetapi, ukuran kebenaran sangatlah bias, tidak ada kebenaran mutlak, semua hanya berdasar atas sangkaan kita saja. Kita belum dapat mengetahui kehendak Alloh yang sebenarnya.
Ad-Din ini dibangun atas 3(tiga) hal, Iman, Islam dan Ihsan. Iman hanya bisa didapat dari penguatan disisi Akidah, agar akidah tidak melenceng maka ada aturan yang harus dilaksanakan, semua aturan itu ada dalam Islam. Setelah akidah kita telah terarah maka tahapan berikutnya adalah menjadi manusia yang Ihsan. Terbaik. Rahmatan lil Alamin.
Syariat tanpa Akidah hanya akan menimbulkan kekosongan, kehampaan, ketidaktenangan, dan beban berat penghambaan.
Akidah tanpa adanya Syariat hanya akan menjadikan kita sesat, tidak terarah, tanpa tujuan.
13 tahun pertama misi kenabian adalah untuk menegakkan akidah, baru kemudian disusul dengan aturan-aturan(syariat). Islam adalah agama yang lurus, jalur terpendek untuk kita dapat mengenal Sang Pencipta. Jangan hanya berfokus pada jalan, tetapi lihatlah tujuan akhirmu. Siapa sejatinya yang kita sembah? Alloh ataukah Islam?
Tunjukilah kepada kami jalan yang lurus, yaitu Islam.
Untuk bisa sampai kepadaMu, melihat wajahMu
Bukan surgaMu
Tujuan kita adalah Alloh...Islam hanyalah jalan terpendek untuk bisa sampai padaNya.
(read more ...)Des
03
Takkan ada penyatuan jika yang dicinta tak mencari Ketika kilat cinta menyambar ke hati Pasti ada cinta di hati yang lain Ketika cinta Tuhan telah nyaring bernyanyi Tak pelak lagi, Tuhan telah mencintaimu Karena, Suara tepukan tidak akan datang dari sebelah tangan Semua unsur semesta berpasangan dan saling mencinta Menyatu, bersama menyempurnakan - satu sama lain Jika tidak ada cinta Tuhan dihatimu Kepada siapakah cintamu engkau tambatkan Karena, tidak akan ada dua cinta pada satu hati
Nov
26
Segala puji adalah milikNya Segala sesuatu adalah milikNya Tidak ada kejadian yang terlahir tanpa ijinNya Orang tua, sanak-saudara, pasangan hidup, anak, dan semua orang yang disekelilingmu bukanlah milikmu Perlakukanlah mereka sesuai dengan perintahNya Semua titipanNya adalah untuk engkau jaga dan pelihara Jangan berlaku seenaknya, seolah-olah engkaulah yang menciptakan mereka Bebaskan mereka, bimbing mereka untuk lebih mengenal dirinya Ajak mereka untuk dapat mengenal Pemilik Sejati Adalah tugasmu untuk memberitahukan semua itu Jangan memaksanya, bahkan Sang Pencipta tidak pernah memaksa Engkau adalah khalifah Atas dirimu dan makhluk yang disekitarmu Engkaulah yang mengemban amanahNya
Nov
26
Di setiap kejadian yang kita alami Dia selalu hadir, menyapa dan menemui kita Bila kenikmatan yang ada melenakan Ia menyapa dengan mencabutnya Agar kita kembali kepadaNya MengingatNya, menyapaNya, berkeluh-kesah padaNya Tidak ada yang lebih cinta kepada kita Tidak ada yang lebih rindu, selain Dia Tiap hari, Ia memanggil kita Tidakkah engkau mendengarnya? Dari yang segumpal darah Tidak pernah satu detikpun Ia melupakan kita Begitu halus dan lembut Siapapun engkau, Baik engkau percaya dan mengabdi padaNya ataupun tidak Diamlah sejenak, tanggalkan duniamu, lepaskan bebanmu Dengarkan suaraNya, telusuri asalnya, temukan Dia
Nov
22
Naruto, adalah seorang tokoh dalam komik dan film kartun ninja yang terlahir yatim piatu. Naruto kecil terlahir ketika desa tempat dia dibesarkan diserang oleh monster rubah ekor sembilan, banyak orang meninggal dan rumah hancur berantakan. Ayah naruto adalah seorang pimpinan di desa itu, dan melalui ayahnya inilah kekuatan monster ini disegel didalam tubuh naruto. Singkat cerita, di dalam tubuh naruto terdapat sesuatu yang ganas, buas dan memiliki kekuatan besar. Karena tragedi penyerangan monster ini, banyak warga desa yang trauma, dan mulai membenci naruto. Kehidupan naruto kecil sangat tidak menyenangkan, karena monster yang tersegel dalam tubuhnya inilah dia menjadi dijauhi orang teman sebayanya. Untuk menarik perhatian orang lain, naruto menjadi anak yang sangat nakal. Naruto sering kali bertanya, "Kenapa ada monster didalam dirinya?", "Siapa orang tua saya?", "Bagaimana wajahnya?" Tragedi monster ini secara khusus dirahasiakan oleh pemimpin desa demi menjaga agar tidak terjadi trauma berkepanjangan terhadap warga. Hal inilah yang membuat naruto berjiwa kosong dan tidak mendapat kasih sayang dan kejelasan akan masa lalunya. Bagi teman - teman yang mengikuti cerita ini, kalian pasti mengetahui bagaimana sepak-terjang naruto dalam mencari jati diri, mengendalikan monster yang ada dalam dirinya, melatih diri untuk menjadi ninja yang lebih baik dan berguna baik warga di desanya. Juga kenyataan bahwa naruto adalah anak dari salah seorang pemimpin desa dan juga ninja yang paling dihormati di seantero negeri ninja. Seperti naruto, kita sebagai manusia juga dibekali sebuah "monster" untuk dikendalikan dan dimanfaatkan kekuatannya. Kita bagaikan seorang "yatim piatu", yang selalu ingin tahu siapa "orang tua" kita, dan bagaimana "wajahnya". Saya rasa akan ada kenikmatan tiada tara bila kita bisa melihat, bertemu dan berbincang denganNya. Seperti halnya ketika naruto untuk pertama kalinya bertatap muka dengan kedua orang tuanya, disaat dia berperang melawan monster dalam tubuhnya dan hampir-hampir saja monster ini mengendalikan naruto. Tetapi, berkat bantuan kedua orang tuanya inilah, naruto mampu menyegel sisi buruk monster dan mulai bisa memanfaatkan sisi baik dan kekuatan besar monster rubah ekor sembilan ini. Kenali dirimu, kenali nafsumu, kendalikan kekuatanmu, persiapkan dirimu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. “Siapa yang beramal demi pahala, niscaya akan letih dengan harapan. Siapa yang beramal karena takut siksa, niscaya akan letih dengan prasangka baik. Siapa yang beramal demi Wajah-Nya, niscaya tiada letih baginya.” (Imam An-Nifari)
Nov
13
Perempuan itu...
Kata Rasul, dia itu seperti tulang rusuk yang bengkok bagian atasnya, dipaksakan lurus akan patah, dibiarkan akan tetap bengkok.
Perempuan itu...
Akan berperilaku seperti potensi nalurinya, cenderung berkemauan keras dan sulit untuk dilarang
Perempuan itu...
Sinar Tuhan, kekasih dunia, dan berdaya cipta
Bersabarlah dengan ke-absurd-an, dan kebengkokannya.
Semoga engkau menjadi baik dengan kehadirannya. =]
Okt
10
Dikisahkan, Yusuf putra Yakub menerima sahabat lamanya yang baru kembali dari perjalanan jauh. Ketika Yusuf bertanya tentang hadiah yang telah dibawa dari perjalanannya. Sang sahabat menjawab, bahwa dia telah mencari kemana-mana hadiah untuk Yusuf, tetapi tidak juga menemukan, karena Yusuf telah mempunyai segalanya. sampai pada akhirnya dia menyadari bahwa ada satu hadiah yang pantas bagi Yusuf, yaitu sebuah cermin.Dalam islam, Yusuf dikenal memiliki keindahan yang sempurna, karena ketampanan inilah Zulaikha jatuh cinta padanya. Dan, cermin ini adalah hadiah pantas yang mampu memantulkan keindahan Yusuf.
Serupa dengan kisah ini, suatu saat ketika manusia ditanyai Tuhan tentang hadiah apa yang dia bawa dari persinggahan di dunia ini. Satu-satunya jawaban yang mampu dibuat tanpa akan menjadikan rasa hina adalah dengan menghadiahkan kepada Tuhan �cermin� yang mengkilap sempurna. Cermin yang mampu memantulkan keindahan Tuhan yang luar biasa.
wallahu alam
(read more ...)
Okt
08
Dan (ingatlah) ketika ’Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QS Ash Shaff:6) Dalam Tafsir Al-Amtsal karya Ayatullah al-Uzhma Makarim Syirazi, disebutkan bahwa “Nama Muhammad adalah nama yang dipilih oleh Abdul Muthallib, kakek Rasululloh untuk beliau, sedangkan Ahmad adalah nama yang dipilih oleh Aminah, ibu Rasululloh untuk beliau. Demikian juga Abu Thalib, paman Rasululloh memanggil beliau dengan Muhammad dan Ahmad. Dari Jubair bin Muth’im radhiyAllohu ’anhu bahwa Rasululloh ShallAllohu ’alaihi wa sallam bersabda:"Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (yang menghapus) yang kekafiran dihapuskan melalui (perantaraan) aku, aku adalah Al-Hasyir yang mana manusia dikumpulkan (setelah tegaknya hari kiamat) setelah diutusnya aku, dan aku adalah al-’aqib (penutup) yang tidak ada nabi setelahnya." (HR. Al-Bukhari, Muslim) wallahu alam
Okt
06
Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Alloh yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang, dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rejeki kepadamu, Kamilah yang memberi rejeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. Dan mereka berkata: "Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Tuhannya?" Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu? (QS. Thaha: 129-133) Segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia telah diatur oleh Alloh dengan sempurna, setiap manusia yang telah melakukan sebab terjadinya sesuatu pasti akan mendapat hasil, tanpa dikurangi sedikitpun. Seseorang yang ingin kaya, terkenal, memperoleh kekuasaan dan segala nikmat dunia lainnya akan bisa mendapatkannya jika dia mau dan mampu melaksanakan aturan yang ada. Entah orang itu mempercayai adanya Sang Pencipta ataupun tidak, segala kemewahan dan fasilitas yang ada didunia ini diberikan secara adil kepada semua makhluk hidup. Tetapi, hanya orang mukmin saja yang secara khusus menerima cinta dan ridhoNya. Dunia bukanlah indikator bahwa kita beroleh cinta dan ridho Alloh, tetapi ketaqwaan. Ketaqwaan ini hanya tampak pada sikap bukan fasilitas hidup. Kaya - miskin, tua - muda, terkenal - terkucil, dicaci - dipuji, dibenci - dicintai, pintar - bodoh, dan segala indikator keduniaan lainnya bukanlah tanda kita dicintai di diridhoi Alloh. Alloh telah memberitahu kepada kita jalan mana yang Dia ridhoi dan murkai. Pilihan ada ditangan kita. Jadilah baik, bermanfaat, menyenangkan, dan aman bagi orang lain Katakanlah: "Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk". (QS. Thaha: 135) wallahu alam
Apabila Alloh Yang Maha Agung melimpahimu kekayaan(kekuasaan, kemasyuran, kekuatan), dan itu memalingkanmu dari kepatuhan kepadaNya, niscaya Ia akan memisahkanmu dariNya di dunia dan akhirat. Mungkin juga Ia mencabut karuniaNya darimu, menjadikanmu papa dan melarat, sebagai hukuman atas kepalinganmu dari Sang Pemberi, dan keterpesonaanmu akan karuniaNya. Tetapi, bila kau senantiasa patuh kepadaNya, dan tak terpengaruh oleh semua itu, Alloh akan menambahkan karuniaNya kepadamu, dan sedikit pun takkan menguranginya. Kekayaan(kekuasaan, kemasyuran, kekuatan) itu adalah abdimu, dan kau adalah abdi Sang Raja. Karena itu, hiduplah dibawah kasih sayangNya, dan hidup di akhirat dengan terhormat dan abadi, bersama-sama para shiddiq, para syahid, dan para shaleh. (Syech Abdul Qodir Al Jaelani) Jangan tertipu dunia, lihatlah dengan jelas ’sesuatu’ dibaliknya. Dunia adalah abdimu, engkau adalah abdiNya. Kita adalah Khalifah fil Ardh. Allohu Akbar.
Sep
24
Perang Badr dimulai, kaum muslimin menghadapi lawan yang tiga kali lipat lebih banyak. Sebelum berperang Nabi berdoa: ’Wahai Allah aku risau kalau seandainya kelompok kecil kami ini kalah, orang-orang yang banyak tidak siap berperang, senjata terbatas tidak mampu berbuat apa-apa, kalau sampai kalah kelompok ini dan habis di bantai, aku risau tidak ada yang menyembahMu di muka bumi, karena seluruh orang-orang, para da’i, para pembela Sang Nabi kumpul di Badr, kalau semuanya di bantai maka habislah, tinggallah Dhu’afaa’ (orang-orang lemah) di Makkah dan kaum wanita di Madinah, maka setelah ini jangan-jangan tidak ada lagi yang menyembahMu kalau sampai kelompok ini kalah.’ Umar berkata, ’Ketika perang Badr, kulihat Rasulullah saw. memakai pakaian perang sambil berkata, "Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur kebelakang"(QS. Al Qamar: 45)’. Ayat ini turun di Mekkah, jauh sebelum perang Badr dimulai. Manusia diberi kebebasan untuk aktif di satu arena yang dinamai kehidupan dunia. Akan tetapi, jika aktifitas kita mengarah kepada arah yang tidak dikehendakiNya, maka Dia Yang Maha Kuasa akan "turun tangan". "Dan adalah kewajiban Kami untuk menolong orang-orang mukmin" (QS. Ar Rum: 47) Wallahu alam
Sep
23
Jangan berupaya menjarah rahmat, dan jangan pula berupaya menangkis datangnya bencana. Rahmat dan bencana akan datang kepadamu jika ia sudah ditakdirkan untukkmu, baik kau suka atau pun tak suka. Berpasrahlah dalam segala hal, agar Ia bertindak melalui dirimu. Jika itu suatu rahmat, bersyukurlah. Dan jika itu suatu bencana, bersabarlah, cobalah untuk menumbuhkan keterikatan dengan Alloh dan keridhaanNya. Menyatulah sedapat mungkin denganNya lewat hal ini, melalui sarana spiritual yang kau miliki, sehingga engkau dapat berjumpa dengan Sang Maha Besar. Janganlah kau mengeluh tentang sesuatu bencana yang menimpamu kepada siapa pun, kawan maupun lawan. Jangan pula menyalahkan Tuhanmu atas semua takdir-Nya bagimu, dan atas ujian yang ditimpakan-Nya atasmu. Biarkanlah bencana itu datang, dan jangan rintangi jalannya. Jangan merasa gundah atas kedatangannya. Bencana itu datang bukan untuk menghancurkanmu, tapi mengujimu, mengukuhkan imanmu, menguatkan pilar-pilar keyakinanmu, dan memberimu secara rohani. Alloh berfirman : Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (QS Muhammad:31). Nabi Suci saw., telah bersabda: "Alloh lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya berbanding seorang ibu terhadap anaknya." Segala suatu adalah ciptaan-Nya, di tangan-Nyalah sumber gerak atau diam mereka. Keberadaan mereka sampai detik ini semata-mata karena kehendak-Nya. Dialah penentu derajat mereka. Barangsiapa dimuliakan-Nya, maka takkan ada yang mampu menjadikannya hina. Dan barangsiapa dihinakan-Nya, takkan ada yang mampu menjadikannya mulia. Jika Alloh berkehendak menimpakan keburukan atasmu, tak seorang pun sanggup mencegahnya, selain Ia sendiri. Dan jika Ia berniat melimpahkan kebaikan, tak seorang pun sanggup menahan turunnya rahmat-Nya. Wahai yang dirundung malang! Tunjukkanlah perilaku terbaik.Tunjukkanlah kesabaranmu bila musibah menimpamu, meski kau tak berdaya karenanya. Bersabarlah selalu, meski kau kepayahan dalam menyerahkan diri kepada-Nya. Bertakwalah selalu kepada-Nya. Ridho dan rindulah kepada-Nya. Jika masih kau temui kedirianmu, bergegaslah keluar darinya. Bila kau terhilang, dimanakah kau kan didapat? Dimanakah kau? Belumkah kau dengar firman Alloh: "Diwajibkan atas kamu berperang, sesungguhnya berperang itu sesuatu yang kamu benci. Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Dan Alloh Maha-mengetahui, sedang kamu tak mengetahui." (QS Al Baqarah: 216). Pegang teguhlah semua perintah dan larangan Alloh, lewatilah, di bawah petunjuk keduanya, jalan menuju Tuhanmu, yang telah menciptakan dan menumbuhkanmu. Nah, semua musibah tak lain adalah sarana penebus dan pembersih diri. Nabi saw. bersabda: "Demam sehari dapat menebus dosa sepanjang tahun." (syech Abdul Qodir Jaelani) wallahu alam
Berapa banyak diantara kita saat ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan hati berdoa agar Alloh memberikan kita kesabaran dalam menghadapinya? Padahal, bisa jadi doa itu terkabul(bukankah doa orang teraniaya akan diijabah dengan mudah?) dan mendatangkan ujian lain yang lebih berat. Kok bisa?
Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, semua telah diukur dengan amat teliti, tidak ada ujian yang datang melebihi kemampuan kita, termasuk dalam hal penyelesaiannya. Alloh sangat mengetahui sepanjang apa sumbu kesabaran yang kita miliki, tidak mungkin Alloh mendzolimi kita dengan memberikan sebuah ujian yang melebihi kemampuan kita. Lantas, apa hubungan antara doa meminta kesabaran yang kita panjatkan disaat kita mengalami masalah?
Alloh telah mendesain ujian sesuai dengan kemampuan kita dalam bersabar. Tetapi, saat kita berproses menghadapi masalah itu dan meminta kesabaran lebih...maka secara tidak langsung, kita telah meminta sebuah ujian dengan tingkat kesabaran yang lebih besar lagi. Bukankah ujian itu berbanding lurus dengan tingkat kemampuan kita dalam menyelesaikannya? Parahnya, jika disetiap ujian yang datang, doa itu terus-menerus kita panjatkan.
Bukannya tidak boleh berdoa seperti itu, tetapi seyogyanya kita harus lebih sadar akan konsekuensi dari doa yang kita panjatkan, sehingga ketika ujian datang dan terasa menghimpit, kita tidak serta-merta menyalahkan sesuatu diluar diri kita. Bukankah kita sendiri yang mengundang ujian itu datang kepada kita?
Doa meminta kesabaran ini hendaknya dipanjatkan ketika akan menghadapi sebuah permasalahan(berdoalah disaat lapang), dan pada saat kita terjun kedalam masalah itu panjatkanlah doa agar Alloh memudahkan urusan itu untuk kita. Umar bin Khattab berkata "Ketika tertimpa musibah, aku bersyukur kepada Alloh akan 4(empat) hal: pertama, musibah itu tidak menimpa agamaku. kedua, aku tidak tertimpa musibah yang lebih berat. ketiga, Alloh membimbingku untuk menghadapinya. keempat, karena Alloh akan membalasku ketika aku menghadapNya diakhirat kelak"
Wallahu alam
Sep
16
Islam tidak menyuruh untuk jangan mencintai, tetapi jika kamu mencintai jangan menyeleweng
Islam tidak menyuruh untuk jangan membenci, tetapi jika kamu membenci jangan berbuat dzalim
Islam tidak menyuruh untuk jangan merindu, tetapi jika kamu merindu jangan sampai berlebihan
Alloh menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya ikatan kokoh antara laki-laki dan perempuan. Seseorang pernah mengatakan bahwa komitmen berpacaran ibaratnya seperti telur ayam(bagian kecil saja), sedang menikah seperti ayam itu sendiri(seluruh bagian). Ada yang juga yang mengatakan bahwa berpacaran sebelum menikah dapat dijadikan jaminan untuk menghantarkan ke pernikahan dan memperoleh kebahagiaan rumah tangga. Dalam hal ini, berpacaran sebelum menikah dijadikan proses untuk mengenal lebih jauh calon pasangan yang akan dinikahi.
Saat berpacaran, seseorang cenderung untuk tampil semaksimal mungkin dihadapan pujaan hatinya hingga terkadang melakukan hal-hal diluar kebiasaan sehari-hari dan melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Hal ini akan menjadi baik jika perbuatan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan dan mampu merubah diri menjadi lebih baik. Dan akan menjadi buruk jika hal ini ternyata hanya dijadikan sebagai topeng(munafik) agar terlihat baik hanya pada saat bersama pujaan hatinya saja. Hal ini akan menjadi semakin parah jika ternyata proses ini memang berlanjut ke jenjang pernikahan, karena akan ada banyak hal tidak terduga yang bisa memicu konflik.
Berpacaran sebelum menikah memang bisa dijadikan sarana untuk saling mengenal, tetapi...apakah dengan menjalani proses ini kita dapat mengenal calon pasangan kita dengan utuh? Dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mengenal kepribadian seseorang, tidak cukup hanya dengan sms, telpon, dan pertemuan malam minggu yang singkat. Bahkan, pasangan suami istri yang setiap hari bersamapun terkadang masih saja menemukan hal ajaib pada pasangannya setelah sekian lama menikah.
Bagi saya, cinta sejati hanya bisa didapat setelah pernikahan, setelah kita benar-benar berkomitmen kepada Alloh pada saat menikahi pasangan kita.
Menurut anda, mana yang lebih baik. Seseorang yang taat kepada Alloh dan berusaha sekuat tenaga untuk mematuhi syariat, padahal dia sendiri mempunyai kecenderungan yang sama dalam hal perasaan dan syahwat ataukah seseorang yang mengumbar pandangan, menuruti nafsu dan keinginannya dengan berbagai cara?
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur: 26)
Wallahu alam.
Sep
01
Saya pernah menulis perihal sholat khusyu dan bagaimana cara menggapainya disini. Pada tulisan kali ini saya mencoba untuk meringkasnya. Dalam surat Al Baqarah: 45 Alloh memberitahu bahwa selain sholat, ada hal lain yang membutuhkan ke - khusyu’ - an, yaitu sabar. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Menurut hemat saya, khusyu’ adalah sebuah kondisi dimana hati kita terikat(dengan sangat kuat) kepada Alloh. Bagi yang pernah jatuh cinta, pasti dapat merasakannya, disaat waktu berjalan dengan begitu cepat(ketika bersama) dan terasa begitu lama(ketika berpisah), serta rindu yang teramat sangat bila berpisah. Khusyu tidak dapat dinilai hanya dari berapa lama seseorang sholat, meskipun ada kecenderungan untuk ingin lebih berlama-lama dalam melakukannya. Keadaan ini sama persis dengan keadaan kita ketika bertemu dan bercengkrama dengan orang yang kita cintai, perasaan ini pun juga akan menjadi sangat WAH(saya tidak mampu menemukan kata yang cukup mewakili perasaan ini) ketika berada dalam kesendirian(dalam artian berkhalwat berdua saja). Berkenaan dengan ini M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa khusyu’ itu bertingkat-tingkat. Ibaratnya seperti tingkatan orang-orang yang diundang menghadiri pameran lukisan: Khusyu itu mudah, bagi yang dimudahkan oleh Alloh. Wallahu alam
Seorang laki2 lari tunggang langgang krn dikejar harimau, semakin lama harimau itu makin mendekat, di tengah keputusasaannya dia melihat sebuah sumur, tanpa pikir panjang dia melompat kedalamnya. Tak disangka, ternyata didasar sumur terdapat ular hitam besar siap menyantapnya.
Segera saja dia sadar kalau telah melakukan kesalahan fatal, tapi terlambat, ketika akan keluar, harimau telah menunggu di bibir sumur siap menerkam. Alhasil, dia terpaksa berdiam diri diantara harimau & ular sembari memegang tali timba yang ada.
Malang tak dapat ditolak, karena sejurus kemudian dia juga melihat ada beberapa ekor tikus tengah mengerat tali timba.
Sumur ini berada tepat dibawah sebuah pohon yang dihuni oleh lebah madu yang saking ’suburnya’ membuat madu yang tersimpan dlm sarang mereka menetes tepat ke dalam sumur. Karena tidak ada sesuatu hal berguna yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan diri, dia menunggu kejadian selanjutnya sembari menampung tetesan madu yang ada.
Pesan dari kisah ini adalah disaat pintu untuk berusaha telah tertutup, bersabarlah menunggu kesempatan terbuka kembali sembari menikmati hal baik yang ada. (dinukil dari buku si cacing dan kotoran kesayangannya)
Agu
19
Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Sesungguhnya Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah memberi kita petunjuk untuk meraihnya.
Musa berkata:" Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.(QS. Thaha: 50)
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Paling Tinggi, Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk," (QS al A�la: 1-3)
"Dan (demi) jiwa serta Dia yang menyempurnakan (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan." (QS asy Syams: 7-8)
"Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya," (QS Abasa: 19-20)
Setiap manusia diciptakan mempunyai fitrah khusus, dengan tujuan inilah kita tercipta. Proses pelaksanaan fitrah ini
akan membawa kita menuju kepada kebahagiaan. Seperti saya tulis Misi Pribadi bahwa disamping petunjuk yang berlaku secara umum (beribadah kepada Alloh), ada juga yang bersifat khusus (individual). Petunjuk khusus ini hanya dapat diraih jikalau kita sudah dapat melaksanakan petunjuk umum yang telah Alloh jelaskan melalui lisan Rasulullah saw.
Maka dari itu "Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Alloh), (tetaplah atas) fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Alloh. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS ar Rum: 30).
wallahu alam
Agu
04
Berapa banyak dari kita telah dengan detail merencanakan hidup? Dari semua rencana yang telah kita buat(bagi yang merencanakan), adakah semua ter-realisasikan? Kehidupan yang saat ini sedang kita lalui, adakah masuk dalam rencana kita? Pertemuan kita dengan beberapa orang yang saat ini menjadi teman kita, dimana kita bekerja, demikian pula segala sesuatu yang datang dan pergi, apakah sesuai dengan keinginan/rencana kita?
Mungkin, banyak diantara kita yang saat ini sedang gelisah, bingung, khawatir dan takut akan masa depan. Entah soal karier, rumah, pasangan hidup, pendidikan anak, kesehatan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, sejak kapan kita mulai memikirkan masalah ini?
Saat masih anak-anak, pernah-kah terlintas dalam pikiran kita tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan masa depan?
Misalnya seperti: Apakah besok kita akan dapat uang jajan, darimana uang untuk membeli perlengkapan sekolah, biaya kesehatan bila nanti sakit, dan lain sebagainya.
Seiring dengan berjalannya waktu, Alloh - sedikit demi sedikit memberikan kita kemampuan untuk dapat mengerti dan memahami bagaimana kehidupan ini berjalan. Bahwa, ada begitu banyak hal rumit terjadi dan tidak semuanya ada dalam pengaturan kita. Sejak hijab mengenai pengaturan ini tersikap dan melihat begitu banyak hal sulit yang harus diperjuangkan, kita menjadi takut dan khawatir.
Terbukanya hijab ini bukanlah untuk membuat kita menjadi takut dan khawatir. Alloh memberi kemampuan untuk mengerti bagaimana kehidupan ini berjalan adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang telah kita nikmati sedari bayi sampai saat ini merupakan buah karyaNya. Dia ingin kita mengetahui bahwa dengan segala ke Maha Sempurnaan-Nya, kehidupan ini berjalan. Dengan ataupun tanpa campur tangan kita dalam merencanakan hidup, Dia sudah mengatur segala sesuatu. Untuk kita.
Pertemuan kita dengan orang-orang yang saat ini menjadi sahabat kita, adakah semua ini kita rencanakan? Adakah pertanda yang menegaskan bahwa si A akan menjadi teman kita, si B akan menjadi orang tua angkat kita, si C akan menjadi pasangan hidup kita?
Segala sesuatu telah dan akan berjalan sesuai dengan rencana Alloh. Demi Alloh, segala sesuatu yang ditakdirkan untukmu, bagaimanapun caranya, pasti akan sampai padamu.
Disetiap pemilihan seorang pemimpin, berapapun banyaknya calon yang maju bersaing, pemenangnya bisa dipastikan hanya 1(satu) orang saja. Tidak bisa kelima kandidat memenangi pemilihan ini. Alloh sudah mentakdirkan jalan hidup seseorang, tugas kita hanyalah sebatas menyempurnakan usaha sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan Sang Maha Segalanya. Karena, "Apa saja yang dibawa (diperintahkan) oleh Rasul kepadamu, maka ambillah (kerjakanlah), dan apa saja yang dia larang bagimu, maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)
Berlatihlah untuk dapat melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Selaraskan keinginan kita dengan kehendakNya. Karena, jika suatu saat Dia yang Maha Tahu, Maha Perencana, dan Maha Baik mengijinkan sesuatu terjadi kepada kita, dan itu tidak cocok dengan keinginan kita, maka hal itu akan dengan mudah kita hadapi.
Beristirahatlah dari mengatur diri sendiri, segala sesuatunya telah Dia atur untukmu, kenali aturanNya, jangan sibuk berprasangka dan menentukan kriteria semaumu. Hiduplah dengan damai, bersamaNya.
Agu
03
- Sebelum keluar rumah, bertekadlah untuk memaafkan orang yang berbuat buruk padamu.
- Sebelum keluar rumah, berwudhulah, dirikan sholat, dan mohonlah keselamatan kepada Alloh selama berada diluar.
- Sebelum keluar rumah, titipkanlah keluarga, rumah dan seluruh isinya kepada Alloh. Karena hanya Alloh sebaik-baik penjaga.
- Sebelum keluar rumah, berdoalah "Bismillah - Tawakaltu ’ala Allohi - Wa la hawla wa la quwwata Illa Billah".
- Lakukan selalu amar makruf nahi mungkar, tanpa mencelakakan diri, kehormatan, dan harta.
- Berjalanlah dengan tenang dan tawadhu.
- Ketika bekerja, ingatlah Alloh. Selalu.
- Saat bekerja, jangan sampai aktivitas kerja melalaikan kita dari sholat pada waktunya (secara berjamaah).
- Jujurlah.
- Jagalah lidah.
(Ibnu Athoillah)
(read more ...)Banyak hal yang membuat manusia terhijab dari Alloh, ini membuat kita menjadi sibuk dengan diri sendiri dan terbujuk bisikan setan. Sehingga, tanpa sadar kita telah menjadikan Pencipta alam semesta mempunyai sekutu, entah itu benda mati ataupun benda hidup (tumbuhan, manusia, jin/malaikat)
Sebagai makhluk ciptaan Alloh, kita wajib taat hanya kepada Alloh, tidak mengikuti perintah selain perintaNya. Karena, barangsiapa menaati selain perintahNya, maka sesungguhnya dia telah menjadikan sekutu bagi Alloh.
Sekutu Hawa nafsu
"maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya,..." (QS Al Jatsiah: 23/)
Sekutu Setan
"Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk" (QS Al A’raaf: 30)
"Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan?" (QS Yaasiin: 60)
Sekutu Manusia
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Alloh dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan." (QS At Taubah: 31)
Khusus penyekutuan Alloh dengan manusia, Imam Jafar al Shadiq berkata "Bahwa, jika ada orang alim yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal dan kalian mengikutinya, maka kalian telah menyembah mereka, sedang kalian tidak menyadarinya"
Pertanyaannya, bagaimana jika orang tidak tahu bahwa ulama itu telah berbohong atau bahwa hukum yang ditetapkan ulama itu salah dan melenceng dari nash?
Pada Risalan Ta’alim pasal 1(satu) prinsip ke 7(tujuh) Imam Hasan Al Banna menerangkan "Bahwa, setiap muslim yang belum mencapai kemampuan untuk menelaah dalil, hendaknya mengikuti salah satu imam dengan diiringi upaya(semampunya) untuk memahami dalil yang digunakan oleh imamnya tersebut. Taqlid(mengikuti pendapat orang lain) hanya diperbolehkan bagi orang yang tidak mampu. Sedang ijtihad (sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang) boleh bagi yang mempunyai kemampuan"
"... maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (QS Al Anbiya: 7)
Maka dari itu, bagi mereka yang belum mampu menelaah dalil, ada baiknya untuk terus belajar. Sedang, bagi seseorang yang mampu, diharapkan lebih bisa melatih diri dan mengoptimalkan pengetahuan. Sehingga, potensi yang selama ini ada dapat dimaksimalkan dan membuat umat menjadi mengerti dan memahami dalil yang ada dengan penuh keyakinan.
“Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan beberapa imam yang lain)
Jul
29
Ada beberapa hal yang oleh Alloh dijadikan sebab (perantara) terjadinya sesuatu, hanya saja manusia sering beranggapan bahwa sebab-sebab inilah yang sanggup mendatangkan kebaikan atau keburukan.
Misalnya, seseorang - ketika akan melakukan suatu pekerjaan merasa akan beruntung atau tertimpa kesialan hanya karena mendengar suara tokek atau burung gagak. Padahal, segala sesuatu yang terjadi adalah karena pengaturan Alloh semata.
Hal ini serupa dengan anggapan bahwa posisi bintang akan mempengaruhi kehidupan kita. Maka, jika seseorang, ketika akan melakukan pekerjaan kemudian mengurungkan niatnya disebabkan mengikuti perkataan orang lain atau berdasarkan pendapat sendiri bahwa waktu itu adalah waktu sial, maka dia sudah menyekutukan Alloh. Karena, semua manfaat dan mudharat hanya berada pada sisi Alloh semata.
Intinya, segala sesuatu yang terjadi adalah murni karena kuasa Alloh. Maka dari itu, seyogyanya jangan beranggapan bahwa:
- Bekerja merupakan sebab tercukupinya rejeki
- Menyuap merupakan sebab kemenangan
- Pergi ke dokter merupakan sebab kesembuhan
- Angka 13 dan sekian banyak pertanda bathil hasil pemikiran manusia adalah sebab kesialan kita
- Alarm HP adalah sebab kita bisa bangun malam
- Amal ibadah adalah sebab dimasukkannya kita ke surga Alloh
- Kekurangan fisik merupakan penyebab kita tidak mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan
- .....(teruskan sendiri)
Tathayyur(menganggap sesuatu yang buruk itu terjadi disebabkan suatu hal) adalah syirik (syirik kpd rububiyah Alloh) (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan yang lain).
Wallahu alam
(read more ...)Jul
22
Menyambung note Prasangka, perjalanan Nabi Musa dengan Nabi Khidhr memuat hikmah bahwa ketetapan Alloh bukanlah sesuatu yang harus dibahas, kenapa Khidhr melubangi perahu yang mereka naiki, kenapa Khidhr membunuh anak kecil, kenapa Khidhr membantu membetulkan tembok roboh sebuah rumah yang penduduknya sangat kikir dan pelit. Kenapa?
Segala kejadian yang kita saksikan di dunia ini pasti ada sebabnya. Namun, atas dasar kebijaksanaan Ilahi, hal - hal sedemikian tidak akan mungkin dapat dipahami logika manusia, jangan sampai kejadian yang tidak PAS di hati ini membuat keimanan kita menjadi goyah. Alloh dengan kebijaksanaanNya telah menentukan segala sesuatunya. Sesuatu yang tampak buruk dimata kita boleh jadi menyimpan sebuah rahasia besar yang tidak kita ketahui. Karena, baik menurut kita belum tentu baik menurut Alloh.
Jika, kita hidup di negara yang memiliki seorang panglima berusia 20-an tahun, dan mengatakan bahwa dia membawa perintah Tuhan, sementara dia senantiasa memimpin pasukannya ke negara tetangga dengan membantai, menyiksa, atau mengampuni dan memaafkan, benar-benar sesuka hatinya. Akankah kita mengikutinya?
Atau, jika kita mempunyai tetangga seorang yang dikucilkan oleh masyarakat. Membangun perahu di gunung yang setiap hari kerjanya hanya berteriak-teriak bahwa 6 bulan lagi akan ada banjir, mirip orang gila. Akankah kita mengikutinya? Atau ikut menertawakan?
Berhentilah hidup dengan membawa kriteria diri sendiri, sibuk dengan pikiran kita sendiri. Mari, belajar untuk lebih mengerti kehendak Alloh.
Karena, boleh jadi panglima 20-an tahun yang sesuka hatinya membantai atau menyiksa, juga mengampuni dan memaafkan, adalah Iskandar Dzulqarnain, seorang yang menyebarkan kebenaran di sepanjang Asia, Timur Tengah hingga Eropa. Ia dibebaskan Alloh untuk menyiksa ataupun mengampuni sesukanya.
"Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Wahai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka". (QS. al-Kahfi: 86)
Dan, boleh jadi, orang gila itu adalah Nabi Nuh, seorang arsitek perkapalan dan ahli zoologi terhebat sepanjang sejarah manusia.
Jul
22
Ingat cerita tentang nabi Musa dan Nabi Khidhr? selengkapnya baca Surat Al Kahfi ayat 64-82. Di awal perjalanan, Nabi Khidhr telah mengingatkan bahwa Nabi Musa tidak akan bisa bersabar, karena Nabi Musa belum mempunyai pengetahuan yang cukup akan kejadian yang akan terjadi.
Begitulah, pada setiap kejadian, hampir selalu Nabi Musa berpikiran negatif, semua yang dilakukan Nabi Khidhr selalu dipertanyakan, kenapa anda melubangi perahu yang kita naiki, kenapa anda membunuh anak kecil, kenapa anda membantu membetulkan tembok roboh sebuah rumah yang penduduknya sangat kikir dan pelit. Kenapa?
Seringkali, kita melihat suatu keadaan secara sepotong-sepotong, tanpa kita tahu secara detail kenapa kejadian itu terjadi, dan kenapa seseorang bertindak seperti itu. Seperti halnya Nabi Musa, tidak semua hal yang terjadi dihadapan kita sebaik/seburuk kelihatannya, adakalanya seseorang berbuat sesuatu yang kita nilai tidak baik, tapi tahukah kita sebab musabab kenapa dia melakukan hal itu, kalau mau bertanya pada hati yang paling dalam, siapa sih orang yang pengen hidup menanggung masalah, dikucilkan, dimusuhi, dan dicurigai oleh orang lain? Insya Allah tidak ada.
Dalam islam, kita dilarang keras untuk Su’udzon (berburuk sangka) dan Ghibah (menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seseorang, sedang ia tidak suka jika hal itu disebutkan) terhadap manusia lain.
"Rasulullah bersabda : Hati-hatilah kamu dari ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dari pada berzina. Ditanya, bagaimanakah? Jawabnya, "Sesungguhnya orang yang berzina bila bertaubat maka Allah akan mengampuninya, sedangkan orang yang ghibah tidak akan diampuni dosanya oleh Allah, sebelum orang yang di ghibah memaafkannya." (HR Albaihaqi, Atthabarani, Abu Asysyaikh, Ibn Abid)
Karena, seperti halnya Nabi Musa melihat perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Khidhr, kita sebagai manusia bisa saja salah dalam menilai suatu keadaan. Meskipun toh kejadian tidak baik yang kita lihat adalah benar, jangan sampai lidah kita tergerak untuk mengatakannya, biarlah Allah yang membukanya untuk kita. Ketahuilah apa yang kamu katakan, karena itu akan dipertanggungjawabkan. Kelak.
Jul
17
Disaat kita berpisah dengan seseorang yang kita cintai dan mencintai kita, mungkin akan muncul pertanyaan "kenapa Alloh menghadirkan rasa ini, jika kemudian harus berpisah?". Kemarin adalah hari dimana saya melihat (untuk kesekian kalinya) bagaimana seorang wanita menangis sedih karena harus berpisah dengan laki - laki yang dicintainya, kematian yang mendadak.
Ya, kenapa Alloh sang Maha Pencinta memberikan kita kesempatan merasakan cinta?...Karena, Alloh ingin memberitahukan akan makna cinta sejati dan memberikan kepada kita sebuah rasa yang lebih besar dan lebih kuat daripada itu. Rasa itu adalah Ridho.
Menurut Syech Abu al-Abbas al- Mursi (guru Ibnu Athoillah), cinta adalah rasa yang akan membuat kita diliputi kerinduan yang dahsyat. Cinta membuat kita selalu ingin melihat dan selalu berhubungan dengan kekasih kita. Berbeda dengan ridho, ridho adalah keadaan dimana kita selalu berlapang dada dengan segala yang telah ditetapkanNya. Keadaan ini akan membuat kita menjadi mengerti dan mampu menjalankan keinginan Alloh.
Berpisah dengan seseorang yang kita kasihi memang sangat mengguncang hati, tetapi...yakinlah Alloh selalu memberi yang terbaik bagi kita,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Hidup ini tidaklah berjalan seperti lingkaran yang kejadiannya akan terjadi secara berulang dan sia - sia, hidup ini berjalan seperti garis lurus, setiap kejadian di desain oleh Alloh untuk membuat hati kita semakin utuh dan mantap dalam berpasrah kepadaNya. Gesekan hidup dan ujian yang ada secara bertahap akan membuat kita semakin sadar dan mampu mengenal diri dan mengerti tugas kekhalifahan. Kenapa kita terlahir pada keluarga seperti ini, dengan keadaan seperti ini, bertemu dengan orang-orang yang saat ini menjadi teman kita, bekerja di tempat ini. Setiap pertanyaan ada jawabannya, temukanlah. Semoga Alloh selalu membimbing kita. Aamiin
Jul
15
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku. (Al Baqarah: 43)
..."Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang ruku dan yang sujud". (Al Baqarah: 125)
Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang ruku. (Ali Imran: 43)
Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat...yang ruku yang sujud...(At Taubah: 112)
... dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku dan sujud. (Al Hajj: 26)
...kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya...(Al Fath: 29)
Begitu banyak ayat dalam Al Quran yang memerintahkan kita untuk sujud dan ruku kepada Allah. Dari rangkaian ibadah sholat yang kita lakukan hanya posisi sujud dan ruku’ yang mendapat perhatian lebih besar. Kenapa?
Menurut hemat saya, seperti halnya saat sholat. Kita, manusia saat berproses mengenal Allah (Makrifatullah) selalu menggunakan akal untuk menjangkau keberadaanNya (untuk pertama kalinya), kemudian setelah sampai pada tahap keimanan, perlahan logika kita mulai sedikit terkoreksi dan mulai mempercayai hal-hal yang jauh diluar nalar. Untuk selanjutnya meyakini dengan sepenuh hati akan perihal yang tidak mampu dijangkau oleh otak.
Al Quran banyak menggunakan kata sujud dan ruku sebagai kata ganti sholat adalah untuk memberitahu kepada kita bahwa dalam proses keberserahan diri kita hendaknya selalu mengutamakan hati, seperti pada saat kita melakukan sujud dimana posisi otak berada dibawah hati. Atau, paling tidak mensejajarkan akal kita, seperti pada saat kita melakukan ruku’ dimana posisi otak berada sejajar dengan hati.
Janganlah memposisikan akal diatas hati seperti pada saat melakukan i’tidal, dimana posisi otak berada diatas hati, hal ini akan membuat keimanan kita goyah. Tidak semua hal bisa dinalar dengan logika.
Bukankah,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah)
sebagaimana yang diterangkan Allah dalam hadist qudsi-Nya, ’Tiada yang sanggup menampung-Ku, baik bumi maupun langit-Ku. Hanya hati hamba-Ku yang Mukmin yang dapat menampung-Ku.’
Bertanyalah selalu pada hatimu, bila hatimu tenang...insya Allah. Itulah keputusan yang benar
Tenang yang sebenar-benarnya tenang. Karena, ketenangan sejati itu datang dari Allah, bukan dari menonton film, lawak, pergi rekreasi, atau curhat dengan manusia lain.
wallahu alam
Jun
28
Syukur adalah terbukanya kalbu melihat anugerah Tuhan. Syukur terbagi 3(tiga): syukur lisan, syukur perbuatan dan syukur kalbu. Syukur lisan adalah menceritakan nikmat Allah. Allah berfirman, ’Adapun nikmat Tuhanmu, ceritakanlah’. (QS. Ad Dhuha: 11) Syukur perbuatan adalah melakukan ketaatan kepada Allah. Allah berfirman, ’Beramallah wahai Daud sebagai bentuk syukur.’ (QS. Saba’: 13) Lalu, syukur kalbu adalah mengakui bahwa semua nikmatmu dan semua nikmat yang ada berasal dari Allah. Allah berfirman, ’Semua nikmat yang ada padamu berasal dari Allah’(An Nahl: 53)
Tentang syukur lisan, Rasulullah saw bersabda. ’Menceritakan nikmat Allah adala syukur’. Sementara bentuk syukur perbuatan telah dicontohkan Rasulullah saw ketika beliau sholat sehingga kedua kakinya bengkak. Rasulullah saw ditanya, ’Mengapa engkau melakukan itu, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang kemudian?’ Rasulullah saw menjawab, ’Tidakkah kau suka aku menjadi hamba yang bersyukur?’. Lalu, tentang syukur kalbu. Rasulullah saw setiap pagi mengucapkan, ’Ya Allah, apapun nikmatku hari ini atau nikmat seorang makhlukMu, semuanya berasa dariMu. Tidak ada sekutu bagiMu’
Engkau dikatakan bersyukur jika,
engkau berilmu, maka bersyukurlah dengan mengajar dan memberi petunjuk.
engkau kaya, maka bersyukurlah dengan memberi dan mendahulukan hamba.
engkau mempunyai jabatan, maka bersyukurlah dengan bersikap adil kepada rakyatmu serta menyingkirkan bahaya dan kesulitan mereka.
(Ibnu Athaillah)
Jun
28
Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya ". Allah berfirman:" Lemparkanlah ia, hai Musa! " Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman:" Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula." (QS. Thaha: 17-21)
Ayat diatas dapat ditafsirkan sebagai berikut:
Apakah yang ada di tanganmu? "Ini adalah duniaku, aku bergantung padanya, ditempat inilah aku mencari rejeki untuk menghidupi tubuhku, dan bagiku ada keperluan yang lain" Allah berfirman:"Lemparkanlah ia". Ketika dunia itu dilempar, maka terungkaplah hakikat sebenarnya. Kembali Allah berfirman:" Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula."
Dunia memang berbahaya. Tetapi, dengan ijin Allah semua itu tidak akan berbahaya, bahkan bisa menjadi senjata yang sangat berguna untuk melawan ’tukang sihir Firaun’.
Al Quran adalah mata air yang tidak pernah kering, disebutkan di dalam hadis Rasulullah saw dan para imam Ahlul Bait bahwa “Sesungguhnya Al-Quran memiliki makna lahir dan batin, sedangkan makna batinnya memiliki makna batin lagi hingga tujuh makna”. Menurut Ibnu Qayyim, Al-Qur’an adalah pengantin wanita yang memakai cadar dan menyembunyikan wajahnya darimu. Bila engkau membuka cadarnya dan tidak mendapatkan kebahagiaan, itu disebabkan caramu membuka cadar telah menipu dirimu sendiri, sehingga tampak olehmu ia berwajah buruk. Ia mampu menunjukkan wajahnya dalam cara apapun yang disukainya, apabila engkau melakukan apa-apa yang disukainya dan mencari kebaikan darinya, maka ia akan menunjukkan wajah yang sebenarnya, tanpa perlu kau buka cadarnya.
Baca Al Quranmu, seolah - olah kitab ini diturunkan hanya kepadamu. Lalu perhatikan apa yang terjadi :)
Jun
24
Abdullah bin Mas’ud bercerita di mana Rasulullah membuat satu garis lurus dan mengatakan: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau membuat garis-garis yang banyak dari arah kanan dan arah kiri dan beliau mengatakan: “Ini adalah jalan-jalan dan tidak ada satupun dari jalan tersebut melainkan syaitan menyeru di atasnya.” Kemudian beliau membacakan firman Allah: “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka tempuhlah ia dan jangan kalian menempuh jalan yang banyak tersebut yang pada akhirnya akan memecah diri-diri kalian dari jalan-Nya.” (QS. Al An’am: 153)
Sedikitnya 17 kali dalam sehari kita meminta petunjuk kepada Allah agar kita dapat berjalan di shirath al mustaqim. Tetapi, sampai saat ini berapa banyak diantara kita telah ’secara sadar’ menempuh jalan itu dan bertemu denganNya.
"Sesungguhnya Rabb-ku berada dijalan yang lurus" (QS. Hud: 56)
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu", dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. (QS. Yasin: 60-61)

“Diriwayatkan dari Miswar bin Makhramah ra : ‘Ali bin Abi Thalib ra. melamar anak perempuan Abu Jahal, sedangkan waktu itu dia adalah suami Fathimah, putri Nabi saw. Sewaktu mendengar lamaran Ali, Fathimah pergi menemui Nabi saw seraya berkata:"Sesungguhnya kaummu berbicara bahwa engkau tidak pernah marah karena putri-putrimu. Aku memberitahukan bahwa Ali hendak menikah dengan putri Abu Jahal."
Berkata Miswar: Kemudian Nabi saw. berdiri. Aku mendengarnya membaca tasyahud, lalu berkata: "Amma ba’du. Sesungguhnya aku menikahkan Abu’l Ash bin Rabi’. Dia berbicara kepadaku dan dia membenarkanku. Dan sesungguhnya, Fathimah binti Muhammad adalah segumpal dagingku. Dan aku benar-benar tidak suka kalau mereka memfitnahnya. Demi Allah, sesungguhnya tidak boleh berkumpul putri Rasulullah dengan putri musuh Allah pada seorang suami selama-lamanya."
Kemudian Ali ra menggagalkan lamarannya. (Shahih Muslim)
Hemat saya, yang disunnahkan bukanlah poligaminya. Tetapi, bila kita ditakdirkan untuk berpoligami maka hukum islam telah mengaturnya, sesuai dengan yang telah dicontohkan Nabi saw.
Demikian pula perihal jenggot, yang disunnahkan bukanlah memiliki jenggot. Tetapi, jika ditakdirkan mempunyai jenggot, maka disunnahkan dirawat dan dipelihara sesuai dengan yang telah dicontohkan Nabi saw.
wallahu alam
Apr
28
Suatu masalah itu jika menyempit, maka tabiatnya ia menjadi meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar. Itulah sunnah kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yang pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk meridhoi kondisinya. Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang musim penghujan.
Mungkin saja betapa banyak kesedihan yang engkau keluhkan. Tapi permudahlah urusanmu. Lapangkanlah pikiranmu. Tidakkah engkau membaca firman Allah SWT " Alam nasyrah laka sadrak...." ( Bukankah kami lapangkan dadamu ). Tidakkah engkau berbahagia karena di dunia ini masih terhampar banyak harapan. Di dunia ini masih banyak kemudahan.
Wahai yang berkeluh tentang banyak urusan. Lalu menjalani hidup serasa dalam kurungan. Sementara air matanya terus mengalir karena sedih. Sesungguhnya dalam pakaian Yusuf AS terdapat obat yang menyembuhkan kebutaan dua mata Ya’kub AS. Sesungguhnya dalam air dingin yang diguyur kesekujur tubuh, adalah kesembuhan bagi penyakit yang di derita Ya’kub AS.
Untuk rasa sakit, ada kesembuhan. Untuk penyakit, ada obat. Untuk haus, ada air. Untuk kesulitan, ada kelapangan. Dalam kesempitan, ada kebahagiaan. Dalam gelap, pasti akan ada cahaya terang. Api yang menghimpit Ibrahim Al Khalil, bisa menjadi mudah dan dingin. Lautan di hadapan Musa AS bisa terbelah dan digunakan untuk berjalan. Yunus Bin Matta AS, akhirnya keluar dari tiga gulita, karena kasih sayang Allah Al Jaliil (Yang Maha Mulia ). Rasulullah Al Mukhtar ( yang Terpilih ) pernah berada di dalam gua, dikelilingi oleh para kuffar. Hingga berkata Abu Bakar Ash Shiddiq ra, " Sesungguhnya orang-orang kafir hanya berjarak beberapa jengkal. Kami khawatir bila terjadi kehancuran. " Berkata Rasul sang pemilik keyakinan dengan penuh ketegasan, " Sesungguhnya Allah bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita. Sebagaimana Dia telah menghimpun kita.
Katakanlah kepada orang yang tenggelam dalam putus asa dan telah terjatuh. Kepada orang yang telah patah arang dan terpuruk. Kepada orang yang ternodai pemahamannya dalam masalah taqdir. Bekerjalah dan beramallah, sesungguhnya Allah SWT justru menurunkan hujan setelah manusia putus ada terhadap hujan.
Adalah Bilal pernah terkapar di atas tanah tandus, tapi dialah yang kemudian menaiki Ka’bah Baitullah untuk mengumandangkan seruan adzan. Dialah yang memperdengarkan bumi dengan suara langit. Adalah Yusuf AS pernah lama terpenjara di balik jeruji besi. Tapi kemudian ia bisa menjadi seorang Raja Mesir setelah Al Aziz. Adalah Umar Bin Khattab ra seorang penggembala kambing di Mekkah. Lalu dialah orang yang bisa menebarkan keadilan dalam masa kekuasaannya. Lalu namanya terpahat di baju besi. Lalu dia yang memotong tali pelanggaran. Lalu dia yang suaranya menggelegar menghentak penguasa tiran.
Allah SWT pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yang Allah berikan setelah kesulitan? Allah SWT yang mematahkan tali pengikat orang-orang yang terpenjara di jeruji para penguasa otoriter. Allah SWT yang akan menghapus air mata anak-anak yatim. Apakah engkau pernah melihat orang faqir yang selamanya tidak mempunyai uang dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya? Apakah engkau mendapati seorang tahanan selamanya berada di dalam penjara yang gelap? Tidak ada bencana yang terus menerus terjadi. Karena di sana ada Allah SWT Yang Maha Sendiri dan satu-satunya Tempat Meminta.
Siapapun yang melazimkan istighfar, maka Allah SWT akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesulitannya. Allah SWT yang akan memberinya jalan penyesalan terhadap setiap kegundahannya. Laa HAULA Wa Laa Quwwata Illa Billah, tidak ada daya dan upaya kecuali Allah SWT. Dengan kalimat itu, segala beban mampu terpikul, semua kengerian bisa terlewati, seluruh keadaan bisa lebih baik, lebih melapangkan pikiran dan menambahkan rasa ridho kepada Allah Al Jalal.
Beritakanlah kegembiraan kepada malam, dengan datangnya waktu subuh yang menyapu gelap dari puncak gunung-gunung. Beritakanlah kegembiraan kepada musim semi dengan turunnya limpahan air hujan hingga air itu masuk ke sela-sela pasir. Beritakanlah kegembiraan kepada orang faqir dengan harta yang bisa mengusir kematian.
Ketahuilah, di setiap kesulitan itu ada jeda. Di setiap kebutuhan itu ada pertolongan. Sesungguhnya Allah SWT menghilangkan bencana dengan ketulusan do’a dan kebersihan harapan. Ketahuilah, himpitan dan kesulitan itu menghilangkan kesombongan dan terus menerus mendorong kepada dzikir, syukur dan kewaspadaan berpikir. Maka tenangkanlah hatimu jika kegalauan menerpamu. Lapangkanlah dadamu jika kesulitan menyerangmu. Jangan putus asa terhadap apa yang telah terjadi dan telah hancur. Ketahuilah, karena tidak ada sesuatu yang abadi selama alam semesta ini berputar.
Semoga kesulitan menjadi lebih ringan bagimu, dan musibah bisa memberikan kebaikan untukmu. Jika hidupmu telah terhimpit dan tak ada lagi alas an yang bisa engkau angkat. Kembalilah kepada Allah SWT. Ketahuilah bahwa kesulitan tak pernah berlangsung terus menerus. Allah SWT pasti memandangmu dengan pandangan kasih dan sayang. Karena dunia ini tidak berada dalam satu keadaan. Karena dunia ini berwarna-warni dan beragam bentuknya. Tidak ada kengerian yang tak pernah selesai. Belenggu akan terbuka dan ikatan akan terlepas. Bersabarlah, berdo’alah dan nantikanlah jalan keluar dari Allah SWT. Ketahuilah, sesungguhnya kesulitan itu akan mampu membuka kejernihan telinga dan mata, serta menajamkan pikiran. Kesulitan bisa memberi hikmah dan pelajaran. Kesulitan mengajarkan kemampuan untuk memikul beban dan bertahan. Kesulitan menghapuskan dosa. Kesulitan memperbanyak pahala.
Maka, mintalah perlindungan dan pertolongan Allah SWT. Setiap musibah itu mempunyai tujuan. Berapa kali kita merasa takut, lalu kita berdo’a dan meminta kepada Allah SWT. Kemudian Allah SWT menyelamatkan dan melindungi kita. Berapa kali kita di lilit lapar, lalu Allah memberi makan dan minum untuk kita. Berapa kali kita diterpa kebimbangan dan keresahan, lalu Allah memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Berapa kali kita terjerat dan kita hampir terjatuh dalam kehancuran. Kemudian Allah SWT memberikan jalan untuk bangkit dan berjalan.
Ketahuilah, engkau berhubungan dengan Yang Maha Lembut terhadap hamba-Nya. Yang Terkenal dengan Pemberiannya. Yang Maha Meberi untuk kebahagiaan hamba-Nya.Yang Maha Kuasa atas segala keinginan-Nya.
source: http://adajalankeluar.blog
Apr
28
Satu minggu terakhir ini saya telah mendengar 3 (tiga) berita kematian. Pertama, dari Ibu saya yang mengabarkan bahwa seorang bibi saya meninggal. Kedua, dari teman kantor yang mengabarkan bahwa ayah dari kolega kami meninggal dan yang ketiga dari status FB seorang teman SMP.
Di buku Sang Raja Jin terbitan Kayla Pustaka - 2008, Irving Karchmar menulis,"Kematian adalah salah satu anugerah terlembut dari Tuhan. Kematian memisahkan orang dari kegembiraan dan kesedihan sementara, yang hanya setetes belaka bagi jiwa. …di balik kematian ini terbentang Samudra Cahaya… (hlm. 33)"
"Kematian adalah sesuatu yang tak terelakkan, tetapi kalian takut padanya. Jiwa kalian takut ketika memikirkan kematian. Tetapi seorang Sufi tak meminta apa pun, dan tak takut pada apa pun, sebab ia telah memasrahkan hidupnya dan menyerahkan segala yang dimilikinya kepada Tuhan. (hlm. 34)"
Kematian adalah sesuatu yang pasti, setiap detik kita mendekatinya, tanpa bisa kita melangkah menghindar. Kematian memutuskan kita dari segala hal yang bersifat keduniawian. Putus amal - putus ikhtiar. Sayangnya, kita selalu saja terlena dengan dunia, lebih mendahulukan urusan dunia yang sementara. Berikhtiar mencari rejeki yang sudah dijanjikan sampai lupa untuk beribadah kepadaNYA. Sibuk memperbaiki diri agar terlihat baik dimata orang lain, dan terkadang menjadikan kita melakukan hal yang dibenci Allah.
Keseriusan kita beraktifitas di siang hari yang terkadang berlebihan membuat jam tidur kita jadi kacau, sehingga terlupa untuk menyapa Allah di malam hari, dan merefleksikan segala perbuatan sia-sia yang mungkin kita lakukan. Hal ini lambat laun membuat hati kita menjadi semakin terhijab dari setiap nikmat dan ampunan yang telah Allah berikan, menjadikan kita jarang bersyukur atas nikmat sehat yang sangat jarang kita minta tetapi telah Allah cukupi. Betapa Allah sangat mencintai kita, bahkan disaat kita mengeluh berkekurangan.
"Kebanyakan manusia tidak melihat bahwa dalam kesadaran akan cinta tersembunyi kesadaran akan Tuhan… (hlm. 154)"
"Ketahuilah… cinta adalah dasar dan prinsip dari jalan menuju Tuhan. Segala keadaan dan maqam adalah tahapan-tahapan cinta, yang tak akan bisa dihancurkan selama Jalan Cinta itu ada. (hlm. 282)"
"…ketika Tuhan menyuruh mereka melihat alam semesta yang diciptakan-Nya, mereka tak melihat hal-hal yang lebih berharga ketimbang diri mereka sendiri, dan karenanya mereka dipenuhi kebanggaan dan kesombongan… Tubuh sujud dalam shalat, dan jiwa meraih cinta, ruh sampai ke kedekatan dengan Tuhan, sedangkan hati beroleh kedamaian dalam persatuan dengan Allah… Cinta tak bisa dijelaskan. Penjelasan tentang cinta bukanlah cinta, karena cinta melampaui kata-kata… cinta adalah anugerah ilahi. Ia tak dapat direbut, juga tak bisa dilawan. (hlm. 283)"
Kematian adalah jalan cinta untuk bertemu dengan Sang Kekasih Sejati, begitulah ucapan malaikat saat hendak mencabut nyawa Ibrahim Khalilullah.
Sudahkah kita menyiapkan hadiah untuk Sang Kekasih?
"berjuanglah untuk menaklukkan ego dalam pikiran dan perbuatan, dan berusaha bersyukur atas anugerah Allah dengan menghambakan diri dalam banyak pelayanan (hlm. 113)"
"…Jika datang kepadamu orang yang sakit karena berpisah dari-Ku, sembuhkanlah dia. Atau bila karena melarikan diri dari-Ku, carilah dia. Atau jika karena takut kepada-Ku, yakinkanlah dia. Lalu beri bantuan kepadanya, atau kalau kau bertemu dengan orang yang mencari-Ku, bantulah dia mendekati-Ku. Atau jika dia amat membutuhkan rahmat-Ku, bantulah dia. Atau jika dia berharap kasih sayang-Ku, ingatkanlah dia. Dan jika dia tersesat, carilah dia. Sebab engkau telah ditakdirkan untuk membantu-Ku, dan engkau telah kuangkat untuk melayani-Ku. (hlm. 115)"
Wallahu Alam
Feb
05
Bayangkan, kita berada disebuah gedung perkantoran yang mewah, duduk di suatu ruang tunggu bersama begitu banyak orang lainnya untuk antre mengambil jatah bingkisan parcel yang dibagikan tiap tahunnya. Satu hal, pada saat anda memasuki ruang itu, anda tidak diberikan nomor urut pengambilan, anda hanya datang begitu saja, duduk dan menunggu nama anda dipanggil.
Seperti gedung-gedung lainnya, disini ada tata tertib yang harus ditaati. Tata tertib ini diletakkan pada sebuah pigura besar, sehingga memungkinkan siapapun dapat melihatnya tanpa kesulitan. Begitulah, karena antrian begitu banyak, maka tidak semua orang akan mendapatkan jatah parcel dengan cepat, tapi tenang saja, di dalam ruang ini, anda bisa dengan bebas mempergunakan segala fasilitas yang ada, mulai dari kamar kecil, kamar tidur, bahkan untuk makan pun ada.
Dari tempat duduk anda saat ini, terlihat jelas kelelahan yang teramat sangat pada wajah petugas pembagi parcel. Memang, setiap 1 jam ada pergantian petugas, tapi tetap saja, karena begitu banyak orang yang dilayani, pergantian tugas ini serasa tidak ada artinya. Benar-benar pekerjaan berat.
Detik, menit, jam, sudah anda lalui, tapi tidak ada tanda-tanda nama anda dipanggil, anda kesal. Apalagi pada saat yang sama, anda melihat ada beberapa orang yang baru saja datang, baru saja duduk beberapa menit, sudah dipanggil. Sedangkan anda?
Karena tidak bisa bersabar, anda lantas maju menuju tempat pembagian dan meminta dengan sedikit memaksa, komplain terhadap petugas karena nama anda tidak dipanggil, tapi tetap saja. "Maaf Pak, belum giliran anda" jawab sang petugas dengan ramah.
Hari sudah hampir sore, nama anda dipanggil. Akhirnya.
Dengan hati penuh kegembiraan yang membuncah anda segera duduk didepan petugas untuk menerima parcel. Tetapi, sebelum parcel ditangan anda, sang petugas meminta sesuatu kepada anda, sebuah imbalan. Anda melihat wajah petugas ini dengan penuh keheranan, petugas ini bukan petugas yang tadi menjawab anda dengan begitu ramah. Dasar petugas brengsek^^.
Seperti halnya cerita diatas, hidup adalah sebuah antrian panjang tanpa urutan yang jelas. Segala sesuatu bisa datang dan pergi sesuka hati, cepat atau lambat.
Sebagai penerima ’parcel’, anda harus mentaati segala peraturan yang ada di ’tempat pembagian’. Bersabarlah dan jangan pernah berpikir untuk melanggar peraturan yang ada.
Sebagai pemberi ’parcel’, anda harus ikhlas memberikan hak orang lain tanpa meminta imbalan. Jangan sampai perkataan dan perbuatan anda membuat hati orang lain menjadi resah. Karena ’parcel’ itu adalah hak orang lain, dengan ataupun tanpa bantuan anda, ’parcel’ itu akan tetap sampai pada si penerima. Karena anda cuma petugas yang dititipi amanah.
Rahmat Allah, cepat atau lambat, pasti akan datang, sebagai penerima anda harus bisa bersabar, sebagai pemberi anda harus sadar bahwa Allah hanya meminjam diri anda. Segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali padaNYA.
Wallahu alam
Feb
03
Ada beberapa kejadian yang cukup menarik untuk diceritakan, tentang terkabulnya beberapa hal yang meski sepele tapi cukup bisa membuat saya tersenyum sendiri.
Sejak kecil, saya selalu memimpikan untuk pergi ke Bali dan Jogja. Kenapa? Karena hampir setiap libur perpisahan, saya tidak pernah bisa mengikuti paket acara yang diadakan oleh sekolah, alasannya sih klise. Biaya :)
Tetapi, setelah bekerja, kesempatan untuk bisa melancong ke berbagai daerah terbuka dengan lebar, bahkan jauh melebihi doa-doa yang pernah saya ucap. Bayangin aja, selama melaksanakan tugas, saya hampir tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun, semuanya telah dicukupi oleh kantor, termasuk ongkos parkir dan ke WC. :)
Soal Jogja, bulan januari kemarin, kantor ngadain liburan kesana, gak tanggung-tanggung, satu kantor di ajak semua, lengkap, satu keluarga. Di liburan ini saya dapat bonus besar, dapat tambahan melancong ke Solo dan beberapa lokasi wisata antara Solo dan Jogja, nginap di hotel berbintang plus uang saku untuk membeli oleh-oleh. Sesuatu yang sama sekali tidak terlintas di pikiran saya, mimpi pun tidak.
Untuk yang ’sepele’. Sering kali, saya punya keinginan yang muncul secara tiba-tiba. Misal, pengen makan ini atau itu, secara santai saya berdoa "Ya Allah, saya pengen banget makan makanan dengan tambahan ini dan itu", dan...secara ajaib semua itu terkabul lewat beberapa tangan teman saya. Gratis.
Kemarin, seorang teman kantor saya lapar, secara reflek saya memberikan nasi bungkus yang sedianya akan saya makan pada beliau, isinya: nasi, telor dadar, mie dan tempe goreng. Selesai makan beliau bilang "Allah memang luar biasa, tadi waktu berangkat ke kantor, saya minta ke Allah. Kalau makan pake telor dengan sedikit mie enak kali ya" "Lihat Guh, doa saya terjawab". haha. Subhanallah
Kalau direnungkan lagi, ada banyak keinginan yang dulu tidak sengaja terucap sekarang terwujud lengkap dengan beberapa bonus, pembicaraan santai dengan beberapa orang teman ternyata adalah doa yang kadang tidak kita sadari telah dijawab oleh Allah. Jadi, berhati-hatilah dengan segala ucapan. Karena, bisa jadi itu adalah doa yang mustajab.
Ketika seorang sahabat Rasulullah selalu langsung meninggalkan masjid setelah selesai shalat tanpa berdoa, Nabi pun menegurnya dengan pertanyaan, ”Apakah kamu sama sekali tidak mempunyai kebutuhan kepada Allah?” Sahabat itu pun terperanjat dan mulai memahami arti doa, maka setelah itu ia pun rajin berdoa kepada Allah. ”Bahkan,” katanya di kemudian hari, ”garam pun kuminta kepada Allah”
Begitulah kekuatan doa, maka sudah selayaknya kita tetap berdoa kepada Allah SWT.
Wallahu Alam
Kalau Muhammad bin Abdullah tidak dapat membaca, kenapa Jibril menyuruh beliau membaca (Iqra’)? bukannya melafalkan (Utlu) atau katakanlah (Qul)? Benarkah Rasulullah tidak dapat membaca dan menulis (buta huruf)?
Diriwayatkan, Muhammad amat terkejut dan kepayahan setelah Jibril menampakkan diri dan menyuruh beliau membaca.
"Iqra." kata Jibril
"ma ana biqari" jawab Muhammad, sampai 3 kali.
ma ana biqari boleh jadi jawaban cerdas yang keluar dari mulut Muhammad dikarenakan beliau tidak mengetahui apa yang harus beliau baca, membaca dari mana, dari buku atau kitab? Ma ana biqari (Aku tidak dapat membaca/apa yang harus kubaca/mana yang harus kubaca)
"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata" (QS. Jumu’ah: 2) ---> Bagaimana mungkin Rasulullah dapat membaca (bukan melafalkan/mengatakan) jika beliau buta huruf, karena membaca melibatkan indra pengelihatan.
Apakah ummi pada ayat "(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-A’raaf: 157) ini berarti buta huruf?
Ataukah...
Nabi yang buta agama, artinya: beliau tidak pernah mengenal dan mendalami suatu agama pun sebelumnya, sampai Jibril membawa risalah Islam di Gua Hira.
Lantas, bagaimana dengan pengalaman beliau saat berdagang ke berbagai negeri? bukankah kegiatan ini membutuhkan keahlian dalam bidang akuntansi, minimal dalam hal merekapitulasi angka-angka.
Wallahu alam.
Jan
26
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.(QS. Muhammad:36)
Ayat diatas memberitahukan kepada kita bahwa hakikat kehidupan di dunia ini adalah sebuah permainan belaka. Hal senada juga tersurat pada (QS. AL-Hadiid:20 & Q.S Al-An’aam:32), tetapi proses penciptaan dan tujuan penciptaan ’lahan permainan’ ini tidaklah main-main (QS. Al-Anbiyaa:16, QS. Al-Mu’minuun:115, QS. Ad-Dukhaan: 38).
Allah menciptakan dunia ini layaknya sebuah arena pertandingan, didalamnya terdapat aturan,hadiah dan hukuman. Seperi lazimnya sebuah permainan, Allah tidak serta merta menyuruh kita bertindak ’buta’, selalu ada buku panduan.
Segala apa yang terjadi di kehidupan ini, sekecil apapun, sudah direncanakan dan dipantau Allah
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. Al- An’aam:59).
Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. Ar-Rahmaan:29)
Mulai dari di keluarga mana kita terlahir, proses tumbuh kembang kita, dengan siapa kita bertemu, sampai ajal menjemput, semua sudah direncanakan oleh Sang Maha Perencana. Setiap konflik yang telah dan akan kita hadapi, semuanya adalah ujian, untuk memperlihatkan sejauhmana kualitas diri ini dalam bermain (beribadah), apakah sia-sia ataukah membuahkan hasil dan pantas menerima hadiah ?
Silahkan menghitung-hitung sendiri, seberapa layakkah kita berdiri...sendiri...dihada
Apakah kita termasuk orang yang suka memutus tali silaturahmi, berprasangka buruk terhadap orang lain, sombong, selalu menjelek-jelekan orang lain, mencemooh segala kekurangan orang lain, berkata sia-sia, mengambil apa yang bukan hak kita, kurang bersabar dan tidak ridho dengan segala yang telah diberikan oleh SANG MAHA MENGETAHUI DAN MENCUKUPI ? Silahkan berhitung dan memperbaiki,sebelum nanti...bibir dan lidah ini merasakan kekeluan yang luar biasa dihadapanNYA, saking kelu-nya sampai-sampai Allah membuat semua anggota tubuh ini berbicara.
Ya Allah, jangan jadikan aku orang yang pertama kali memutuskan tali silaturahmi, dan berikan hambamu kekuatan untuk terus mengikat erat simpul tali silaturahmi...seberat apapun kondisinya. Aamiin.
Jan
26
Terlalu banyak ayat dalam Al Quran yang secara jelas memerintahkan kita untuk menafkahkan sebagian dari rejeki kita kepada orang tua, fakir, miskin, kaum kerabat, anak yatim, musafir, peminta-minta, dan hamba sahaya. Baik dalam bentuk zakat, sedekah, infaq, maupun hadiah.
Bahkan, Allah menganggap orang itu mendustakan agama hanya karena dia menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (QS. Al-Ma’un: 1-3).
Al Hasan berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Perbanyaklah kenalan orang-orang fakir miskin dan berbudilah kepada mereka karena mereka kelak akan mendapat kekuasaan." Sahabat bertanya: "Apakah kekuasaan mereka, ya Rasulullah?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Bila tiba hari kiamat maka dikatakan kepada mereka: "Perhatikan siapa yang dahulu pernah memberimu makanan atau minuman seteguk atau pakaian sehelai baju, maka peganglah tangannya dan tuntunlah ke surga."
Secara khusus, Allah juga meminta Nabi untuk bersabar dalam berkumpul dengan kaum dhu’afa.
"Dan sabarkan dirimu berkumpul dengan orang-orang yang selalu berdoa kepada Tuhan pagi dan petang semata-mata kerana mengharap keridhoaanNYA." (QS. Al-Kahfi: 28)
Sebab turun ayat diatas adalah karena Uyainah bin Hishin Al Fazari tokoh Bani Fazarah masuk ketempat Nabi Muhammad s.a.w. sedang disitu ada Salman Al Faritsi, Shuhaib bin Sinan Arrumi dan Bilal Al Habasyi dan lain-lainnya dari kaum dhu’afaa dengan pakaian yang jelek dan berbau peluh mereka, maka Uyainah berkata: "Kami ini adalah bangsawan dan mempunyai harga diri, maka bila kami masuk kepadamu, maka keluarkan orang-orang itu sebab mereka mengganggu kami dengan bau dan berilah kepada kami waktu sendiri duduk bersamamu." Maka Allah s.w.t. melarang Nabi Muhammad s.a.w. mengusir mereka dan diperintahkan supaya sabar berkumpul dengan orang-orang yang tidak meninggalkan sholat lima waktu karena mengharap keridhoanNYA.
Abu Dzar r.a. berkata: "Saya dipesan oleh junjunganku Nabi Muhammad s.a.w. tujuh macam yang tidak sampai saya tinggalkan dan tidak akan saya tinggal semua itu yaitu:
- Saya dipesan supaya suka kepada orang-orang miskin dan mendekati mereka
- Saya dipesan supaya selalu melihat kepada orang-orang yang dibawahku dan tidak melihat pada orang-orang yang diatasku
- Saya dipesan supaya tetap menghubungi kaum kerabat meskipun mereka jauh dan memutuskan hubungan
- Saya dipesan supaya memperbanyakkan membaca: Laa haula walaa quwwata illa billahi, kerana itu sebagai perbendaharaan kebaikan atau tabungannya
- Saya dipesan supaya jangan minta apapun dari sesama manusia
- Saya dipesan supaya jangan takut didalam melaksanakan hukum Allah s.w.t. dari cela (ejekan) orang-orang yang mengejek
- Saya dipesan supaya selalu berkata benar meskipun pahit dan berat
Saudaraku, dengan mendekatkan diri kepada orang miskin ada banyak sekali hikmah yang dapat kita peroleh, dari sikap hidup mereka sehari-hari, dan dari doa serta keinginan yang senantiasa mereka panjatkan kepada Allah, sungguh...kita akan dapat merasakan dan ’melihat’ bagaimana Allah bekerja. Subhanallah.
"Semua yang ada di langit dan bumi selalu memohon kepadaNYA. Setiap hari Dia berada dalam kesibukan." (
QS. Ar-Rahman: 29
).
Jadilah perpanjangan ’tangan’ Allah, buktikan kepada setiap yang sudah berdoa dan beriman kepada Allah swt, bahwa Allah telah dan akan menjawab segala doa mereka...melalui tangan kita. Bahwa Allah benar-benar ada. Sungguh indah tak terkira. Alhamdulillah.
Wallahu alam
(read more ...)Jan
26
Dikisahkan, segala burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang berkumpul. Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di antara mereka ada yang berkata, Rasanya tak mungkin negeri dunia ini tidak memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung-burung tanpa penguasa! Jadi, kita semua memiliki Raja, ya, Raja."
Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang berteriak, "Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari seorang raja untuk kita semua; karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik, tanpa seorang raja. Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk memecahkan persoalan. Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa percaya diri, tampil ke depan dan menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang tinggi. Dan jambul di kepalanya tegak berdiri mahkota yang melambangkan keagungan dan kebenaran, dan dia juga memiliki pengetahuan luas tentang baik dan buruk.
“Burung-burung sekalian, kata Hudhud, “Kita mempunyai raja sejati, ia tinggal jauh di balik gunung-gunung Qaf. Ribuan daratan dan lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnya. Namanya Simurgh. Aku kenal raja itu dengan baik. Setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh burung Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin sekali secepatnya pergi menghadap sang Maharaja Simurg. Namun, burung Hudhud menambahkan, bahwa perjalanan menuju istana Simurg tidak semudah yang dibayangkan, melainkan harus melewati ribuan rintangan dan guncangan dahsyat.
Mendengar hal ini, beberapa burung mengeluh,
Itik, "Aku sudah biasa hidup dalam kesucian, dan aku juga terbiasa berenang di tempat yang kering kerontang. Aku tidak mungkin hidup tanpa air," kilah Itik.
Begitu juga burung Garuda, "Saya sudah biasa hidup senang di gunung, bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkan tempatku yang menyenangkan", alasan Garuda.
Kemudian disusul burung Gelatik, "Aku hanya seekor burung kecil, dan lemah, takkan mungkin sanggup ikut mengembara sejauh itu," kata burung Gelatik.
Lantas burung Elang ikut menyahut, "Semua orang sudah tahu kedudukanku yang tinggi ini, maka tidak mungkin aku meninggalkan tempat dan kedudukan yang mulia ini, " kata burung Elang.
Setelah pembicaraan yang panjang, mereka pun sepakat untuk mencoba dan berangkat menuju istana Simurg. Perjalanan panjang telah dimulai, perbekalan telah disiapkan. Burung Hudhud yang didaulat menjadi pemimpin mereka telah mengatur persiapan, dengan membagi rombongan menjadi beberapa kelompok. Setelah perjalanan cukup lama menembus lorong-lorong waktu, kegelisahan mulai datang menimpa mereka. "Mengapa perjalanan sudah lama dan jauh, kok tidak sampai-sampai?" guman mereka di dalam hati. Mulailah mereka dihinggapi rasa malas karena menganggap perjalanan terlalu lama, mereka bosan karena tidak lekas sampai. Perasaan mereka diliputi keraguan dan kebimbangan. kemudian sebagian burung ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.
Selama perjalanan, tidak sedikit aral melintang, terpaan angin yang kencang telah merontokkan bulu-bulu indah mereka, kegagahan burung perkasa pun mulai pudar. Tidak ada lagi kedudukan dan kewibawaan, badan mereka kurus kering. Semua kebanggaan yang dulu disandang telah hilang tak bersisa.
Pada akhirnya Cuma sedikit dari mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia dimana Simurg membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, tinggal 30 ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang istana Simurgh. Namun kondisi mereka sangat memprihatinkan, tampak gurat-gurat kelelahan di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh mereka rontok tak bersisa. Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar belakang berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama, yaitu dalam kondisi telanjang bulat dan lepas.
Kemudian di depan gerbang istana mereka beristirahat sejenak sambil mengatur nafas. Tiba-tiba datang penjaga istana menghampiri mereka, "Apa tujuan kalian susah payah datang ke istana Simurgh?" kata penjaga istana. Serentak mereka menjawab, "Saya datang untuk menghadap Maharaja Simurg, berilah kami kesempatan untuk bertemu dengannya."
Lalu mereka masuk secara bersama-sama. Kemudian terbukalah kelambu hijab satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka terbelalak memandang keindahan yang amat mempesona, keindahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang dijumpai adalah wujud dirinya. Burung-burung pun saling bertanya dan terkagum-kagum, "Lho kok aku sudah ada disini?" begitu guman mereka dalam hati. Seolah-olah mereka berada di depan cermin sehingga yang ada adalah wujud dirinya. Maka datanglah suara lembut menjawabnya, "Mahligai Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai pada mahligai ini, tidak akan melihat wujud selain wujud diri sendiri. Perjumpaan ini di luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, namun hanya dapat dirasakan dengan rasa. Karena itu, engkau harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi sosok pribadi Insan Kamil."
Akhirnya, mereka memahami hakikat dirinya, setelah melewati tahapan fana� billah hingga mencapai puncak baqa� billah. Maka hilanglah sifat-sifat kehambaan dan kekal dalam ketuhanan.
Ditulis oleh Faridu’Din Attar, lahir pada tahun 1120 Masehi, dekat Nisyapur di Persia Barat Laut dan meninggal pada tahun 1230.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berlatihlah untuk menghadapi saat itu, dengan sholat. Sholatlah dengan kepasrahan total kepada Allah, bertemu Allah dengan khusyu�. Insya Allah.
Rasulullah SAW telah menyebut bahwa ash-shalatu mi�rajul mu�minin (shalat itu mi�rajnya orang-orang Mukmin).
Wallahu alam
(read more ...)


