

Nov
08
Pada surat An Nisa: 34, kata rijal(laki-laki) dikaitkan dengan nisa(perempuan). Kata nisa dapat dikonotasikan sebagai feminin dan lemah lembut, sementara rijal bisa juga bermakna orang yang berjalan kaki (ya'tuka rijalan) - Al Baqarah: 239 dan Al Hajj: 27. Disini bisa ditarik kesimpulan bahwa rijal juga memiliki makna sosiologis bahwa laki - laki itu adalah manusia yang berjalan/bergerak, orang yang berusaha di ruang publik. Sedangkan perempuan adalah manusia yang tinggal di rumah.
Maka, jika ada perempuan yang lebih aktif(bergerak), maka dia menjadi rijal secara sosiologis. Sedangkan, laki-laki yang berada dirumah, maka secara sosiologis ia menjadi nisa. Pemahaman lebih lanjut, secara sosiologis siapapun yang mampu (baik laki-laki ataupun perempuan) berupaya menjadi penopang atau pengayom keluarga karena punya kelebihan, maka dia adalah rijal, meskipun secara biologis dia tetap laki-laki atau perempuan.
Di Indonesia, kita mengenal istilah "menapakkan kaki" dan "angkat kaki", maka "berjalan kaki" boleh jadi ada hubungannya dengan kemampuan memimpin, terlepas dari dia itu laki-laki atau perempuan secara biologis.
Oleh: Zaitunah Subhan - Penulis buku Perempuan dan politik dalam Islam.
Rumi mengatakan bahwa "pria" adalah seseorang yang aql dan ruh-nya mendominasi nafsnya, apapun jenis kelamin biologisnya. Sedangkan, "wanita" adalah seseorang yang aql dan ruh-nya ditaklukkan oleh dominasi negatif nafs, ketika langit telah dikuasai semena-mena oleh bumi yang "memberat"
0 Response to Rijal Dan Nisa
Leave a Reply


