Profile

Categories








Kalau kamu sayang sama Tuhan yang Maha Asyik, mestinya kan menjadikan dirimu sebagai eksekutor[1] kehendak Tuhan di dunia. Tuhan tidak langsung bersedekah ke orang-orang, melalui kalianlah Dia bersedekah. Bukankah kalian wakilnya? [2]



 



Masa sih kalau sudah gitu Tuhan tidak membalas cintamu? Tapi, Tuhan juga tidak akan membelai langsung rambutmu. Dia akan menyayangi dan mencintaimu melalui perantara “wakil”Nya juga. Semoga Tuhan berkenan untuk mempertemukan dirimu dengan orang-orang yang Dia pilihkan untukmu. Berdoalah.



 



Tapi jangan kebablasan! Jangan sampai rasa sayangmu pada “wakil” Tuhan itu melebihi rasa sayangmu pada Tuhan. Tuhan Maha Pencemburu[3]. Adakah dosa yang lebih besar daripada mencintai selain Tuhan? 



 



[dari tulisan Sudjiwo Tedjo - diedit seperlunya] 



 



----------------------- 



 



1.  Hadist Qudsi: ""Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku pun mencintainya. Bila Aku menciatainya maka jadilah Aku sebagai telinganya yang dia mendengar dengannya, mata yang dia melihat dengannya, tangan yang dia memegang sesuatu dengannya, dan kaki yang dia berjalan dengannya. (H.R. Al Bukhari)



 



2. "Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi”. (QS Al-Baqarah : 30) ; “Wahai Daud ! Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu sebagai seorang khalifah di bumi. Maka hukumilah manusia dengan haq. Dan janganlah memperturutkan hawa nafsu sehingga ia menyesatkan kamu dari jalan Allah”. (QS Shaad: 26)



 



3. "Rasulullah saw bersabda; "Wahai umat Muhammad! Demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah, melebihi kecemburuan seorang laki-laki atau wanita yang berzina. Wahai umat Muhammad! Demi Allah, seandainya kamu mengetahui apa yang saya ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis." (Shahih Muslim No.1499)





 


(read more ...)






Rasul saw berkata “Tiga hal yang dicintakan kepadaku di dunia ini dari duniamu, wanita, wewangian dan kenikmatan dalam sholat”. Beliau memulai dengan wanita dan mengakhirkan dengan sholat.



 



Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, maka … kecenderungan hati wanita terhadap pria adalah karena wanita tercipta dari tulang rusuknya. Ketika Hawa ‘diambil’ dari Adam, Tuhan mengisi ruang kosong itu(Adam) dengan keinginan terhadapnya(Hawa), sebab eksistensi tidak membiarkan suatu kekosongan.  Ketika kekosongan itu diisi dengan 'Hawa', Adam cenderung kepada Hawa, sebagaimana ia cenderung pada dirinya sendiri, sebab Hawa adalah bagian dari dirinya, dan Hawa cenderung terhadap Adam karena Adam adalah tempat asal konfigurasinya. Maka, cinta Hawa adalah cinta akan asalnya, sementara cinta Adam adalah cinta pada dirinya sendiri.



 



Ketika Allah berfirman “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya” (QS. As Shaad [38]: 72), Tuhan menerangkan, Diri-Nya memiliki kerinduan seperti kerinduan Adam kepada Hawa. Kenapa demikian? Karena ada ruh Allah yang bersemayam dalam tubuh manusia. (Dalam sebuah riwayat, Allah berfirman kepada Daud "Daud, seandainya manusia tahu betapa Aku merindukan mereka untuk kembali, dan betapa Aku bahagia saat mereka bertobat, mereka pasti beramai-ramai mendatangi-Ku dengan perasaan cinta. Daud, ini adalah rindu-Ku terhadap orang-orang yang mau berpikir saja, lantas bagaimana cinta-Ku kepada mereka yang datang menghadap-Ku?")



 



Jadi, kita memiliki 3 bagian yang tersusun, Allah, pria dan wanita. Manusia(ruh yang Allah tiupkan) rindu kepada Tuhannya yang merupakan asal mulanya, sebagaimana wanita rindu pada pria. Pahamilah.



 



------------------------------------------------



 



Ketika Rasul saw bersabda “Tiga hal yang dicintakan kepadaku di dunia ini dari duniamu, wanita, wewangian dan kenikmatan dalam sholat”.  Beliau mengatakan “dicintakan” bukan “aku cinta”, ini terjadi karena cinta Rasul adalah untuk Tuhannya. Cinta seperti ini, pada gilirannya akan membuat seorang pria mencintai istrinya, karena dia mencintai istrinya melalui cinta Allah atasnya, menurut pola cara Ilahi.



 



Jika laki-laki mengarungi kedalaman cinta wanita, maka dia akan menyaksikan Tuhan disana. Kecintaan terhadap perempuan tidak akan menyebabkan kemunduran dan kelemahan. Namun, jika seseorang mendekati wanita hanya karena hawa nafsu, dia tidak akan mengalami dorongan alamiah yang merupakan cinta Ilahi.



 



Bagaimanapun, sebagaimana semesta ini  tidak lain adalah berawal dariNya (seperti wanita berasal dari pria) maka pria dapat merenungkan keberadaan Allah pada wanita dan pada dirinya. Karena, pada wanita, pria dapat merenungkan penghambaan (saat menghamba kepada Allah, manusia dapat meneladani sikap seorang  istri dalam melayani dan mematuhi perintah suami) sekaligus penguasaan(saat menguasai, hendaknya manusia mampu meneladani Tuhan dalam mengelola alam semesta). Rasul bersabda “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku).”



 



Pada akhirnya, keindahan wanita dapat menjadi petunjuk inti dan terbaik untuk pria dalam mengenal jati dirinya, yang pada gilirannya untuk mengenal Tuhannya.



 



Rangkuman saya dari Fusus Al Hikam karya Ibnu Arabi (Hikmah Muhammad)


(read more ...)




Pada surat An Nisa: 34, kata rijal(laki-laki) dikaitkan dengan nisa(perempuan). Kata nisa dapat dikonotasikan sebagai feminin dan lemah lembut, sementara rijal bisa juga bermakna orang yang berjalan kaki (ya'tuka rijalan) - Al Baqarah: 239 dan Al Hajj: 27. Disini bisa ditarik kesimpulan bahwa rijal juga memiliki makna sosiologis bahwa laki - laki itu adalah manusia yang berjalan/bergerak, orang yang berusaha di ruang publik. Sedangkan perempuan adalah manusia yang tinggal di rumah.



 



Maka, jika ada perempuan yang lebih aktif(bergerak), maka dia menjadi rijal secara sosiologis. Sedangkan, laki-laki yang berada dirumah, maka secara sosiologis ia menjadi nisa. Pemahaman lebih lanjut, secara sosiologis siapapun yang mampu (baik laki-laki ataupun perempuan) berupaya menjadi penopang atau pengayom keluarga karena punya kelebihan, maka dia adalah rijal, meskipun secara biologis dia tetap laki-laki atau perempuan.



 



Di Indonesia, kita mengenal istilah "menapakkan kaki" dan "angkat kaki", maka "berjalan kaki" boleh jadi ada hubungannya dengan kemampuan memimpin, terlepas dari dia itu laki-laki atau perempuan secara biologis.



 



Oleh: Zaitunah Subhan - Penulis buku Perempuan dan politik dalam Islam.



 



Rumi mengatakan bahwa "pria" adalah seseorang yang aql dan ruh-nya mendominasi nafsnya, apapun jenis kelamin biologisnya. Sedangkan, "wanita" adalah seseorang yang aql dan ruh-nya ditaklukkan oleh dominasi negatif nafs, ketika langit telah dikuasai semena-mena oleh bumi yang "memberat"


(read more ...)